Category: Short Stories Compilation


Hmmmm kayanya lagi ada ide buat bikin cerita baru tapi diawali dari mana ya? Hmmmm dari puisi dulu deh…

Dita PoV

Kamu…
Mungkin buatku, kau yang terindah
Pertemuan tak terduga
Kau menyebalkan
Kau dengan ketidak pedulianmu
Kau yang hitam tapi manis
Bulan hijau dan matahari merah terlukis pada bahumu

Entah aku kadang benci
Tapi aku selalu merindukanmu
Aku kadang sebal
Tapi rasa itu yang membuatku senang

Aku menginginkanmu
Lebih dari sekedar teman
Aku menyayangimu
Tapi bukan sebagai saudara

Entah kau tahu apa yang kurasa
Entah kau menyadari apa yang kuinginkan
Entah kau mengerti arti tatapan yang kuberikan

Aku menyayangimu…. selalu, walau kau tak pernah tahu

Posted from WordPress for Android

I marry the nights

“Hai kawan apa kabar?” Aku memandang orang itu lekat-lekat.

“Lama sekali tak dengar kabar darimu.”

“Sudah hampir dua tahun kurasa.”

“Kau bahagia?”

“Tapi kau membuatku menderita.” Air mataku jatuh tak tertahankan lagi.

“Kau tak ada disaat aku membutuhkanmu!”

“Kau tak disana saat aku ingin melihatmu!”

“Kau tak ada saat aku ingin membagi kebahagianku!”

“Kau hanya terdiam saat aku menceritakan kesedihanku.”

“Aku menyayangimu, memujamu, bahkan rela mati untukmu! Kenapa bukan aku yang meregang nyawa saat itu? Kenapa begitu tega mengambilmu?”

Aku menjatuhkan diri dihadapan pigura besar itu. Tempat dimana dia hanya menatapku dalam diam dan tanpa ekspresi. Kursi rodaku terdorong jauh.

“Seandainya kaki ini bisa menebusnya, akan kuserahkan semua. Jika butuh yang lain, aku akan memberikan semuanya. Hanya untukmu!”

Aku merambat naik meraih pigura itu dan merampasnya hingga terjatuh. Pecah. Menyebarkan serpihan kaca yang langsung melukai tanganku. Kupandang wajah itu lagi.

Wajah bersahaja seseorang yang selalu menemani hari-hariku. Ada kapanpun aku membutuhkannya.

Hingga kejadian naas menimpa kami. Tuhan memisahkan kami. Dia mengambil nyawanya sementara Dia hanya mengambil kakiku.

Tapi, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya disini. Diselimuti kegelapan ini, ingin terus merasakan kehadirannya.

Aku menikahi malam-malam yang telah kulalui.

Akhirnya aku sadar kalau aku hanya terpaku padanya. Masa lalu yang seharusnya sudah kulewatkan. Melangkah kedepan menatap jalan yang masih panjang, karena aku masih diberi kesempatan.

Tapi aku masih disini. Memilih mengurung diri dalam memori masa lalu.

“Lanjutkan hidupmu, aku akan selalu bersamamu. Entah di mana tapi kau adalah tempatku pulang.”

Aku tersenyum. Senyum pertama setelah aku memutuskan untuk menikahi kegelapan ini. Senyum bak secercah cahaya.

Posted from WordPress for Android

Bidadari

Teriknya hari ini begitu membuatku kering.

Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Kutinggalkan semua kemewahan, kesenangan, kekuatan.

aku hanya bergantung pada kakiku.

Mengejarnya, menyusulnya.

Pengorbanan terbesar selama hidupku.

Keegoisan, kedigdayaan, kesombongan runtuh.

Hanya karena satu tatapan matanya. Mata biru cemerlang yang terus menghinaku.

Menghina semua sifat jumawaku.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa tunduk olehnya.

“Kalau kau memang menginginkanku, kau harus jadi manusia. Seutuhnya.” ujarnya hanya dalam tatapan tajam.

Kulakukan apapun untuknya. Aku terus berjalan untuk mengejarnya. Pakaian seadanya, sudah basah, sekarang kering di badan. Tapi aku tak tahu seberapa lama lagi aku bertahan. Tak ada air, tak ada makanan, hanya dia yang menghias relung kalbuku.

Aku roboh, aku kalah. Aku menatap nanar. Aku pun terbaring diantara panasnya padang tandus dan lentera perkasa di angkasa, menutup mata.

****

Sejuk sekali. Kesejukan yang sangat kuidam-idamkan. Dimanakah aku?

Kubuka mataku dan kutatap dia. Mata biru yang kurindukan itu. Sekarang bukan tatapan kejam dingin menusuk. Tapi tatapan teduh menenangkan hati.

“Aku sudah manusia, seperti yang kau mau,” dengan sisa tenaga aku berbisik.

“Sudah siap meninggalkan semua ini? Sudah bisa mengikhlaskan duniamu yang fana?”

Aku mengangguk pelan dan sang mata biru mendekatiku. Kurasakan pelukannya yang hangat dan nyaman. Kututup pandanganku dan aku tenang. Aku terbebas dari semua beban.

Ali Ali

PART 1

Aku. Bentukku indah dan menarik perhatian. Aku dibuat dari bahan terpilih yang sangat mahal harganya. Banyak orang yang melihatku menginginkanku tapi pembuatku tak mengijinkan siapapun mengambilku, karena aku dibuat secara khusus. Laki-laki paruh baya berwajah keras tapi sabar itu menyelesaikan pembuatanku dalam waktu tiga hari saja. Walaupun sudah sempurna menurutnya tapi beliau sering memperhatikan detail yang diberikannya pada sentuhan terakhir “Maya”.

3 April 2009, pagi itu aku mendengar suara ribut-ribut yang membangunkanku dari tidurku bersama teman-temanku. Saat kubuka mataku, tampaklah dua orang pria dan wanita sedang berbincang dengan pembuatku. Mereka sangat akrab dan tak jarang melempar candaan.

Sang pria, berusia 25 tahun dengan perawakan kurus, muka pucat dan kulit coklat gelap. Matanya menatap tajam dan tak ada sedikitpun senyum dari bibirnya. Sementara sang wanita merupakan pandangan kontras. Berusia kira-kira 24 tahun, berkulit putih mulus, bermata biru cemerlang dan rambut merah panjang. Dia sangat cantik, apalagi bila tersenyum.

“Jadi pesanannya sudah ada pak?” tanya si pria.

 

“Iya pak, kami ingin lihat bagaimana jadinya,” tambah si wanita.

 

“Sesuai pesanan kan pak?” tanya si pria lagi penuh selidik.

 

“Jangan khawatir, saya jamin adik berdua tidak bakal kecewa,” kata pembuatku lalu mengangkat tubuhku dan disodorkan pada si pria.

 

Keduanya memandangku dengan penuh perhatian. Mata si pria menusuk hingga setiap inci kulitku. Dia mencari cacat yang bisa saja tampak, namun tak berhasil menemukannya. Sementara si wanita memandangku dengan hangat dan tak jarang mengelusku, membuatku agak sedikit geli.

 

“Lihat sayang, yang ini malah jauh lebih indah dari yang kita inginkan,” kata si wanita.

 

“Hasil karya yang sempurna pak,” kata si pria. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum tulus.

 

Pembuatku tersenyum pada kedua tamunya. Bukan main senang hatinya melihat hasil karyanya dijunjung tinggi, diberikan pujian bahkan penghargaan. Tapi sesungguhnya, beliau tak memikirkan hal itu. Yang dilakukannya selama ini adalah hidupnya, jadi tak akan pernah terpisahkan darinya. Setidaknya itulah yang kurasakan sebagai salah satu kreasi terbaiknya.

PART 2

 

Dalam kegelapan tubuhku terguncang. Suara mesin dan berbagai teriakan, celotehan, tawa terbahak begitu memekakkan telingaku. Pembuatku membawaku pergi, jauh dari teman-temanku. Di dalam peti kecil yang gelap beliau memasukkan tubuhku dan menyimpan peti itu di tempat yang aman.

Tak lama suara bising itu menghilang, sebagai gantinya alunan musik Jawa yang indah nan syahdu menggelitik telingaku. Semakin lama semakin kurasakan bahwa kami memasuki alunan musik tersebut. Dan lagi lagi, mulai kudengar celotehan orang-orang. Dan ku kenali juga dua suara yang tiga bulan lalu pernah singgah.

 

“Bapak!! Sungguh senang bapak datang tepat waktu,” kata si wanita.

 

“Ini acara adik berdua, dan pasti sangat penting, saya tidak ingin terlambat. Adik tampak cantik sekali hari ini, tentu adik Radhu juga tampan,” jawab pembuatku.

 

“Bapak adalah tamu kehormatan kami di acara ini,” kata si pria.

 

“Baiklah, ini sesuai yang dijanjikan,” pembuatku mengangkat peti kecilku dan memberikannya pada si pria. “Tolong dijaga baik-baik.”

 

Lalu tabir kegelapan yang menutupiku selama ini terbuka. Sungguh menyilaukan mata. Semuanya tampak begitu terang. Kutatap kedua orang di hadapanku, mereka bak pangeran dan putri dari negeri dongeng. Pakaian putih, dekorasi tempat seluruhnya putih, terasa bersih, indah dan syahdu.

Dan si pria, Radhu, memasangkanku pada si wanita, Maya. Aura kebahagian dan rasa cinta yang mendalam antara keduanya mengalir pada diriku. Aku merasakannya. Hidup baruku akan segera dimulai.

PART 3

“Oooooooo, caught in a Bad Romance…” Itulah sepenggal lagu yang selalu Radhu dan Maya dengarkan setiap pagi hari. Hari ini, tepat dua tahun sudah aku hidup bersama pemilik baruku. Pasangan serasi yang romantis tapi gila. Gila dalam artian yang positif karena keduanya tak berhenti bercanda hingga sakit perut akibat terlalu banyak tertawa. Aku senang, aku turut tertawa, walaupun hanya aku yang bisa mendengar suaraku sendiri.

Hari-hari dalam kehidupan bersama mereka di warnai dengan berbagai cerita. Baik cerita indah maupun cerita sedih penuh amarah.

Aku teringat saat mereka pindah ke rumah barunya yang walaupun sederhana tapi sangat nyaman. Mereka begitu ceria saat mendekor rumah itu. Radhu, menginginkan warna merah dalam rumah itu, sementara Maya, mau kalau rumahnya di cat biru langit. Berdebat dan berdebat, mereka setuju untuk membagi warna rumah mereka sesuai keinginan.

Lalu saat mendengar bahwa Radhu di promosikan di pekerjaan utamanya, keduanya melewatkan malam dengan makan malam romantis di rumah sederhana mereka, dan hanya aku yang menjadi tamu-tak -diundang-yang-sudah-datang. Mereka berdua juga tak mempermasalahkan itu, karena keduanya sayang padaku. Radhu, sering dia meminjamku dari Maya dan membawaku kemanapun dia pergi. Dibalik kedinginan hatinya, dia adalah orang yang lembut tapi rapuh.

Tapi itu hanya segelintir cerita indah, selama aku tinggal bersama mereka, tak jarang terjadi adu mulut, pertengkaran, saling lempar dan banting. Aku, tubuhku pun tak jarang merasa kesakitan yang amat sangat. Beberapa luka juga sudah kumiliki, luka cacat yang mungkin tidak akan bisa sembuh. Tapi aku tidak marah, tidak bisa marah, dan tidak sanggup untuk marah.

Hingga pertengahan tahun ketiga, kehidupan mereka mendapat cobaan lagi. Maya menuntut Radhu meninggalkannya dengan alasan bahwa Radhu terlalu sibuk hingga melupakan kehadiran Maya. Radhu memohon maaf tapi Maya berlalu darinya. Sebelum meninggalkan rumah mereka, Maya mencabutku dan melemparkanku tepat ke wajah Radhu.

Radhu terdiam, lalu dengan tangan bergetar dia mengambilku dan berbisik pelan di telingaku.

 

“Ikutlah bersamaku kawan, hiburlah sakit hatiku ini,” katanya pelan.

 

Aku mengikutinya pergi. Dia membawaku ke sebuah tempat yang sangat indah. Gugusan gunung melingkar yang di dalamnya terdapat dua gunung berbeda warna dan bentuk dan di bawahnya terbentang lautan pasir yang sangat menantang untuk dijelajahi. Di belakang gugusan gunung tersebut tampak gunung tertinggi yang terus mengeluarkan asap, seakan berisyarat, dia bisa bangun kapan saja. Di sisi lain, di puncaknya yang tertinggi dari gugusan pegunungan ini, jika kita datang pada saat yang tepat, maka kita bisa melihat sebatas garis merah di langit yang akan terus naik ke atas dan memancarakan cahayanya yang hangat.

 

 

Bukan pertama kalinya aku dibawa kesini. Hampir setiap perjalanan aku selalu menemaninya. Tapi kali ini, suasana yang menyelimutinya sedang gelap. Radhu membawaku duduk di bukit dimana aku bisa memandang seluruh pemandangan memikat ini. Aku menyukainya, aku memujanya, aku bersyukur pada Pencipta Alam Semesta akan keindahan ini. Tapi Radhu tak berpikiran sama, wajahnya sedih.

PART 4

 

Dimana aku? Tempat ini begitu asing. Semuanya terang. Orang berpakaian serba putih baik laki-laki maupun perempuan berlalu lalang melihatku. Apa yang terjadi? Kenapa mereka begitu sibuk? Aku tak bisa mencerna semua ini, apa karena aku tak berotak? Atau karena bentukku tak serumit manusia? Yang kutahu adalah aku masih bersama pemilikku saat ini. Tapi ada apa dengan Radhu? Kenapa tubuhnya penuh luka? Kenapa dia terbaring tak berdaya?

Sekelebat peristiwa yang telah lalu muncul di hadapanku. Radhu yang berwajah sedih duduk bersila dan mengatakan sesuatu padaku.

 

“Katakan padaku kawan, apa yang harus kulakukan agar dia memaafkanku,” bisik Radhu.

 

“Mintalah maaf sekali lagi dari hatimu yang paling dalam, jangan diam,” sahutku.

 

“Dia tak menerima semua alasanku, aku tak tahu harus bagaimana,” bisik Radhu lagi.

 

“Kalau dia sayang pasti dia akan mengerti, kalian sudah bersama lama, hal ini tidak akan menghentikan apapun,” kataku.

 

“Haruskah aku melukai diriku agar dia percaya, atau… haruskah aku mati?” bisik Radhu lagi.

 

“Jangan bodoh Radhu, itu pikiran yang sempit!” sergahku.

 

“Kami memang terlalu muda, terlalu cepat mengambil keputusan, tapi tak ada gunanya menyesali hal itu kurasa,” bisik Radhu. “I want your love and I want your Revenge, you and me could write a Bad Romance, I want your love and now your love want’s Revenge, you and me could write a Bad Romance.”

Lalu Radhu berdiri. Senyumnya terkembang. Dengan mantap dia melangkahkan kakinya pergi. Aku tak bisa membaca apa yang dipikirkannya (lagi, karena keterbatasanku). Tapi aku tahu, Radhu akan menyelesaikan masalahnya. Dia harus menyelesaikannya. Dan semuanya terjadi begitu cepat. Radhu kehilangan kendali kendaraannya, jatuh ke dalam landaian jurang terjal, menabrak pohon terbesar, dan menggores ujung kulitku dengan kasar. Aku tak tahu sudah berapa lama hingga akhirnya aku disini, di dalam ruangan ini.

 

“Radhu, maafkan aku,” kudengar suara seseorang berbisik. Maya.

 

“Tolong lupakan kesalahannya Maya,” kataku.

 

“Maya… Maafkan salahku, aku tak bermaksud,” jawab Radhu dengan suara lemah. Walau matanya terpejam, dia masih mendengar.

 

“Ini semua karena keegoisanku, aku yang salah,” kata Maya. Dia menangis.

 

“Aku yang salah, aku tak pernah ada untukmu saat kau membutuhkanku,” sahut Radhu.

 

“Berhentilah saling menyalahkan, kalian semua tidak salah, hanya keadaan saja yang belum berpihak. Kembalilah seperti dulu,” ujarku.

 

Mereka berdua terdiam lama dan saling memandang. Lalu keduanya tersenyum dan kemudian tertawa. Mereka saling memegang tangan. Radhu dan Maya menatapku bersamaan. Sungguh malang nasibku. Bentukku sudah tak seindah dulu, warnaku juga sudah kelihatan usang. Walaupun aku dibuat dari material mahal tapi kedua orang ini menyiksaku, merusakku, melemparku kemana-mana, dengan diakhiri bahwa mereka selalu kebingungan mencariku saat aku memutuskan bersembunyi.

 

“Sayang, kurasa sudah waktunya kita membawa teman kita ini untuk di perbaiki,” kata Maya.

 

“Apa mungkin? Memang bisa?” tanya Radhu tak yakin.

 

“Aku percaya beliau sanggup, bagaimanapun, dia lahir dari tangan beliau,” kata Maya ceria.

 

“Kita coba saja ya,” kata Radhu penuh sayang. “Sekarang, maukah kau menyanyi bersamaku?”

 

“Tentu saja, lagu favorit kita bukan?” kata Maya.

 

Dan mereka berdua menyanyikannya. Lagu itu, lagu yang selalu mereka dendangkan kapanpun. Lagu yang juga mulai kusukai. Kadang kupikir betapa hebat penciptanya, lagu ini tak lekang oleh waktu. Lagu ini terus didengar dan diingat oleh keduanya.

Tiga minggu kemudian, dengan kondisinya yang sudah mulai pulih, ditemani Maya, Radhu membawaku ke tempat dimana aku dilahirkan. Aku rindu pada pembuatku, sebagaimana aku senang melihatnya saat beliau menyambut kami dari pintu rumahnya. Radhu menyerahkanku padanya. Beliau menatap dengan sedih tentang kondisiku, tapi berjanji akan mengembalikanku dalam kondisi yang lebih baik. Dan aku menjalani semuanya. Pembuatku dengan sepenuh hati mengobati semua lukaku, membuatku seperti baru lagi.

