Category: Short Fiction


I marry the nights

“Hai kawan apa kabar?” Aku memandang orang itu lekat-lekat.

“Lama sekali tak dengar kabar darimu.”

“Sudah hampir dua tahun kurasa.”

“Kau bahagia?”

“Tapi kau membuatku menderita.” Air mataku jatuh tak tertahankan lagi.

“Kau tak ada disaat aku membutuhkanmu!”

“Kau tak disana saat aku ingin melihatmu!”

“Kau tak ada saat aku ingin membagi kebahagianku!”

“Kau hanya terdiam saat aku menceritakan kesedihanku.”

“Aku menyayangimu, memujamu, bahkan rela mati untukmu! Kenapa bukan aku yang meregang nyawa saat itu? Kenapa begitu tega mengambilmu?”

Aku menjatuhkan diri dihadapan pigura besar itu. Tempat dimana dia hanya menatapku dalam diam dan tanpa ekspresi. Kursi rodaku terdorong jauh.

“Seandainya kaki ini bisa menebusnya, akan kuserahkan semua. Jika butuh yang lain, aku akan memberikan semuanya. Hanya untukmu!”

Aku merambat naik meraih pigura itu dan merampasnya hingga terjatuh. Pecah. Menyebarkan serpihan kaca yang langsung melukai tanganku. Kupandang wajah itu lagi.

Wajah bersahaja seseorang yang selalu menemani hari-hariku. Ada kapanpun aku membutuhkannya.

Hingga kejadian naas menimpa kami. Tuhan memisahkan kami. Dia mengambil nyawanya sementara Dia hanya mengambil kakiku.

Tapi, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya disini. Diselimuti kegelapan ini, ingin terus merasakan kehadirannya.

Aku menikahi malam-malam yang telah kulalui.

Akhirnya aku sadar kalau aku hanya terpaku padanya. Masa lalu yang seharusnya sudah kulewatkan. Melangkah kedepan menatap jalan yang masih panjang, karena aku masih diberi kesempatan.

Tapi aku masih disini. Memilih mengurung diri dalam memori masa lalu.

“Lanjutkan hidupmu, aku akan selalu bersamamu. Entah di mana tapi kau adalah tempatku pulang.”

Aku tersenyum. Senyum pertama setelah aku memutuskan untuk menikahi kegelapan ini. Senyum bak secercah cahaya.

Posted from WordPress for Android

Bidadari

Teriknya hari ini begitu membuatku kering.

Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Kutinggalkan semua kemewahan, kesenangan, kekuatan.

aku hanya bergantung pada kakiku.

Mengejarnya, menyusulnya.

Pengorbanan terbesar selama hidupku.

Keegoisan, kedigdayaan, kesombongan runtuh.

Hanya karena satu tatapan matanya. Mata biru cemerlang yang terus menghinaku.

Menghina semua sifat jumawaku.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa tunduk olehnya.

“Kalau kau memang menginginkanku, kau harus jadi manusia. Seutuhnya.” ujarnya hanya dalam tatapan tajam.

Kulakukan apapun untuknya. Aku terus berjalan untuk mengejarnya. Pakaian seadanya, sudah basah, sekarang kering di badan. Tapi aku tak tahu seberapa lama lagi aku bertahan. Tak ada air, tak ada makanan, hanya dia yang menghias relung kalbuku.

Aku roboh, aku kalah. Aku menatap nanar. Aku pun terbaring diantara panasnya padang tandus dan lentera perkasa di angkasa, menutup mata.

****

Sejuk sekali. Kesejukan yang sangat kuidam-idamkan. Dimanakah aku?

Kubuka mataku dan kutatap dia. Mata biru yang kurindukan itu. Sekarang bukan tatapan kejam dingin menusuk. Tapi tatapan teduh menenangkan hati.

“Aku sudah manusia, seperti yang kau mau,” dengan sisa tenaga aku berbisik.

“Sudah siap meninggalkan semua ini? Sudah bisa mengikhlaskan duniamu yang fana?”

Aku mengangguk pelan dan sang mata biru mendekatiku. Kurasakan pelukannya yang hangat dan nyaman. Kututup pandanganku dan aku tenang. Aku terbebas dari semua beban.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers