Category: Continous Story


PROLOGUE

THE DAY OF REBIRTH

Sebuah planet, dimana terletak di salah satu galaksi terbesar alam semesta sedang dalam kondisi memprihatinkan. Selain kekeringan abadi, di dalamnya hampir semua makhluk hidup mulai punah. Tinggal menunggu waktu hingga planet ini menghilang dari peredaran orbit. Suatu malam, sesuatu yang keras, besar, dan bercahaya melaju dengan kencang menuju planet. Sebuah meteor yang sangat besar menabrak permukaan planet dan mendarat di tengah lautan dengan suara memekakkan telinga. Kedatangannya mengundang perhatian dari sisa penghuni yang ada dan mereka berbondong-bondong mendekati benda asing tersebut. Tak ada reaksi, hingga beberapa saat kemudian benda itu mulai bergemuruh. Dari dalamnya muncul berbagai macam makhluk hidup. Di masa ini hingga seterusnya, mereka lah penghuni planet hingga akhir zaman. Selama tujuh hari kejadian ini berlangsung hingga benda itu mengecil dan tenggelam ke dalam lautan. Dalam kurun waktu hingga sepuluh ribu tahun planet ini kembali hijau dan mendapatkan kembali keindahannya. Semua makhluk yang hidup di dalamnya hidup dalam kedamaian dan senantiasa menjaga kelangsungan hidup rumah baru mereka itu. Hal ini dicatat sejarah dalam sebuah prasasti yang diberi nama berdasarkan nama yang diberikan pada benda asing itu, Diat Crede atau dalam bahasa kita disebut Cradle of Life.

THE WARS INSIDE

Disamping segala kenyamanan hidup yang sudah terjalin hingga saat ini, di dalam planet mulai muncul konflik-konflik. Bagaimana beberapa ras merasa superior, merasa paling hebat, menginginkan dirinya menjadi yang berkuasa atas alam semesta, saling menghancurkan, memberi teror dan memperebutkan kekuasaan. Perang. Itu adalah kata kuncinya. Dari semua perang yang tercatat dalam sejarah, mungkin perang antara ras spiritual GeneHva dengan Elven adalah perang terbesar dan menguras energi. GeneHva adalah ras yang bisa dikatakan nyaris sempurna, karena bisa hidup hingga jutaan tahun, dan tetap hidup walaupun tubuh fananya mati. Mereka arogan, sombong dan merendahkan ras yang lain. Tapi tidak semua GeneHva berpikir sama. Masih ada yang berpikir bahwa porsi mereka setara dengan ras lain di planet. Mereka juga punya keterbatasan. Adalah salah satu GeneHva bernama Odine mencetuskan ide untuk membuka diri dan berkomunikasi. Pada awalnya, yang menangkap sinyal komunikasi mereka adalah ras Elven dan hal itu disambut dengan baik. Usaha Odine ini ditentang oleh sekelompok GeneHva lain yang dipimpin oleh seorang bernama Haedus. Dia masih menganggap bahwa tidak sepatutnya ras “dewa” seperti GeneHva berkomunikasi dengan ras lain. Berbagai cara dilakukan untuk meyakinkan Haedus bahwa pemikirannya salah. Tapi dia tetap menentang dan mengancam akan memulai perang. Suatu masa, lahir empat orang manusia yang akhirnya diangkat sebagai perwakilan ras sempurna yang diharapkan menjadi jembatan perdamaian dunia. Manhya Edenoa, Naza Rheynox, Surien Dragnte, dan Elfaang Nagare adalah nama mereka dan mendapatkan julukan the Great Four Magician. Bersama mereka menghentikan semua peperangan di planet, dengan bantuan dari ras Elven dan GeneHva dibawah pimpinan Odine. Semua peperangan yang terjadi membuat planet dalam keadaan kritis. Banyaknya darah yang tumpah, korban yang bergelimpangan membuat planet serasa menangis. Kondisinya melemah, dan menginfeksi penghuninya. The Great Four Magician mencari sisa dari Diat Crede dan  mereka membuat sebuah Relic yang akan menopang kehidupan Planet, dengan harapan bahwa usaha terakhir mereka dengan menggunakan batu kehidupan itu bisa membantu. Mereka menamainya Nine Lives. Hasilnya, dengan keberadaan Relic itu, planet berangsur-angsur normal kembali.

Rupanya kehebatan Relic ini didengar oleh Haedus. Secara terang-terangan dia meminta Relic itu. Bahkan tak segan dia mengancam akan merebutnya dengan paksa. Tentu saja hal ini ditolak oleh semua pihak. Dan terjadilah, perang terbesar dalam sejarah untuk mempertahankan Nine Lives di sebuah daratan yang nantinya disebut daratan Maddickia. Dalam perang ini korban dari kedua belah pihak sangat banyak berjatuhan. Dan sebagai puncaknya Odine membuat sebuah segel dan mengurung Haedus di dalamnya. Sebelum tersedot masuk, Haedus bersumpah bahwa dia akan kembali lagi melalui ras sempurna dan akan menulis ulang sejarah. Odine melemparkan segel tersebut ke dunia bawah dan menguncinya.

THE CORE OF HISTORY

Kedamaian kembali terjalin. Sebagai pengingat atas semua peperangan yang terjadi dibangunlah sebuah kota besar di tempat jatuhnya Diat Crede. Kota itu berwujud gugusan batu besar yang dikelilingi delapan gugusan batu yang merupakan bagian dari kota utama. Dan di puncak kota utama ditanam sebuah pohon dari negeri Elven yang sangat besar dan mengalirkan energi positif kedalamnya.

Tempat ini juga merupakan tempat dimana Relic buatan the Great Four Magician disimpan. Oleh mereka, Relic ini ditempatkan di sebuah tempat dimana tidak ada orang atau satu makhlukpun yang bisa membukanya. Oleh Manhya, dia membuat pengecualian dimana menurut ramalannya hanya ada tiga orang yang bisa membukanya. Tiga orang yang penuh dengan cahaya. Semua berjalan lancar hingga beratus tahun dan kota itu semakin berkembang dengan pesatnya.

Di dalam penjaranya di dunia bawah, Haedus mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam dan meyusun tentara yang sangat banyak. Hingga suatu saat ada orang yang penasaran dan tidak sengaja membuka segel penjaranya setelah tidak sengaja menemukannya. Melalui tipu dayanya, Haedus berhasil keluar dari penjaranya dan berdiam didalam tubuh  orang itu. Sedikit demi sedikit dia mencari informasi keberadaan Nine lives dan terus berdiam untuk menanti saat yang tepat untuk keluar.

“Sudah bangun?” Det. Cita berjongkok disamping Det. Dito yang mulai membuka matanya. Kepalanya pusing sekali.

“Loooh? Kok aku bisa disini?”

“Kamu sih, dibilangin buruan pergi malah ngotot.”

“Mumpung disini, jadi sekalian aja.” Det. Dito memandang sekelilingnya lalu menatap Det. Cita sodarinya paling bohai itu. “Dirimu kok bisa ada disini sih?”

Det. Cita menghela nafas panjang. “Aku kan dapet kasus tuh, nah setelah ditelusuri aku menyamar jadi guru disini, tapi aku ketahuan.” Dia menghentak-hentakkan kaca bedaknya pelan. “Sejauh ini ada beberapa bukti yang aku temukan.”

“Dan?”

“Para brondong itu disembunyikan di gudang bawah tanah dibawah tempat ini.”

“Terus?”

“Mereka dilatih untuk bekerja, dan ada juga yang lebih parah, mereka otaknya di laundry.”

Det. Dito mendengus menahan tawa. Disaat seperti ini masih saja bisa bercanda. “Cuci otak kalee Mbak Ci.”

“Oooooh, salah ya?” Det. Cita terkikik.

“Lalu, bagaimana bisa tak ada yang curiga? Masa orang tua mereka tidak khawatir?”

“Itulah, hasil laundry otak itu ditransferkan ke boneka yang dibuat 100% mirip sama yang aslinya, lalu mereka dikirim ke rumah masing-masing.”

“Dan kira-kira apa yang akan mereka lakukan pada korban disini? Apa benar akan dikirim ke Arab untuk jadi TKI atau TKW?”

Mendengar kata Arab, Det. Cita langsung antusias tiada tara. “Ya nee laaaaah, aku aja deh yang dikirim kesana, mau aku, beneran deh.” Dia langsung terkikik lagi. “Aku belum sampai ke arah sana penyelidikannya.”

“Owalah Mbak Ci, ta kira lak sudah sampe jauh.” Det. Dito menepuk kepalanya tapi menghasilkan bunyi prang prang!!!

Det. Cita mengangkat bahu, sekarang dia tampak sangat putus asa. Det. Dito bisa merasakan kesedihan mendalam itu (alay jaya). Dia menepuk-nepuk bahu Det Cita yang balas memberinya senyuman lemah. Keduanya sekarang bingung apa yang akan mereka lakukan. Harapan mereka adalah Det. Lyan akan muncul dengan batalyon bantuannya. Mendadak, dari arah pintu mereka mendengar seseorang.

“Ho ho ho ho, kedua Detektif handal sedang diskusi ya?” Sophie berjalan mendekat sambil tertawa lebar. “Maaf ciiiin, nggak ada jalan keluar dari sini.” Dia menggoyang-goyangkan jarinya.

“Apa mau mu?” Det. Cita setengah berteriak.

“Oooooh, santai santai! Marah-marah tidak akan membawa kebebasan.”

“Santai Kuta ada di Bali ya?” celetuk Det. Dito.

“Itu pantai, bapak!!!”

“Pantai itu ini kan?” Det. Dito menunjuk pantatnya.

“Itu pantat!!! Nama bus deh itu.”

“Itu Patas bu!!” Det. Dito berdiri dan mendekati jeruji selnya. Sophie juga melakukan hal yang sama. Mereka saling bertatapan dan dari tatapan itu muncul kilatan-kilatan petir. “Nantangin ya?”

“Siapa takut??”

“Takut petis.”

“Tahu pak, yang dipasang dibadan itu.”

“Tattoo bu, tattoo telor.”

“Halah balik lagi, kreatif dikit kek.”

“kudikit rabies ntar ya!”

“Gigit itu. Gigit taringku siap mengoyak!”

“Gigi ciiin. Gigi itu kan….”

Det. Cita mendadak maju melangkah hingga berada diantara Det. Dito dan jeruji sel dan Sophie. Dengan tangan mengacung ke arah keduanya, dia menghela nafas panjang dan sedikit berteriak. “HEEEE INI NGGAK PENTING BANGET BERDUA! INI BUKAN WAKTUNYA MAIN PELO-PELO AN*.” (pelo-pelo an: permainan pelesetan kata)

“Ih ganggu aja nih sodariku, lagi seru nih!”

Lagi-lagi, mendadak mereka dikejutkan sebuah suara. “Jangan ada yang bergerak!” Kedua Detektif Geje dan Sophie menoleh ke arah suara. Teryata ada seorang wanita yang berpakaian serba hitam dan mengacungkan dua pistol ke arah mereka. Perlahan-lahan wanita itu semakin mendekat hingga wajahnya tampak oleh kamera (baca: lampu).

“Dina Craft!!!” pekik Det. Dito dan Det. Cita bersamaan.

“Heya kawan-kawan, apah kabarh?” wanita bernama Dina Craft itu menatap mereka dengan tatapan seksi tapi mengintimidasi dan menggoda sambil tersenyum. “Koreksi sedikit, panggil aku Dee, biar keren.”

Sophie sontak mengangkat kedua tangannya. “Bagaimana kau bisa masuk kemari?”

Dee, dengan tatapan yang sama menoleh pada Sophie dan mengacungkan salah satu pistolnya ke arah wanita centil itu. “Mana kucinya? Buruan lepasin mereka.” Dee memberi kode dengan pistolnya.

“Aku nggak punya kuncinya ciin, kalau mau buka tanya sama Jay.”

“Oh, begitu. Ya sudahlah.” DOR!! Dee menembak gembok di sel yang membuat Det. Cita dan Det. Dito terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Walhasil pintu sel terbuka. Begitu sadar, kedua Detektif segera keluar.

“Ini, perlengkapan kalian.” Dee menyerahkan sebuah tas yang tadi disandangnya ke Det. Cita.

“Thanks Dee, you are lifesaver.”

“Wah pisauku ada disini. Galaxy Mini ku juga ada. Wow, ngomong-ngomong gimana bisa masuk Dee?”

“Aku dapat telepon dari Det. Lyan, langsung aku menuju kesini.”

“Barang-barang ini?”

“Si resepsionis jangkung memberikannya padaku secara cuma-cuma.” Dee mengelus pistolnya.

“Trus, dirimu ada ngliat anak laki-laki yang bergaya cool nggak?”

“Oh anak itu? Dia masih berdebat sama si resepsionis tentang Korea VS Jepang gitu.”

“Oh, syukur deh dia selamat. Tapi masih aja berdebat soal yang tadi, hadeeeh.”

“Tenang saja, aku sudah menyuruh anak itu mencari tempat persembunyian yang aman.”

“Bagus deh.” Det. Dito menghela nafas lega.

“Be te we, Sophie mana tadi?” Perhatian ketiganya sempat teralihkan dan tak sadar kalau Sophie berjingkat pelan dan kabur.

“Ini akses masuk ke ruang bawah tanah, buruan kalian kesana dan selamatkan para  brondong itu, aku akan mengejar Sophie.” Dee menyerahkan sebuah ID card lalu segera melesat menyusul Sophie sementara Det. Dito menelpon Det. Lyan memberi kabar. Det. Cita sedang memasang perlengkapannya lalu keduanya bergegas menuju ruang bawah tanah yang tak jauh dari situ.

Sementara itu, Dee yang berhasil mengejar Sophie sedang adu tembak dengan anak buah Jay yang lainnya. Dengan kemampuannya menembak dengan anggun, ditunjang dengan kelincahannya berakrobat, Dee berhasil melumpuhkan semua lawannya. Dan dia berhasil memojokkan Sophie di sudut paling tinggi di gedung utama.

“Hei kamu  seseorang! Beraninya cuma pake senjata!” teriak Sophie terus mundur sambil mengacungkan sebuah pistol pada Dee.

Dee menatap sinis dan sedikit mengintimidasi lalu mengacungkan kedua pistolnya lagi. “Kamu juga tuh bawa pistol.”

“Iya memang, buat jaga diri.”

“Lalu apa gunanya kalau kau sudah terpojok begitu?” Dee semakin maju.

Sophie melemparkan pistolnya ke lantai dan membuka jaketnya dengan gaya lalu melemparkannya ke kanan jauh. “Oh baiklah, aku tidak memerlukan semua ini. Kau boleh tembak aku, lakukan apa saja terserah deh.”

Dee tampak ragu-ragu sesaat, lalu dengan segenap keteguhan hati dan keyakinan jika A+B=C Dee mulai mengeluarkan segala senjata yang dimilikinya. Mulai dua pistol kesayangannya hingga kehabisan peluru, lalu shotgun, assault rifle, senapan laras panjang, sniper, hingga bazooka, lalu melemparkan granat, bom nuklir miniatur, kapak, palu, paku payung, hingga menebaskan katana sepanjang 2 meter. Tapi rupanya semua itu tidak ada efeknya. ” maap ciin, ga kerasa apa-apa tuuh, hoooaaaayyyaaaaaammm, geli benjuudh.” Sophie hanya tertawa membahana. Gila ya nih orang, bisa kebal senjata dimana-mana.

Lalu Dee terduduk kelelahan. Dia memberi tanda pause pada Sophie yang rupanya sedang sibuk tertawa lebar. Bluk! Tak disadarinya, sebuah benda terjatuh dari tas kecil yang disandang Sophie. Aha! Ceklak ceklik! Dee teringat akan sesuatu. Dari data yang diberikan Det. Tommy melalui Det. Lyan tentang profil Jay dan organisasinya, Dee menyadari kalau kelemahan Sophie ada pada benda yang barusan jatuh itu. Dengan semangat membara lagi, Dee berguling lalu meraih benda itu dan berguling kembali ke posisi semula.

“Hei Sophie!” wanita berambut bergelombang itu menghentikan tawanya.

“Apaan?”

“Aku tahu apa yang bisa membuatmu kalah.” Dee memberikan tatapan khas nya pada Sophie sambil meringis.

“Sudah tahu kan kalau aku tak bisa dilukai.”

“Oh maaf, sekarang bisa.”

Sophie mendadak pucat. Secara reflek dia langsung merogoh tas kecilnya dan mengobok-oboknya dengan panik. “Jangan bilang kalau…”

“Ha! Kena kau sekarang!” Dee mengacungkan benda yang terjatuh tadi.

“Haduuuuh ciiiin, balikin dong! Gimana aku bisa ngurusin orang bayar-bayar kreditan sama pulsa kalau itu nggak ada, buruan dong ciiiin!!!” Sophie menangis sejadi-jadinya sambil menghentakkan kakinya.

“Maaf, tapi kau harus melakukan sesuatu dulu agar benda ini kembali.”

“Apaan tuh ciin, aku bakal lakukan semua keinginanmu. Yang penting balikin.”

Dee kembali menyeringai dengan memasang tatapan khasnya. “Aku ingin kamu isiskan pulsaku 100.000 GRATIS TIS TIS tanpa syarat.”

“Haduuuuh ciiin, bisa rugi nih bandar pulsanya.” Sophie langsung merubah ekspresinya begitu melihat Dee mengancam benda kesayangannya itu dengan korek. “Oke deh ciiin, kali ini aja ya, aku males nombokin.”

“Tentu saja. Setelah ini cepat pergi dari sini. Kami akan memburu Jay si Mesos Cucok itu. Eh nunggu apa? Mau dibakar nih?”

“Iya iya ciiin, haduuuuh, rumpik deh. Berapa nomor HP-nya?” Dengan cepat Sophie mengeluarkan handphone nya dan memproses transfer pulsa pada Dee. DONE! Transaction Success.

“Awas kalau aku melihatmu lagi disini, sekarang cepat pergi!” Dee melemparkan benda itu yang ternyata sebuah buku warna pink yang mentereng. Isi dari buku itu sendiri ternyata adalah catatan kredit barang dan transaksi isi pulsa yang belum dibayar. Aneh juga nih orang, masa catatan beginian lebih penting dari yang lain. “Hadduuuh ciin, hilang uang lebih baik daripada hilang catatan ini.” Sophie membaca mimik muka Dee sebelum akhirnya kabur.

Melihat Sophie yang sudah semakin jauh pergi, Dee mengeluarkan HP-nya dan mengecek. “Haghaghag, lumayan pulsa gratis.” Untuk pertama kalinya Dee terkikik. Lalu dia menelpon seseorang. “Tinggal satu orang lagi yang perlu diburu sekarang. Cepetan datang kesini, karena keadaan sudah mulai menggila.” Di lantai bawah tempat peperangan sudah mulai ribut lagi. Muncul lebih banyak anak buah Jay yang datang. Det. Cita dan Det. Dito butuh bantuan. Dee pun bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju medan pertempuran.

SEMENTARA ITU….

Det. Cita dan Det. Dito, dua bersaudara beda orang tua dan beda kakek nenek, berhasil masuk ke dalam ruang bawah tanah. Mereka bekerja dengan sangat solid untuk mengintai sekitar dan sesekali terlibat baku tembak dan baku hantam dengan anak buah Jay yang berjaga. Hingga semakin dalam, mereka menemukan ruangan-ruangan tempat para brondong disekap, lengkap dengan tempat pe-laundryan otak, workshop untuk melatih bekerja (ya nyuci, ngepel, ngangkat jemuran, ngecat tembok, reparasi listrik, semua ada deh). Lagi-lagi mereka bekerja sama dalam baku tembak dan baku hantam demi menyelamatkan para remaja tidak berdosa itu. Dan puncaknya, seseorang sudah menunggu mereka. Ninja Alan yang sekarang erubah penampilan ala Neo Matrix berdiri di sebuah hall besar seorang diri. Det. Cita langsung cekikikan sendiri. “Cieh nih brondong, rapi ya sekarang.”

“Halah Mbak Ci, bukan waktunya.”

Alan membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedua tamu tak diundang itu. “Selamat datang, bertemu lagi denganku Alan di acara, Pembantaian Tamu tak Dikenal.”

“Geje, masih saja bisa ndagel* di saat seperti ini.” Det. Dito maju beberapa langkah dengan gagah hingga mereka saling berhadapan walaupun agak jauh. (ndagel= bercanda)

“Disini sejauh kalian bisa melangkah. Selanjutnya, kalian tidak akan melihat dunia luar.”

“Apa yang kau tawarkan?”

“Pertarungan eloh.” menunjuk Det. Dito. “Dan gueh.” menunjuk dirinya sendiri.

“Oke, akan kulayani!”

Alan memberi tanda untuk melihat ke arah kiri. “Pilih senjatamu disana.” Det. Dito melihat ke arah kiri dan mendekat. Wowzer!! Beragam tipe pedang ada disana. Mulai yang kecil, besar, berukir, polos, asli dari stainless steel, sampe sterofoam, semua lengkap. “Aku ambil ini saja.” Det. Dito mengambil sebuah katana berukuran sedang yang tampak mengkilat dan polos tanpa ukiran.

“Baiklah, kita akan buktikan siapa yang pantas mendapatkan Detektif Cita.” ucapan Alan membuat krik krik krik moment antara kedua Detektif bersaudara.

Det. Cita tersipu. “Aduh jangan rebutan aku dong, aku kan jadi malu.”

“Heh, kesempatan aja nih, buruan selametin tuh brondong-brondong!”

“Ya sudahlah, kamu hati-hati ya.” Det. Cita bergegas meninggalkan Det. Dito dan Alan yang sudah memasang kuda-kuda pertempuran.

“Baiklah, kita mulai pertarungan ini.”

Alan dan Det. Dito sama-sama bergerak cepat mendekati satu sama lain dan mulai menebaskan senjata masing-masing. Mereka beradu pedang dan saling serang, tangkis, dan membuat gerakan menipu lawan untuk saling melukai. Det. Cita semakin menjauh hingga suara adu pedang kedua lelaki itu. Satu persatu Det. Cita membuka kunci ruangan tempat para brondong ditahan. Mereka bergegas lari dan meninggalkan gedung itu. Bersamaan dengan itu, Det. Lyan berlari mendekat ke arah Det. Cita yang sedang sibuk mengatur brondong-brondong keluar.

“Heeeeiiii, Mbak Cita!”

“Lyan! Dari mana aja sih?”

“Ngumpulin kawan-kawan, tapi ya haduuuuh, ini duo rumpik malah ngikut.”

Det. Cita melirik ke belakang Det. Lyan dan melihat dua adiknya yaitu Duo Rumpik Enggar dan Lia sedang bingung sendiri melihat banyak orang berlari dan sesekali berkomentar jika ada anak seumuran mereka yang cakep.

“Ngapain kamu bawa mereka kesini Ly?”

“Mereka maksa ikut Mbak Ci, mau menyelamatakan kakak rumpik katanya.” Det. Cita menepuk jidatnya sendiri.

Melihat Det. Cita, duo rumpik segera mendekat. “Eeeeeeh, Mbak Citaaaa…. Haduuuh kenapa ini???” Enggar langsung menyambut Det. Cita.

“Kalian juga ngapain disini?”

“Haduh kitaaah mo nyelametin eloooh!!”

“Malah tambah ribet, haduuuh.” Det. Cita berpikir keras sambil merengut. “Gini aja, kalian balik ke pintu depan sana, bantuin atur anak-anak itu keluar dari sini.”

“Tapi Mbak Ciii kita kan nyelametin eloooh.”

“Ini bagian dari misi, mau bantuin ga?”

Tanpa dikomando Duo Rumpik langsung melesat menuju luar dan langsung pergi. Det. Cita dan Det. Lyan menggeleng bersamaan disertai wajah lega. Tapi ternyata kelegaan mereka hanya berlangsung sebentar karena mereka melihat Galih sedang berjalan pelan mendekat. Anehnya wajah anak ini begitu tenang.

“Kamu siapa?”

“Aku mencari pencuri hatiku.”

Krik krik krik…

“Aku mencari Detektif aneh yang masuk kesini beberapa jam yang lalu.”

Det. Lyan dan Det. Cita berpandangan.

“Dito? Dia masih ada urusan. Memang ada apa?”

“Oh, cuma bertanya saja, kukira dia kena masalah apa gitu nggak keluar-keluar. Ya sudah aku keluar lagi saja.” Galih ngeloyor pergi dengan gaya cool nya menuju ke pintu depan tempat les. Tentu saja hal ini semakin membuat kedua detektif wanita itu bertanya-tanya sendiri.