Ternyata pembuatku membuat kejutan. Sesosok yang mirip diriku dibuatnya. “Radhu” tulisan yang terdapat pada detail akhir. Beliau memberikan pasangan padaku. Aku senang sekali karena aku punya pendamping. Dan pada hari yang dijanjikan akhirnya Radhu dan Maya menjemputku. Mereka terkejut sekaligus senang karena mendapatkanku lagi, nilai lebih karena sekarang ada dua.

 

“Ini saya berikan sekalian karena yang dulu saya belum menemukan bahan yang sama,” kata pembuatku.

 

“Bapak, kami tak tahu bagaimana kami bisa berterima kasih,” kata Maya.

 

“Cuma satu saja yang saya minta,” kata pembuatku. “Jaga dan rawat kedua Cincin ini sebagai bagian dari diri kalian, karena mereka  yang meyatukan kalian. Mereka adalah pengingat kalau kalian terikat pada sebuah hubungan. Mereka adalah cerminan kehidupan bersama kalian, jadi, rawatlah baik-baik.”

 

“Kami berjanji pak,” kata Radhu dan Maya bersamaan.

Legenda Gulung Tikar

Alkisah di sebuah negeri antah berantah, hiduplah dua sepasang suami istri bernama Joko Rochim dan Roro Tia. Mereka sudah menikah sekitar dua belas tahun tapi belum dikaruniai deorang anak pun. Mengingat usia mereka yang terus bertambah, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Gunung Banyak demi menemui seorang Dukun Gaul (Cabul?) bernama Dukun Dito untuk menanyakan cara mendapatkan anak.

Keesokan paginya, dengan vespa favoritnya, mereka berdua melakukan dua jam perjalanan, diselingi beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun tiba. Rumah Dukun Dito terletak tak jauh dari sebuah sumur besar di bawah kaki Gunung Banyak. Rumah kecil berwarna merah yang sangat asri dan mungil. Begitu mereka mendekat ke pintu terdengar alunan musik aneh disertai suara seorang wanita entah dari mana.

“Terima kasih sudah datang dan menggunakan layanan Dukun Dito, sumpah!!! keren beeuuuudddhh!!!!!” Joko Rochim dan Roro Tia mengalami “krik krik krik krik” moment selama sekitar sepuluh menit.

Keduanya lalu masuk kedalam rumah dan disambut oleh Dukun Dito yang sedang main-mainin Galaxy Mini nya. Suami istri ini langsung menceritakan permasalahan mereka dan sedikit curcol mengenai kriteria anak impian mereka. Mendadak Dukun Dito seperti kesurupan. Dia langsung menyalakan laptop dan mulai browsing sambil ngomel sendiri. Setelah sekitar sepuluh menit, akhirnya dia kembali ke kesadarannya dan mulai berbicara tentang ramalannya.

“Kalian akan punya seorang putri dimana dia adalah orang yang sangat populer nantinya, dan akan menimbulkan banyak prahara, saling bunuh, saling tusuk tapi akan mendapatkan obsesinya, caranya banyak-banyaklah berdoa pada Yang Kuasa. Dan satu lagi, hati-hati sama orang Middle Earth, mereka akan menyetrika sebelum memenggal, hohohohohoho,” Begitu isi ramalan Dukun Dito.

Joko Rochim dan Roro Tia meninggalkan Dukun Dito yang sedang tepuk kaki ga jelas ngunu dengan perasaan bahagia campur bingung campur nervous. Sesampai dirumah mereka segera melaksanakan pesan dari ramalan Dukun Dito. Alhasil setelah dua tahun menanti kembali, akhirnya mereka mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Dewi Cita.

Segera setelah dewasa Dewi Cita menjadi sangat populer terutama di dunia maya karena keaktifannya mencari jodoh, dan yang lebih dicarinya adalah pria-pria Middle Earth yang menurutnya sangat eksotis. Walaupun sering diingatkan kalau pria Middle Earth itu berbahaya, tapi Dewi Cita terus mencari. Hal lain yang membuatnya terkenal adalah, sifat dewasa dalam dirinya dan kepandaiannya dalam berbahasa asing (bukan Osing?). Dan saking terkenalnya, berita mengenai dirinya menyebar hingga kemana-mana.

Suatu hari datanglah seorang pangeran dari negeri Leuw bernama Prince Viz ke rumah Dewi Cita. Dengan geje, Dewi Cita mendadak tak bisa berkata apa-apa dan tak sanggup menatap mata Prince Viz. Memang Prince Viz itu tidak tampan, tapi ada sesuatu pada dirinya yang membuat Dewi Cita speechless. Apakah itu? Biarlah Dewi Cita yang tahu, hohohohoho.

Prince Viz mengutarakan maksud kedatangannya pada Joko Rochim dan Roro Tia dimana dia ingin mengajak Dewi Cita untuk melihat-lihat negerinya yang jauh disana. Langsung disetujui oleh kedua orang tuanya dengan harapan kalau inilah jodoh untuk anaknya, Dewi Cita langsung terkikik salah tingkah dan mengatakan kalau dia mau pergi bersama Prince Viz (Marry me please!!! pikir Dewi Cita).

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Prince Viz dan Dewi Cita pun berangkat menuju negara Leuw dengan berjalan kaki karena Dewi Cita ingin menguruskan badan dengan harapan setibanya di negeri Leuw dia bisa langsung pake bikini dan bergaya kayang di pantai. Sepanjang perjalanan mereka berdua terlibat pembicaraan seru dan sedikit menjurus. Prince Viz dan Dewi Cita akhirnya jatuh cinta satu sama lain, dan memutuskan untuk menikah segera setelah mereka tiba di negerinya Prince Viz.

Setelah tiga hari berjalan (Dewi Cita merasa pinggulnya sedikit mengecil sekarang), mereka tiba di sebuah air terjun besar dimana mereka memutuskan beristirahat sebentar. Sungguh momen sempurna karena mereka dikelilingi keindahan alam yang sangat bagus, air terjun besar yang berpelangi, pepohonan besar yang berkesan melindungi, aliran sungai segar yang enak untuk mandi. Tapi hal itu sesaat menghilang karena sebuah gangguan.

Tak jauh dari tempat mereka istirahat, muncullah seorang pria berkulit coklat eksotis dan bertubuh kurus tinggi (ya mendingan Prince Viz kemana-mana sih kalo soal perbandingan fisik, hehehehe) mendekati mereka berdua. Dia memperkenalkan dirinya bernama Pangeran Ma’ul dari negeri Belimbing dan berniat untuk melamar Dewi Cita. Si Dewi Cita sendiri sempat tergoda oleh Pangeran Ma’ul tapi langsung tersadar karena dia sudah bisa membedakan mana obsesi, mana modus. Dia juga akhirnya sadar kalau Pangeran Ma’ul ternyata brondong. Prince Viz dengan gagah berani langsung maju ke depan Pangeran Ma’ul dan mengatakan bahwa Dewi Cita adalah miliknya, tapi di bleyer oleh Pangeran Ma’ul dan mereka terlibat pertarungan pedang. Sebelum bertarung, Prince Viz meminta Dewi Cita bersembunyi di dalam air terjun dan tidak keluar sebelum Prince vIZ menjemputnya.

Tring tring tring, crack, crrring crring…. suara pedang beradu ditambah beberapa kilatan cahaya dari luar membuat Dewi Cita ketakutan dan menyembunyikan wajahnya dan menutupi telinganya supaya dia tidak mendengar apa-apa lagi. Pertarungan mereka terjadi dua hari dua malam dimana beberapa kali mereka berhenti untuk makan siang, makan malam, dan pergi ke toilet emergency (pohon yang malang -_-’) lalu dilanjutkan kembali. Hingga akhirnya, tak ada suara lagi yang terdengar dari pertarungan mereka. Penasaran, Dewi Cita memutuskan keluar dari air terjun dan melihat. Pemandangan yang sangat mengerikan. Kedua pria yang memperebutkan Dewi Cita tersebut terkapar di tanah dengan memegang dua bendera, di tangan kanan adalah bendera putih tanda damai, dan di tangan kiri bertuliskan Game Over.

Hal ini membuat Dewi Cita sedih, Prince Viz sebagai obsesinya (kadang-kadang nggak ngaku), dan Pangeran Ma’ul sebagai brondong yang akan dimodus i nya kalau tidak ada Prince Viz sama-sama tewas dalam pertarungan memperbutkan dirinya. Tiga hari tiga malam Dewi Cita menangis dan memperbanyak ngemil dengan harapan bahwa tak ada pria yang akan mendekatinya (boong banget tapi, wkwkwk) dan membawa tubuh Prince Viz kedalam air terjun supaya tetap sejuk. Hingga suatu hari datanglah seorang pria asing lain ke air terjun itu.

Pria tidak terlalu tinggi, dengan wajah lucu, berpipi lebar kesamping dan selalu tersenyum lima jari, dan perut besar tapi empuk, memakai mahkota dari Polycarbone yang sebenarnya adalah sarung laptop di kepalanya, dia memandang Dewi Cita dan terpesona dengan ke bohai annya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai raja dari negeri jauh yang bahkan tidak ada di peta bernama Kaisar Mun. Dengan kelucuannya itu, Kaisar Mun berusaha membawa pulang Dewi Cita ke negerinya. Hati Dewi Cita luluh dan dia bersedia meninggalkan Prince Wes yang sudah tidak bernyawa, tapi disamping itu, seorang lagi bernama Lee Ann merupakan permaisuri Kaisar Mun memasang wajah suram serta tatapan sinis dan berkata dalam hatinya “hati-hati kamu, sesuatu yang buruk akan menimpamu!”

Dan ketiga pasangan bahagia ini (satunya mrengut) berjalan ke negeri milik Kaisar Mun, yang jauh sekali dan harus menjelajahi kedalam hutan belantara terpencil serta mendaki gunung lewati lembah. Hal ini dipergunakan Dewi Cita untuk menguruskan badannya lagi. Akhirnya mereka pun tiba di negeri milik Kaisar Mun yang agak terpencil itu. Permaisuri Lee Ann langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata apa-apa sementara sang Kaisar terus bercanda dengan Dewi Cita. Dalam hatinya, Dewi Cita menyesal ikut karena masih terbayang Prince Viz disana. Untuk pulang ke rumah orang tuanya, sudah tidak mungkin, kalau lanjut ke negeri Prince Viz juga tidak tahu jalan, mau ke Middle Earth juga takut tidak mau pulang, Dewi Cita benar-benar dalam dilema!

Suatu malam, saat Dewi Cita sedang duduk termenung di teras kamarnya sambil menatap langit-langit dengan perasaan hamsyong tidak karuan, muncul seseorang pendekar yang memakai tas punggung besar di hadapannya. Dia adalah Pendekar Dee, seorang pendekar yang mengatakan kalau dia sangat menggemari Kaisar Mun. Tentu saja Dewi Cita kaget bukan main karena dia berpikir kalau Permaisuri Lee Ann sedang khilaf karena mau dinikahi Kaisar Mun, ini lagi malah ada yang bilang kalau dia mengaguminya. Saat ditanya apa alasannya, Pendekar Dee bilang ingin sekali untuk menjawil pipi Kaisar Mun yang empuk empuk gimana gitu. Dewi Cita merasa aneh dengan hal ini.

Pendekar Dee menatap Dewi Cita melalui eye linernya dengan tajam, lalu tersenyum sadis, klop! Dia menawarkan kalau dia bisa membantu Dewi Cita membangkitkan Prince Viz lagi. Dewi Cita menatap tak percaya tapi sangat tergoda dengan tawaran itu. Bagaimana caranya, dia bertanya pada Pendekar Dee. Dan kembali Pendekar Dee menatap dengan senyum sadis dan berkata kalau mereka bisa minta tolong Dukun Dito di Gunung Banyak. Tanpa pikir panjang lagi, Dewi Cita menyetujuinya, segera dia lari ke kamarnya dan mengambil beberapa pakaian, bersiap-siap untuk kabur. Karena sudah kurus, Dewi Cita bisa berlari cepat kedalam.

Tak disangka percakapan mereka didengarkan oleh Permaisuri Lee Ann dan adiknya Alehandro Jul. Mereka berdua langsung menghadang Dewi Cita dan pendekar Dee. Dengan simulasi ala Telenovela, Permaisuri Lee Ann dan Alehandro Jul menanyakan maksud hati  Pendekar Dee menculik Dewi Cita. Pendekar Dee menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi bersama rumus pajak tentang semua alasannya. Ternyata di masa lalu, Kaisar Mun pernah mencampakkannya, jadi sekarang dia ingin balas dendam. Kembali dengan simulasi telenovela, Permaisuri Lee Ann terharu mendengar ceritanya Pendekar Dee dan dia juga menawarkan kerjasama balas dendam pada si pipi tembem Kaisar Mun. Pendekar Dee setuju tapi dengan syarat bahwa dia harus mengantar Dewi Cita dulu menemui Dukun Dito. Kembali, kedua wanita ini melakukan perjalanan menuju ke Gunung Banyak.

Sesampai di Gunung Banyak, Pendekar Dee berpamitan pergi untuk kembali ke pedalaman dan membicarakan rencana balas dendam pada pipi Kaisar Mun bersama Permaisuri Lee Ann. Lalu secepat kilat dia menghilang. Dewi Cita akhirnya sendirian. Antara takut, bahagia, dan bingung bercampur jadi satu. Memberanikan diri dia melangkah masuk ke rumah Dukun Dito. Masih dengan salam penyambutan GeJe seperti bertahun-tahun lalu, dan momen “krik krik krik krik” yang dialami semua tamu, Dukun Dito mempersilahkan Dewi Cita masuk. Seakan mengingat sesuatu, akhirnya Dukun Dito mengenali Dewi Cita akan kedua orang tuanya, Joko Rochim dan Roro Tia. Dengan ramah Dukun Dito menanyakan alasan Dewi Cita menemuinya. Dewi Cita pun curhat pada Dukun Dito yang anehnya, masih semuda dulu (ga penting kurasa). Hingga akhirnya, dia bertanya apakah Dukun Dito bisa membangkitkan Prince Viz?

Berbekal ilmu kanuragan yang dipelajarinya bertahun-tahun lalu, Dukun Dito membaca mantra, “geje, modus, survive, alay, cek-in, update status, obsesi, obesitas, mimun mumun!” dan kuali di depannya meledak begitu hebat. Sambil meringis bahagia, dia mengatakan kalau Prince Viz sudah menunggu Dewi Cita di air terjun tempat mereka tinggal sementara. Dewi Cita langsung menangis terharu dan bergegas lari ke arah air terjun kenangannya itu sambil diteriaki oleh Dukun Dito kalau dia belum bayar.

Ternyata benar, Prince Viz sudah menunggunya di air terjun itu. Dengan memanggil namanya, disertai efek slow motion, Dewi Cita berlari ke pelukan Prince Viz. Keduanya melepas rindu dengan bernyanyi dan menari ala India (tum pase ae, kuli jarene, la la la la). Kecapekan sendiri, mereka berhenti dan duduk. Mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dan kesepakatannya adalah, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke negerinya Prince Viz dan menikah. Dengan pandangan penuh cinta dan obsesi, Dewi Cita mengikuti cintanya hingga akhir.

Tiga tahun kemudian, ditengah kedamaian dan ketentraman hidup mereka, Dewi Cita teringat kedua orang tuanya, dan mengatakan pada Prince Viz untuk menjemput mereka. Dengan kereta kencana (kereta express) mereka kembali ke desa Joko Rochim dan Roro Tia untuk menjemput mereka. Dan setelah berkumpul dengan keluarganya, hidup Dewi Cita terasa lengkap. Bahkan dia sudah melupakan obsesinya pada pria Middle Earth, hohoho.

Bagaimana dengan yang lainnya? Pangeran Ma’ul masih tetap Game Over. Permaisuri Lee Ann menguasai tahta dibantu adiknya Alehandro Jul. Kaisar Mun jadi tawanan abadi Pendekar Dee yang senantiasa menjawil pipi dan perutnya dengan ganas. Dan Dukun Dito, ramalannya sudah berjalan dengan benar selama ini, dan diketahui kalau dia dapat bocoran dari  Penulis tentang isi ramalan GeJe itu. Dia juga akhirnya hidup bahagia dengan pemilik suara reception yang selalu tersembunyi itu.

Untuk pembaca, terutama yang namanya disebut diatas, iki mek gawe beaksi aksi, timbang ora ono kegiatan sehari-hari (lyric by Soimah’s Song) jadi jangan terlalu offended yach, peace!!!

CAST

(IN ORDER OF APPEARANCE)

JOKO ROCHIM : ROCHIM EKA SAPUTRA

RORO TIA : TIA MEOW

DUKUN DITO : ADITYA DITO

DEWI CITA : CITA CITAN

PRINCE VIZ : UNCREDITTED

PANGERAN MA’UL : ALANS ACHMAD

KAISAR MUN : SLAMET JERMAN

PERMAISURI LEE ANN : LYAN CHRISTIE

PENDEKAR DEE : DINA HOLMES

ALEHANDRO JUL : ZULFIKAR RAHMAN

PENULIS : MYSELF

Balada 3 Hantu

Alkisah di kuburan X, pada suatu malam, Jeng Kun (Kuntilanak) dan Susi (suster ngesot) sedang berpatroli. Ekspresi keduanya sangat sulit ditebak. Bukan karena make up keduanya yang kurang sempurna, melainkan percampuran antara beberapa ekspresi natural mereka. Dan malam ini, seperti malam biasanya, kedua hantu ini memutari area kuburan untuk melewatkan malamyang sunyi sepi sendiri.

 

“Aduh Sus, cepetan dikit napa?” kata Jeng Kun sambil menoleh.

“Ya elah Jeng, sabar dikit dong, saya kan ngesot nih,” jawab Susi mempercepat esotannya.

“Lama deh, bisa-bisa tuh hantu baru di modus orang,” kata Jeng Kun meraih tangan Susi dan menariknya.

“Ya elah, ya ga segitunya kali Jeng, aduh eh pelan-pelan,” keluh Susi saat tangannya ditarik.

“Kamu lama sih, jangan-jangan waktu masih hidup kamu manja ya,” ejek Jeng Kun.

“Ya elah si Jeng, ya iyalah anak muda gitu loh,” jawab Susi cekikikan.