Lalu tersadar dari lamunannya, kedua detektif wanita itu mengecek sekali lagi seluruh ruangan disana sebelum memutuskan kembali untuk melihat keadaan Det. Dito. Rupanya, Det. Dito dan Alan masih bertempur sengit. Sabetan pedang keduanya begitu hebat bahkan bayangan mereka pun bertarung sendiri. Nasib baik masih berpihak pada Det. Dito, satu sabetan pedangnya berhasil menggores kulit coklat eksotik Alan. Alan membalas serangan itu tapi Det. Dito berhasil menghindar dan menyabetkan pedangnya beberapa kali lagi. Alan mengalami luka parah.

“Kamu… memang hebat… aku mengakuinya… tapi… aku…. bakal… kembali.”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Alan menggunakan jurus menghilang disertai suara mirip kentut (?) dan Det. Dito hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya roboh. Beruntung Det. Cita dan Det. Lyan segera datang. Bahu membahu mereka menggotong Det. Dito yang terluka parah itu. Tepat di lapangan teras mereka melihat Jay sedang berdiri disana bersama anak buahnya yang cukup banyak. Rupanya para korban sudah berhasil diselamatkan semua karena tak ada satupun lagi disitu. Disitu juga ada Dee yang mengacungkan kedua pistolnya dengan waspada.

“Bravo… bravo… hebat sekali.” Jay dan anak buahnya dengan anehnya tepuk tangan bersama. “Lihatlah ini, semua musuhku sudah berkumpul disini.”

“Apa maumu sebenarnya Jay?” Det. Dito akhirnya bersuara dengan sisa tenaganya.

“Sebenarnya ini semua hanya kedok.”

Dee menatap dengan tatapan khasnya. “Kedok apa? Kedok ngorek?”

“Itu kodok!!!! Inilah yang kubenci dari kalian!!!”

“Memang kau mengenal kami?” seru Det. Lyan.

Jay tertawa terbahak-bahak. Dia memberikan satu lagi tatapan sinis.

“Jadi kalian benar-benar lupa padaku ya. BAIKLAH! AKAN KUBUAT KALIAN INGAT!”

Ketiga detektif dan Dee memasang sikap waspada dengan apa yang akan dilakukan Jay. Sementara Jay memberi kode agar semua anak buahnya menjauh. Mereka membuat formasi melingkar rapat yang didalamnya ada Jay dan ketiga detektif serta Dee Craft.

“Kalian ingat apa yang kalian lakukan pada seorang anak bernama Desinta beberapa tahun yang lalu?”

Ketiga detektif dan Dee terpekik mendengar nama itu “Desinta?”

Teringat di benak mereka kejadian empat tahun silam dimana ketiga detektif dan Dee belum jadi seperti sekarang ini. Mereka semua, Dito, Cita, Lyan, Dee, dan seorang laki-laki tembem bernama Mie Mun sedang menertawai seorang gadis dengan wajah sedikit mengintimidasi alias misuh-misuh* (Misuh-misuh=badmouth). Sesekali menggoda si gadis yang kebetulan juga latah, lalu mereka mencoba membuat si gadis itu tertawa terbahak-bahak karena kalau tertawa dia tak pernah lupa menutup mulutnya rapat-rapat dengan harapan jika dia membuka mulutnya, kelima sahabat ini bakal habis-habisan mengerjainya.

Setelah mereka puas mengerjai, mereka meninggalkan gadis bernama Desinta itu dalam keadaan masih tertawa-tawa sendiri, tapi karena kelelahan, dia jatuh ke tanah dan pingsan. Disitulah terakhir kali kelima sahabat melihatnya.

Jay memandang mereka semua dengan kebencian yang sangat. “Kalian tahu apa yang terjadi padanya setelah kalian mengganggunya seperti itu? Bukan sekali tapi berulang kali.”

Keempat orang itu menggeleng bersamaan.

“DASAR ORANG-ORANG PARAH!!!!” Jay berteriak sebegitu hebatnya. “ADIKKU ITU DIKIRA ORANG GILA KARENA TERTAWA DAN LATAH SENDIRI TAU!!!!”

“Oooooooooo.” Seru ketiga detektif dan Dee seperti paduan suara koor.

“Buleeeeeeeeeeeeet!!!!” Mereka semua dikejutkan suara keras yang berasal dari atas. Dan saat mereka melihat, turun sepasukan tentara bersenjata yang langsung menembak dengan ganas dan membuat anak buah Jay jadi kocar kacir sementara ketiga detektif dan Dee menyelamatkan diri. Diantara para tentara yang mulai sibuk menangkapi anak buah Jay turun seorang anggota SWAT yang cara turunnya begitu dramatis. Bahkan helikopter yang mengangkutnya sedikit oleng karena keberatan. “Haloooo Men… dol!!”

“Mie Mun??” ketiga detektif dan Dee berseru bersamaan.

Sementara dari interkomnya, laki-laki misterius bernama Mie Mun itu diteriaki oleh seseorang. “HE TALINYA LEPASIN DONG KALO SUDAH TURUN! BERAT BANGET NIH!”