 

Samar-samar dari kejauhan terdengar alunan lagu tahun 70-an. Kedua hantu geje ini memandang sekeliling mencari. Tapi, bukannya dapat malah mereka mendapat pandangan dimana-mana banyak hantu sedang mojok. Cepat-cepat mereka meninggalkan tempat itu karena jengkel. Dan ketemulah asal suara itu. Ternyata hantu dukun berbaju hitam sedang duduk di depan pusaranya ditemani tape recorder butut dan speaker sub woofer. Didepannya terhambar beberapa tikar.

 

“Ya elah Pak RT, lagi ngapain?” tanya Susi saat mereka mendekat.

“Eh kamu Sus, Jeng. Ini nih nungguin warga tapi belum ada yang muncul,” kata si hantu Pak RT itu.

“Emang ada apaan Pak RT? Ngomong-ngomong itu lagu apaan?” tanya Jeng Kun.

“Ini aku buat jadwal meeting darurat. Lagu? Ini lagu jaman aku masih hidup dulu Jeng, keren kan?” jawab Pak RT menggulung kumisnya.

“Ya elah Pak RT, kalau masang lagu begini mana ada warga yang mau datang, mereka keenakan mojok tau,” kata Susi.

“Ha, yang bener Sus? Emang apa salahnya sama lagu ini?” tanya Pak RT bingung.

“Ya salah lah pak, hantu sekarang gaul-gaul, mana ada yang tertarik sama lagu beginian?” celetuk Jeng Kun.

“Coba lagu yang anak muda sekarang suka pak, kayak gini nih, ooooo yu no mi suweeeeekk,” kata Susi lalu mulai berdansa dilantai dengan gerakan gaul ala Ababil.

“Widiiiiih gayamu keren Sus, lagunya ABG labil banget deh, coba yang ini aja pak, o babi-babi-babi-ooooouuuu, babon-babon-babon ooouuuu,” Jeng Kun mulai bernyanyi dengan gaya alay.

“Jiah, lagunya si Bibir ya Jeng? Amit-amit dah,” kata Susi langsung berhenti berdansa.

“Hus hus, udah nggak bakal pake dua-duanya. Versi kalian lagunya orang malah jadi rusak,” kata Pak RT disambut cemberutan keduanya.

 

Tak lama kemudian terdengar suara seseorang minta tolong dan mereka melihat di kejauhan sesosok pocong sedang melompat-lompat dengan gerakan cepat sekali. Si pocong aneh ini langsung berhenti di depan ketiga hantu lainnya. Dia tampak sedikit terengah-engah kecapekan.

 

“Ya elah Pece, ngapain toh kamu?” tanya Susi ikut-ikut panik.

“Ntar aja Sus, nggak liat muka ane kaya gini, Jeng tolong lap in dong, tangan ane nyangkut,” kata si Pece maju sedikit.

“Kamu buat ulah apa lagi Ce? Gelandangan mana lagi yang kamu godain? Kerenan dikit kek, orang kaya di komplek kan banyak,” kata Pak RT sementara Jeng Kun mengelap keringat si Pece.

“Boro-boro gelandangan Pak, ini dapetnya malah orang gila,” jawab Pece.

“Lah, kok aneh?” tanya Jeng Kun.

“Ceritanya, ane lagi mau gangguin tuh orang pas lagi duduk, ternyata pas liat ane, tuh orang teriak, ‘gulingku-gulingku’ gitu, trus ane dikejar, gitu,” cerita si Pece dengan semangat 45.

“Ya elah Ce, nasibmu jelek amat ya, trus tuh orang mana?” tanya Susi.

“Auk, pas ane nembus pohon di sana ane denger suara “brug!!!” gitu, kayaknya tuh orang nabrak deh,” jawab Pece sambil meringis.

“Ini nih, manusia sekarang, bukannya takut ma kita sekarang malah ngerjain, ckckckckck,” tambah Pak RT sambil memilin kumisnya.

“Iya tau Pak, saya juga ngerasa begitu,” sambung Susi.

“Emang kenapa Sus?” tanya si Pece sambil membungkuk.

“Masak ya, kemaren waktu aku duduk-duduk dirumah Bu Parjo, sambil nelpon-nelpon gitu eh tiba-tiba ditarik kedalam sama orangnya. Aku dikira pembantunya yang ganjen itu, ya elah tau ga aku disuruh ngepel rumahnya sampe tiga kali, huuuh, menjatuhkan pasaran para suster ngesot,” gerutu Susi panjang lebar.

“Wah keren tuh Sus, gerakan ngepel sana sini sedikit-sedikit langsung goyang, jadi deh, Susi pelayan ngesot, huahahahahahahahaha,” kata si Pece menimbali dan tawa para hantu membahana.

“Mending kamu Sus, cuma suruh ngepel, la aku,” kata Jeng Kun yang sedari tadi terdiam saja.

“Kalo kamu kenapa Jeng?” tanya Pak RT.

“Tiga hari kemaren, ada truk lewat depan sini, ya kaya biasanya lah langsung ta gangguin, aku melayang turun terus berhenti diatasnya. Habis cekikikan kok ya aku ditembakin pake pistol air. Ternyata anak kecil-kecil baru pulang ngaji. Mana nembaknya banyak banget aku sampe kepereset trus jatuh, abis itu dilindes pula sama truk di belakangnya, kan sakit,” cerita Jeng Kun dengan nada dendam membara.

“Sudah-sudah, kalau begitu kita kudu ganti strategi kita nih, aha! kayaknya aku ada ide, sini-sini,” kata Pak RT lalu memberi kode pada tiga hantu untuk mendekat.

“He Pak RT!!! Ngapain ngomongin harga pasaran cabe yang lagi naek segala sih??” kata Susi setengah jam kemudian.

“Oh ya maaf maaf. Lagi konslet, hehehehehe. Jadi begini…,” kata Pak RT, dan mereka pun membahas percakapan penting.

 

Dan ketiga hantu menjalankan rencana yang sudah mereka susun di hari sebelumnya. Pak RT juga seperti biasa sudah menunggu laporan mereka di tempat, jam, posisi yang sama di keesokan harinya. Kali ini tidak ada tape dan speaker sub woofer. Pak RT bergaya joget anak muda yang terlihat cukup gaul dengan alunan lagu dangdut koprol yang keras sekali dari head setnya. Karena sudah tua, kadang-kadang beliau duduk sebentar dan tak lama lanjut bergoyang lagi. Beberapa hantu yang lewat tak jarang berhenti sejenak dan mengalami “The krik krik krik krik moments” lalu pergi sambil berpikir kalau Pak RT mereka sudah mulai tidak waras.

 

Tak lama kemudian, setelah bosan sendiri dan mulai sadar bahwa dia jadi bahan tontonan, Pak RT duduk manis di tempatnya, tapi tetap bergoyang (dua jempolnya). Sesaat kemudian ada pemandangan yang mengganggunya. Setelah dilihat ternyata Susi, tapi yang aneh adalah ngesotnya kok cepat sekali.

 

“Yoooooooo ma meeeen!!!!” sapa Susi sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah ke udara.

“BRUAK!!!” ternyata Susi duduk diatas papan skate dan lupa menghentikannya saat menyapa Pak RT, jadi papan itu terus maju dan menabrak pohon beringin samping pusara Pak RT.

“Ngapain kamu Sus?” tanya Pak RT setelah mengalami “The krik krik krik krik moment” juga.

“Eh Pak RT, biasalah, hehehehe,” jawab Susi ngesot mendekat sambil memegangi jidatnya.

“Gayamu naik papan skate Sus, kok nggak naik becak aja?” celetuk Pak RT.

“Ya elah Pak, susah kalo becak naiknya, manjat-manjat dulu,” jawab Susi merengut.

“Trus apa hasilnya hari ini?” tanya Pak RT.

“Ya ini pak, saya mikir gimana strateginya, kebetulan habis gaul sama anak skater saya diajakin maen. Seru loh pak, saya menang terus,” cerita Susi.

“La terus? Nakut-nakutin mereka nggak?” tanya Pak RT.

“Ummmmm, ya itu pak, aku lupa, keenakan maen,” jawa Susi polos sambil cengar-cengir.

“Lah, trus omongan kemaren soal rencana demonstrasi Presiden Mesir itu ga jalan Sus?” tanya Pak RT sedikit emosi.

“Apa hubungannya toh? Hah Pak RT ini ndagel terus deh,” kata Susi setelah jatuh karena kaget. “Ya jalan pak, cuman aku lupa, besok kan masih bisa toh?”

“Awas besok lupa ya, tak githes kamu Sus,” kata Pak RT sangar.

 

Tak lama kemudian, mereka mendengar suara sepatu hak tinggi sedang mendekat dengan ritme tak beraturan diselingi alunan suara seorang wanita menyanyi dan terkikik sendiri. Mereka berdua celingukan kesana kemari mencari asal suara hingga mereka melihat seorang wanita berpakaian seksi warna biru berjalan terseok-seok mendekat. Ternyata itu Jeng Kun yang malam itu kelihatan cantik sekali, tapi tampak sedikit mabuk.

 

“Dasar kau *hics* kadal *hics* bin… *hics* …titt!!! Bin… *hics* …. titit *hics* hehehe *hics* hehe,” nyanyi Jeng Kun sambil berjalan pelan.

“Hadeeeeh, ini lagi ada setan mabok,” kata Pak RT menepuk jidatnya.

“Ooooiiii Pak RT *hics*, liat neh *hics*,” kata Jeng Kun lalu mulai nyanyi meracau sambil goyang ngebor saluran air.

“Jeng… gapapa kamu?” tanya Pak RT melotot.

“Eeeeh Pak RT dilap dulu hidungnya!!! Bisa mimisan gitu sih?” celetuk Susi sambil menyodorkan selembar tissue.

“Hadoh ini apalagi sih? Jeng duduk dulu, ngomong sambil duduk,” kata Pak RT mendadak semangat berdiri dan memegangi Jeng Kun.

“Eeeeh Pak RT, jangan modus dong,” celetuk Susi lagi.

“Apa sih Sus? Ikut-ikut aja, mending pikirin tuh masalah korban bencana alam,” kata Pak RT mendudukkan Jeng Kun.

“Eeeeh ya elaaaah, apa hubungannya coba?” celetuk Susi sambil melempar Pak RT dengan papan skate. “Geje kok dipiara Pak!!!”

 

Mereka menunggu hingga Jeng Kun sadar dengan cara menampar-nampar pipinya dan menyemburkan air kemukanya. Efektif. Jeng Kun sudah mulai sadar dan bisa bicara dengan normal lagi.

 

“Strategimu apa Jeng? Kok gitu?” tanya Pak RT.

“Iya nih Pak, saya pikir kalo saya ganti penampilan jadinya bisa bikin takut orang lebih gampang,” kata Jeng Kun sedih. “Nyatanya malah jadi begini.”

“Ya elah, kenapa Jeng?” tanya Susi ikut-ikut sedih.

“Aku dikira jablay!!!! Baru lewat di pasar langsung diajakin Om-Om botak ke acara dangdutan!!!!” kata Jeng Kun langsung berubah emosi. Susi dan Pak RT melompat mundur menjauh. “Loh? kalian kenapa?”

“Ya elah no what what Jeng, cuma kaget aja. Trus trus?” kata Susi bergaya rapper.

“Ya mau deh akhirnya, terpaksa sih, Om nya agak serem berewokan gitu, ternyata seru juga loh. Joget gaya apa aja bisa. Wenak tanteeee,” kata Jeng Kun kembali ngebor saluran air dan Pak RT kembali mimisan. Tanggap, Susi menyodorkan selembar tissue lagi.

“Kok bisa mabok?” tanya Susi.

“Iya Sus, pengen nyobain minuman keras. Jaman aku idup dulu, acara dangdutan mah kagak ada, adanya wayangan, dan minuman gitu ga ada, adanya malah teh manis, sekarang enak ya, manusia udah modern,” kenang Jeng Kun.

“Trus Jeng, ada yang takut?” tanya Pak RT langsung pada pokok permasalahan.

“Nggak Pak, mereka malah gantian minta nomer HP,” Jeng Kun ikut-ikutan nyengir kuda seperti Susi.

“LA TERUS????? Ini disuruh bikin strategi nakut-nakutin malah mabok, ck ck ck ck,” kata Pak RT membahana.

“Ya gimana Pak? Manusia sekarang aneh, udah ga percaya sama begituan sih, kita banting setir aja deh, ganti profesi,” celetuk Susi.

“Jadi apa Sus? Tetep jadi hantu mah title nya kita,” sambung Jeng Kun.

“Jualan nasi goreng pinggir makam asik kali ya? Ooooh ato gini aja, kita jadi marketing buat promosi kafling tanah makam plus fasilitasnya?” kata Susi setengah melompat.

“SUSI!!!! GEJE!!!!” teriak Jeng Kun dan Pak RT bersamaan.

“Ya elah, namanya juga ide, biasa aja dong, kagak usah mbleyer-mbleyer,” kata Susi berlindung pada papan skatenya.

“Oi kawan sejawat,” terdengar suara tidak asing dari belakang.

 

Ketiga hantu tampak bingung. Mereka celingukan sana sini hingga ada pemandangan mengganggu mendekat. Ternyata si Pece. Anehnya, dia menggunakan kain berwarna warni polkadot dengan dasi kupu-kupu berwarna kuning dan pita di atas kepala berwarna pink. Wajahnya tertutup celontengan make up dan tampak sedih, riweh, dan malu.

 

“APA???” seru tiga hantu bersamaan saat melihat si Pece. (efek kamera close up pada wajah ketiganya)

“Kok jadi aneh gini kamu Ce?” tanya Jeng Kun melihat keatas hingga bawah.

“Apalagi dah Jeng, idenya si Sari hantu salon sebelah tuh,  ane didandani begini,” kata Pece malu-malu.

“Cerita dong,” kata Susi.

“Gini, ane kan cerita sama dia soal ubah penampilan, lalu didandani begini deh, hasilnya, bukan malah nakutin orang, ane dikejar anak kecil-kecil pulang ngaji. Disangkanya permen ane nih,” cerita Pece sedih.

“Terus pada bilang apa Ce?” tanya Susi sambil sedikit-sedikit menjawil baju si Pece.

“Apa sih Sus?” kata Pece melompat menjauh sedikit dari Susi. “Mereka teriak-teriak bilang, ‘permennya berapaan bang? Kita borong dah!’, udah dibilang aku ini pocong malah ngakak, abis itu kejar-kejaran di lapangan futsal deh.”

“Haduh haduh, piye iki. Mana harga pecel sebelah udah naik, ga mau ngutangin dulu lagi,” kata Pak RT kemudian.

“PAK RT!!!! MIKIRNYA JAUH AMAT!!!!” kata tiga hantu lain.

 

Dan mereka berlarian (lompat + ngesot) mengejar Pak RT geje yang mendadak kabur. Intinya adalah: sudah bukan jamannya takut sama yang begituan, karena manusia sudah modern. Dan dari sisi hantu, mereka kudu belajar modern juga. Gaya-gaya dikit lah, hehehehehe.

 

Intermezo aja, no offense buat hantu diluar sana yang mendadak  baca postingan ini, ciiaaoooo… ^^

2nd Chance

Aku terbangun pagi ini seperti biasanya. Kubuka jendela kamarku dan kulihat pucatnya matahari pagi ini. Segera kuangkat tubuhku menuju kamar mandi. Kubasuh tubuhku dengan kesegaran air. Rasanya sejuk sekali tapi ada nyeri di tanganku. Apa ini? Sebuah luka bakar yang cukup besar. Bagaimana aku bisa mendapatkannya? Aku tidak bisa ingat sama sekali.

Seperti hari-hari kemarin, tak ada orang dirumah sejak pagi menjelang. Ayah dan Ibu sudah pergi mengejar obsesi mereka pada pekerjaan masing-masing. Kakakku juga sudah berangkat menuntut ilmu kedokterannya. Aku sendiri masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Sebagai anak paling kecil aku selalu dimanjakan orang tuaku. Tapi hanya dalam hal materi. Hampir-hampir tidak pernah kekurangan suatu apapun. Hanya saja, mereka jarang memperhatikanku, jarang ada jika aku perlu kasih sayang mereka karena terlalu larut dalam kesibukannya.

Kutengok meja makan. Biasanya sarapan pagi sudah tersedia walaupun aku tidak pernah menyentuhnya jika akan berangkat sekolah. Tapi ada sebuah aroma yang mengusikku. Wangi segar dari bunga beberapa kali mampir ke hidungku. Darimana asalnya? Mendadak aku teringat kalau aku akan berangkat sekolah. Masa bodoh dengan bau bunga. Kuambil tasku dengan malas dan menuju keluar rumah.

Hei? Ada orang asing berdiri di depan rumah. Seorang pria paruh baya yang tidak terlihat terlalu tua dengan wajah bersih bersinar, memakai setelan jas dan celana panjang putih sedang berdiri santai menatapku. Mungkin salah satu teman ayah, segera kuhampiri dia.

“Bapak mencari siapa?” tanyaku.

“Kamu…. Randi kan?” orang asing itu balas bertanya.

“Benar pak, kalau bapak nyari ayah, beliau sudah di kantor,” jawabku.

“Aku kesini mau jemput kamu, bukan ketemu ayahmu,” kata orang itu tanpa basa basi.

“Jemput saya? Mau kemana pak? Bapak ini siapa?” tanyaku penasaran.

“Tapi kamu belum siap, ketahuilah sebuah kebenaran dulu,” kata orang itu tak mendengarkanku.

“Maksud bapak apa? Saya tidak mengerti,” tanyaku semakin bingung.

“Pergilah, lakukan aktivitasmu seperti biasanya,” kata orang itu sambil memegang pundakku. Aku merasa merinding bukan main.

Sungguh orang yang aneh. Kulangkahkan kakiku kembali meninggalkan rumah. Ada rasa takut saat aku memandang matanya. Setelah berjarak agak jauh, kutoleh rumahku dan orang itu sudah tidak ada.
————————————————————————————————————

Hari ini adalah hari senin, hari paling kubenci dalam hidupku. Hari awal dari minggu penyiksaanku di dalam lingkungan sekolah. Aku benci sekolahku dengan segala peraturan konyolnya, kegalakan gurunya yang tak masuk akal, serta beberapa anak yang cari muka pada para guru dan kepala sekolah, terutama mereka anak berada yang acap kali ketahuan menyogok demi kenaikan kelas. Disamping itu tentang pelajaran yang diluar kemampuan otak kami anak SMA.