Mie Mun terkikik geli. “Maap maap, aku lupa.” katanya lalu melepas tali yang bertengger di tengkuknya (?).

“Mun! Lama amat sih?” Seru Det. Dito sambil melempar batu kecil.

Mie Mun membuka helmnya. Tampaklah wajahnya yang bulat karena pipinya besar dan membuat orang ingin menamparnya karena lucu. Dia memberikan senyuman sepuluh jari (wuik berarti lebar banget ya) dan mengangkat jempolnya. “Santai santai, serahkan semua padaku.”

“Jadi Jay, rupanya selama ini kau sudah salah paham.”

“Apa maksudmu Mun?”

“Desinta memang pingsan waktu itu, bahkan setelah kau bawa dia ke UKS. Tapi kemudian dia mengirim pesan padaku.”

“Apa yang kau katakan Mun? Dia dikirim ke Rumah Sakit Jiwa!!”

“Tidak seperti itu. Dia memang pergi ke rumah sakit untuk membetulkan giginya lalu ke salon untuk meluruskan rambutnya.”

“Tidak mungkin! Adikku tidak mungkin berbohong.”

“Itu karena dia tidak ingin kau menemuinya saat-saat itu, karena malu. Jadi dia memutuskan bersembunyi sementara. Hingga saat ini setelah kuliahnya lulus, dia baru berani menemuimu.”

Jay terduduk di tanah dengan tatapan tidak percaya. Dia menunduk dan terdiam lama sekali.

Mie Mun berjalan mendekati Jay dan berjongkok di hadapannya. “Desinta merasa berterima kasih karena kami selalu menghinanya, itulah motivasi dia untuk merubah penampilannya agar lebih pede dan tidak malu karena jadi adikmu.” katanya pelan.

Jay langsung menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya di rumput. Setelah pertarungan panjang ini, masalah berhasil terselesaikan. Akhirnya Jay bersedia untuk ditangkap atas kejahatan yang dilakukannya. Ketiga Detektif dan Dee serta Mie Mun merasa lega.

2 bulan kemudian…..

Ketiga detektif, Dee, Mie Mun, Duo Rumpik, serta Galih menjalani liburan panjang. Kesempatan itu dipergunakan mereka untuk berplesier. Baik ke pantai, ke gunung, pokoknya keliling pulau Jawa. Dengan satu catatan kalau Det. Tommy menginginkan beragam oleh-oleh dari berbagai daerah. Sembari itu, kelima sahabat mereview apa yang pernah mereka lakukan semasa sekolah dulu. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, kelaparan bersama, tapi tidak mandi bersama (bahaya kaleeee). Mereka akan selalu mengingat hal itu hingga akhir hayat mereka.

THE END

CAST

(IN ORDER OF APPEARANCE)

DETEKTIF LYAN – LYAN CHRISTIE

DETEKTIF DITO – ADITYA DITO

DETEKTIF TOMMY – MBAH TOMMI

CAK IMIN – ROCHIM EKA SAPUTRA

MAK TEE – TIA MEOW

ENGGAR DUO RUMPIK – ENGGAR JUNIA HIDAYAT

LIA DUO RUMPIK – LIA EMOCHUCKZSMART

GALIH – GALIH ASMORO

ALEJANDRO – FIKRI ZOEL

JAY – EKO JAYANTO

SOPHIE – SOFIE NOCH SCHOEN

DETEKTIF CITA – CITA CITAN

NINJA ALAN – ALANS ACHMAD

DINA CRAFT/ DEE – DINA HOLMES

MIE MUN – SLAMET JERMAN

DESINTA – HERSELF

SEE YOU AGAIN DENGAN CERITA GEJE LAIN, PLEASE JANGAN MERASA OFFENDED KARENA INI HANYA FIKSI

BEST REGARDS, PENULIS

Dan rencana pun dimulai. Galih akan maju dan  masuk terlebih dahulu untuk mengalihkan perhatian. Kebetulan di dalam tempat les bagian depan hanya ada seorang resepsionis laki-laki yang bertubuh jangkung dan memakai kacamata. Galih melangkah masuk mendekat. Untung posisi meja sedikit lebih tinggi sehingga langkah Galih bisa diikuti Det. Dito yang merangkak dan sedikit ngesot tanpa suara da bersembunyi di samping kaki Galih.

“Mohon maaf, permisi,” sapa Galih.

“Ya, ada yang bisa dibanting eh maap dibantu?’ tanya si resepsionis.

“Bolehkah saya bertanya sedikit?” tanya Galih mendramatisir.

“Mau nanya apa mas?” tanya si resepsionis.

“Alejandro,” kata Galih dengan tatapan kosong.

“Itu nama saya Mas,” kata si resepsionis. “kok tahu?”

“Itu ada nametagnya,” jawab Galih pelan sementara tangan kirinya menampar pipi Det. Dito untuk memberi kode agar dia terus bergerak masuk kedalam.

“Ehm ehm. Jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya Alejandro.

“Alejandro itu nama tokoh telenovela ya. Ada juga judul lagu dari Lady GaGa,” kata Galih lagi.

Mungkin emak saya terinspirasi dari situ,” Alejandro membetulkan nametagnya.

“Tapi sayang,” Galih mengusap rambutnya dramatis dan memasang wajah kecewa. “tidak ada orang Korea yang punya nama Alejandro.”

“Sudah kuduga!!” Alejandro mendadak memasang kuda-kuda. “Kamu pasti penggemar K-Pop, hah! J-Pop tentu lebih bagus dan berkualitas.”

“Style Harah-Nuku itu memang saya akui keren abiezz, tapi Korean style lebih oke kemana-mana,” Galih menatap dingin dan bersuara datar.

“Itu harajuku wahai semprul!! Dasar kamu Hamsyong Kasetong!!” timpal Alejandro.

Dan sementara kedua orang itu perang pendapat dan masuk dalam debat calon mahasiswa, Det. Dito terus merangkak, berguling, dan ngesot masuk lebih dalam. Rencananya dan Galih sejauh ini lancar dan belum mengalami gangguan apa-apa. Det. Dito terus menyusuri ruangan demi ruangan tapi tak ada yang ganjil. Hingga, dia menemukan sebuah pintu di ujung gedung yang mengarah ke teras belakang.

Dengan waspada dan terus mengawasi sekitar, Det. Dito mengintip dari balik pintu. Hey! Itu dia! Tampak Jay dan asistennya sedang menginspeksi beberapa remaja (baca: brondong) dalam kondisi tangan terikat. Tak lama kemudian, dari sebuah ruangan lain di ujung jauh teras muncul seorang pria berpakaian ninja (?) yang membawa seorang lainnya dalam tangan terikat juga yaitu, Det. Cita SODARA-SODARA!!!

“Hohohohoho, selamat bergabung Det. Cita,” ucap Jay sambil tersenyum.

“Jadi akan kau apakan anak-anak ini?” tanya Det. Cita maju selangkah.

“Eits, jangan coba-coba!” kata ninja (?) disamping Det. Cita sambil mengacungkan pisau dapur super besar.

“Tenang ninja Alan, dia tak bisa melakukan apa-apa, hahahahahaha uhuk uhuk uhuk,” Jay mendadak terbatuk. Dengan sigap sang asisten menepuk-nepuk punggungnya dan memberinya air minum. “Terima kasih asisten Sophie.”

” sama sama ciiin,” jawab Sophie centil.

Ehm ehm, jadi Det. Cita, apa pendapatmu soal ini?”  tanya Jay lagi.

“Apanya? Kalau bedakmu sih udah pas,” jawab Det. Cita sekenanya.

“OOOOH, terima kasih siiiiiis, udah cucok ni, loooh? Bukan itu!!!” seru Jay emosa (baca: emosi)

“Jangan main-main!” kata ninja Alan mendekatkan pisaunya lagi.

“Kita nggak bisa membiarkannya lepas cin,” bisik Sophie pada Jay.

“Atur saja cin, Alan, tolong bawa Det. Cita kembali ke selnya, dan Sophie, tolong antar anak-anak ini ke sanggar,” kata Jay lalu berbalik menuju ke arah Det. Dito.

Buru-buru, Det. Dito lari ke salah satu kelas kosong terdekat dan bersembunyi hingga dia merasa Jay lewat. Setelah keadaan aman, Det. Dito segera keluar dan mengintip lagi. Keadaan benar-benar aman. Dengan segera, kembali merangkak, ngesot, berguling, sekarang ditambah kayang dia mendekati ruangan lain di sisi lain teras belakang. Det. Dito mengintip lewat kaca dan dia melihat Det. Cita sedang berkaca di dalam sebuah sel. Ditahan begitu masih sempet dandan, duh dasar detektif centil. Perlahan-lahan Det. Dito membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, hmmmm cukup aneh mengingat didalamnya ada orang yang ditahan.

“Hey Cita!” bisik Det. Dito sambil menyembulkan kepalanya di balik pintu.

“Dito!!! Ngapain kamu disitu?” Det. Cita langsung heboh.

“Ssssssst, pelan dikit, ga usah mbleyer deh, aku mau nyelametin kamu wahai sodariku,” kata Det. Dito berjingkat masuk.

“Disini bahaya Dito! Buruan pergi!” seru Det. Cita dalam bisikan.

“Ini mau diselametin malah ngusir, piye toh?” kata Det. Dito sambil mengutak atik gembok.

“Bukaaaaan, buruan pergi! Nanti kamu bisa….” TUNG TANG TUNG TANG. Det. Dito jatuh terpuruk ditanah dan pingsan. “Nah sudah kubilang.”

“Siapa lagi ini? Lumayan buat teman ngobrolmu nanti,” kata ninja Alan dengan suara dingin. Det. Cita menatapnya lekat-lekat. “Kenapa ngliatin begitu?”

“Kamu…. brondong ya?” kata Det. Cita lalu terkikik.

“Berisik ah, udah tidur sana!” kata ninja Alan lalu menyeret tubuh Det. Dito masuk