Semua tekanan ini hampir membuatku hilang akal. Hingga kuambil jalan sebagai anak nakal dan rusak. Sepanjang jalan ini aku mengingat semuanya. Awal aku membolos pelajaran, lalu pertama kali aku merokok di toilet sekolah, lalu saat mendapat oplosan alkohol yang membawa kami pada status mabuk berat sepulang sekolah, perkelahian antar geng di dalam dan luar sekolah untuk membuktikan diri. Dan khusus untukku pribadi, aku ingat jelas saat aku melakukan hubungan badan dengan dua gadis yang berbeda.

Sebagai anak yang rusak pun aku tetap tak mendapat terlalu banyak perhatian orang tuaku. Hanya kakak yang senantiasa dengan senang hati menghajarku habis-habisan jika mendengar kenakalanku dari pihak sekolah. Ini membuatku semakin membiasakan diri untuk jadi tertutup. Aku jadi orang yang jarang bersosialisasi dengan lingkungan (kecuali lingkungan nakalku), jadi susah untuk mengungkapkan apa yang kurasakan, jadi orang yang tidak peduli sekitar. Toh orang tuaku juga tidak pernah peduli, kenapa aku harus memikirkan mereka.
————————————————————————————————————-

Akhirnya aku memutuskan tidak akan kesekolah hari ini. Kulangkahkan kakiku kerumah kost sahabatku Arya. Rupanya hari ini dia juga tidak pergi ke sekolah. Kumasuki kamarnya dan kulihat Arya sedang duduk tegang di ujung ranjang. Dilihat dari pakaiannya, dia belum berganti dari apa yang dipakainya semalam, saat kami berdua sedang nongkrong. Eh? Sensasi apa ini? Kenapa aku tiba-tiba teringat sesuatu tapi tak jelas.

“Ar, mau kemana hari ini? Mumpung sama-sama bolos,” kataku seraya meletakkan tasku di kursi.

Aneh, Arya tidak menjawabku, bahkan mungkin tidak mendegarku.

“Arya, ada apa sih?” tanyaku lalu duduk di sampingnya.

“Kamu memang bodoh Ran,” kata Arya dengan suara bergetar tanpa memandangku.

“Aku bodoh? Apa maksudmu?” tanyaku tersinggung.

“Coba kamu tidak lompat ke dalam rumah itu, kamu tidak akan…” Arya tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Mukanya semakin memucat.

“Aku kenapa Ar? Lompat kemana? Aku disini tau!” tanyaku semakin tak mengerti. Kugoncang bahunya dengan keras, kurasa.

Arya menatap sekeliling. Dia tampak menjadi ketakutan. Bisa kurasakan bahwa seluruh tubuhnya merinding hebat. Tapi kenapa dia tidak menatapku? Apa dia sedang mempermainkan aku sebagai salah satu lawakannya?

“Temanmu tidak akan bisa mendengarmu,” kata sebuah suara dari arah pintu.

“Apa maksudnya itu?” tanyaku. Ternyata orang asing dari rumahku sedang berdiri disana.

“Dia juga tidak bisa melihatmu,” kata orang itu lagi.

“Bapak ini bicara apa? Tentu saja dia mendengarku, dia hanya mempermainkanku, benar-benar hebat kamu Ar,” kataku sedikit membentak pada kedua orang itu.

“Cepat ketahuilah ceritanya, supaya aku bisa segera membawamu,” kata orang itu lagi.

“Bapak ini mau bawa saya kemana? Saya tidak akan ikut!” kataku mulai emosi.

Tanpa ada kata-kata lagi, orang itu meninggalkan rumah kost Arya.

“Dasar orang gila! Ar, sudah dong! Jangan bercanda lagi!” teriakku pada Arya. Tapi sahabatku ini hanya terdiam saja. Dia tetap tidak menatapku.

Kuambil tasku dengan marah dan kupandang Arya untuk terakhir kalinya. Aku berbalik dan pergi. Sekarang aku tak tahu harus kemana. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Aku merasa ada yang salah dengan semua ini. Kemunculan orang aneh itu, lalu Arya yang mempermainkanku seperti ini, aku tetap berusaha berpikir semuanya masuk akal, karena aku masih waras, ya, aku tidak gila.
————————————————————————————————————-

Kakiku kembali menuntunku berjalan Kali ini aku sampai di tempat nongkrongku bersama Arya. Sebuah warung kopi kecil merangkap rumah pemiliknya. Tapi apa yang terjadi dengan tempat ini? Kemarin malam masih tidak apa-apa, kenapa sekarang hanya jadi sisa-sisanya saja? Bau bekas kebakaran masih tercium dengan aroma menyengat. Mungkinkah ini berhubungan dengan luka bakarku? Anehnya aku sama sekali tidak ingat.

“Sudah tahu ceritanya?” tanya suara yang sudah kukenal dari belakangku.

“Kau lagi? Apa sih sebenarnya maumu? Mengganggu anak SMA sepertiku? Kau mau merampokku atau apa? Seperti hantu saja tiba-tiba muncul dari mana saja,” kataku panjang lebar dalam emosi meluap-luap. Kemarahanku sudah sampai di titik puncak.

“Sudah kubilang dari awal kan, aku datang untuk menjemputmu,” jawab orang itu sambil tersenyum.

“Menjemput menjemput! Apa sih dari tadi hanya itu yang kau katakan? Kau mau menculikku ya? Buat apa? Rela atau tidak aku tidak akan pergi denganmu!” teriakku. Beberapa kali kutunjuk muka orang itu.

“Masihkah kau belum mengerti?” tanya orang itu lagi dengan santai.

“Mengerti apa? Kau sudah sangat menggangguku! Pergi! Tinggalkan aku sendiri!” aku berbalik dan lari menjauh sekuat tenaga.

“Kau mungkin bisa lari, tapi aku selalu menemukanmu,” kata orang itu. Aneh sekali, dia tak bergerak dari posisinya tapi suaranya begitu jelas seperti berbisik langsung di telingaku.

Kali ini aku tak peduli. Aku kembali berlari. Kemanapun yang jauh agar aku tidak bertemu orang gila ini lagi.
————————————————————————————————————-

Kuhentikan lariku. Dadaku mulai sesak. Kurasa aku sudah cukup jauh dari orang itu. Kulihat sekeliling dimana aku berhenti. Aku ada di pinggir jalan dekat sekolahku. Di sudut lain tampak beberapa murid sedang berkerumun di depan kios koran. Kuhampiri mereka dan aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.

“Aku nggak nyangka Randi bisa senekat itu,” kata salah seorang.

“Bisa juga anak itu berbuat mulia,” kata seorang lagi.

“Kukira yang di kepalanya cuma ada mabuk sama rokok aja,” tambah seorang lainnya.

“Itulah bro, jangan lihat orang dari luarnya,” kata seorang lain yang paling depan. “Harus diakui kalau Randi itu memang punya sesuatu yang lain.”

“Syukurlah dia masih hidup ya,” kata seorang di tengah.

“Err, diantara hidup dan mati, dia koma kan?” sahut teman sebelahnya.

“Udah ah, masuk yuk, hari ini quiz Matematika, tau kan gurunya agak geje,” kata seorang paling belakang lalu berlari masuk ke sekolah diikuti teman-temannya.

Koma? Aku? Bagaimana bisa? Aku kan ada disini. Aku sehat-sehat saja. Anak-anak itu bicara ngawur. Mereka mempermainkanku sebagaimana Arya. Tapi ini sudah keterlaluan. Aku mengalami koma? Yang benar saja. Sesuatu di rak koran paling atas menarik perhatianku. Apa? Namaku ada di dalamnya. Segera kudekati dan kubaca koran itu.

“Korban kebakaran semalam sekarang ini sedang terbaring koma di rumah sakit umum. Anak SMU Harapan bernama Randi Tohjaya mengalami luka parah dan memar di bagian kepala saat menyelamatkan anak pemilik warung kopi saat TKP mengalami kebakaran. Keluarga tidak meminta ganti rugi tapi menginginkan kasus ini di  usut hingga tuntas.”

Kakiku terasa lemas sekali. Aku tak bisa percaya dengan tulisan di koran ini. Aku masih menganggap ini semua sebagai bercandaan saja. Benar kan? Sekali lagi kutekankan pada pikiranku kalau aku masih hidup. Sehat segar bugar berdiri disini. Tapi berita itu tidak mungkin bohong. Hari ini memang tanggal 4 November.
Terlintas pemikiran aneh dalam otakku. Kudekati pemilik kios yang menatap bengong ke jalanan. Kubuat gerakan melambaikan tangan di depan mukanya. Tak ada reaksi apapun. Dia sama sekali tidak menatapku. Lalu aku beralih ke tukang bakso disebelahnya. Kujawil pundaknya tapi sama. Tak ada reaksi apapun. Ada apa dengan orang-orang ini? Badanku semakin lemas. Aku terduduk di trotoar. Pikiranku kacau, hingga ada sekelebat suara dari dalam hatiku mengatakan untuk pergi ke rumah sakit umum itu.
————————————————————————————————————-
Aku berdiri ketakutan saat aku sampai di depan rumah sakit umum. Bagaimana kalau orang di koran itu memang benar aku? Jadi aku yang sekarang ini hantu? Tapi aku harus tahu. Aku harus membuktikan kalau semua ini hanya akal-akalan untuk mempermainkanku.

“Akhirnya kau disini,” kata sebuah suara yang sekarang sudah tidak asing lagi.

“Kau ini adalah malaikat pencabut nyawa ya?” tanyaku. Bila dihubungkan dengan kemunculannya dan apa yang dikatakannya, orang ini akan membawaku ke akhirat kurasa.

“Mungkin, aku datang hanya untuk menjemputmu,” kata orang itu.

“Aku harus membuktikan padamu kalau kau salah,” jawabku. “Aku masih hidup dan sekarang ada disini.

“Maka masuklah dan lihat dengan mata kepalamu sendiri,” kata orang itu.

Dan aku melangkah kedalam rumah sakit. Tak sulit menemukan kamar mana yang dimaksud karena aku melihat ayah ibu dan kakakku ada di depan kamar ICU. Ayah dan kakak sedang menenangkan ibu yang menangis.

“Sudah Maya, semuanya akan baik-baik saja,” kata ayah.

“Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, maafkan aku yah, bu,” kata kakakku.

“Ini bukan salahmu nak, ini kesalahan kami sebagai orang tua yang tidak bisa mengerti apa kebutuhan anak. Kami terlalu terlena dalam kesibukan masing-masing,”

“Ini bukan saatnya saling menyalahkan bang, yang terpenting adalah Randi,” kata ibu dalam tangisnya.

Aku tak bisa percaya ini. Jadi semuanya bukan sekedar kebohongan. Aku memang sebuah roh saja saat sekarang. Bukan bahan bercanda mulai Arya, teman-teman sekolahku, tukang kios dan bakso bahkan orangtuaku. Aku ingin melihatnya, melihat tubuhku di dalam ruangan. Kumasuki ruangan kamar ICU dan kulihat diriku terbaring lemah di ranjang. Kudekati dan kupandang baik-baik. Mendadak semuanya berpendar. Seluruh ruangan berputar dan berubah warna putih. Lalu aku dapati diriku berdiri di depan suatu tempat.
————————————————————————————————————-
“Gila kamu Ran, bisa-bisanya kamu main sama Otla,” kata Arya sambil meminum kopi susunya.

“Iya dong, tau Ar, cewek satu ini beda sama yang lain. Dia mainnya agresif, aku kewalahan,” kataku santai.

“Ngehe’ kamu Ran! Udah ga usah cerita, bikin iri aja,” kata Arya yang kelihatan betul irinya.

“Hahahahahaha, ya udah ya udah,” kataku lagi.

“Silahkan nak, ini gorengannya,” kata ibu pemilik warung tiba-tiba. Ada anak perempuan kecil yang lucu mengikutinya.

“Wah repot-repot bu,” kata Arya sambil tersenyum.

“Buat langganan nggak apa-apa nak, eh ayo Mahisa tidur,” kata ibu warung pada anaknya.

“Iya kok belum bobok dek?” tanyaku memperhatikan anak itu. Lucu sekali.

“Belum ngantuk kak,” jawab Mahisa dengan suaranya yang imut-imut.

“Ayo tidur Hisa, kalo nggak besok kak Randi nggak datang lagi loh,” kata ibu warung.

“Iya bu, Hisa bobok, biar besok kak Randi datang lagi,” kata Mahisa lalu lari ke dalam rumah.

“Maaf ya nak, Mahisa ini susah tidur kalo malam,” kata ibu warung padaku.

“Iya bu, nggak apa-apa. Oh iya, kakaknya kemana bu?” tanyaku lagi.

“Anak pertama ibu kerja di Jakarta nak, makanya Mahisa sering kangen,” kata ibu warung lagi. “Ya sudah, dimakan gorengannya ya nak.”

Sesaat setelah ibu warung kembali kedalam, aku kembali ke percakapan seruku dengan Arya, sembari menikmati nikmatnya kopi dan sedotan rokok yang kami bawa. Lalu kami dikejutkan dengan suara keras motor dari jauh yang melintas sambil melemparkan sebuah benda yang terbakar. Benda itu menghantam tembok lalu pecah. Dengan cepat api semakin membesar. Seluruh warung panik. Mereka berlarian keluar, begitu juga ibu warung yang ditarik keluar oleh seorang pelanggannya walaupun sang ibu masih bersikeras masuk. Aku dan Arya juga bergegas meninggalkan warung. Hei? Aku tidak melihat Mahisa.

“Bu, Mahisa mana?” tanyaku pada ibu warung.

“Mahisa di dalam nak, ibu mau ambil tapi ditarik keluar,” kata ibu warung panik. Beliau mulai menangis.

Entah apa yang ada dibenakku. Kuserahkan tasku pada Arya dan aku lari kedalam kobaran api yang sekarang menyelimuti seluruh bangunan.

“Ran! Jangan gila kamu! Mau apa?” teriakan Arya tidak kugubris.

Aku terus masuk ke dalam dan mencari gadis kecil itu. Samar-samar aku mendengar suara tangisan. Kudekati arah suara dan aku melihat Mahisa duduk menutupi kepalanya.

“Mahisa, ayo sini ikut kakak,” kataku mendekatinya.

“Hisa takut kak, panas,” isak gadis kecil itu.

“Nggak apa-apa, kak Randi disini,” kataku menenangkannya dan akhirnya aku berhasil menggendongnya. “Jangan dilepas ya.”

Aku membawa Mahisa keluar dari kamar, dan usaha terakhirku untuk menuju keluar bangunan. Atap di atasku mulai roboh, beberapa balok berjatuhan dan mengenai tanganku. Tapi aku tak bisa melepaskan Mahisa. Aku terus berusaha keluar hingga sampai di pintu balok kayu jatuh lagi dan menghimpit kakiku. Panasnya bukan main. Aku tak bisa keluar dalam keadaan begini.

“Randi! Mahisanya ketemu nggak?” Arya berteriak dari luar bangunan.

“Ada, ini sama aku! Tapi aku nggak bisa keluar Ar, kakiku nyangkut. Tolong gendong Mahisa dan bawa ke ibunya,” jawabku.

Dengan cekatan aku menyerahkan Mahisa pada Arya dan sahabatku itu berlari menuju ke ibu warung. Aku lega sekali. Sekarang aku harus melepaskan kakiku dari himpitan ini. Kusingkirkan sedikit demi sedikit, yak tahan panasnya juga luka di tanganku begitu mengganggu. Mendadak sesuatu bergemuruh dari atasku. Saat kutoleh ke atas semuanya mendadak gelap.
————————————————————————————————————–
Aku dibawa kembali ke dalam ruangan kamar ICU. Si orang asing berpakaian putih sekarang berdiri di sampingku. Dia menatapku dengan tajam. Sebuah tatapan yang mungkin aku tahu maksudnya.

“Aku bisa terima sekarang, bawalah aku,” kataku sambil menunduk.

Orang itu terdiam lalu memegang pundakku. Kutatap wajahnya dan dia tersenyum.

“Berterima kasihlah pada Mahisa. Doa anak kecil itu yang tak pernah putus didengar oleh Penciptamu. Kesempatan kedua sudah kau dapatkan,” kata orang itu.

“Jadi, kau tidak akan membawaku kesana?” tanyaku. Semua beban berat di pundakku terasa sedikit ringan.

“Aku tidak akan membawamu sekarang, jadi manfaatkan kesempatan keduamu ini dengan sebaik-baiknya. Sekarang aku harus pergi, ingatlah! Kalau kau menyalahgunakannya, aku akan menjemputmu lebih cepat,” kata orang itu lalu berbalik dan pergi. Untuk pertama kalinya hari ini aku bisa tersenyum lagi. Kembali kupandang tubuhku di ranjang dan semuanya berpendar putih.

Beberapa hari kemudian aku tersadar dari koma. Dokter dengan senang memberitahukannya pada orang tua dan kakakku. Mereka juga tampak lega sekali. Sejak saat itu, tak sedetik pun mereka meninggalkanku sendiri terutama ibu. Aku jadi sedikit terkejut dengan perhatian mendadak ini, tapi senang karena mereka ada disini menemaniku. Arya juga sering mengunjungiku sejak aku terbangun. Banyak cerita yang dibawanya, begitu juga aku. Saat kuceritakan pengalamanku, dia hanya melongo saja. Tentu saja hal seperti ini susah dipercaya. Suatu hari Mahisa dan ibunya datang menjengukku. Bukan main senangnya aku bisa bertemu gadis kecil ini, apalagi kalau bukan karena kata si orang asing itu.

Hingga tiba waktuku untuk pulang, walaupun kondisiku belum sepenuhnya pulih tapi aku merasa sudah cukup sehat. Saat membantuku, kakak memberitahuku kalau pelaku pembakaran warung ibunya Mahisa sudah ditangkap, alasan kenapa dibakar karena motif hutang piutang. Aku senang mendengarnya, dan berharap semuanya baik-baik saja untuk mereka.

Tepat sebelum membuka pintu kamar aku merasakan seseorang sedang mengawasiku. Kutoleh dan kulihat orang asing itu berdiri di sudut ruangan. Masih dengan setelan jas putih dan celana putihnya. Wajahnya cerah dan memberiku senyum tulus. Kubalas senyuman itu dan aku melangkah keluar kamar, kembali ke kehidupan, kesempatan keduaku.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers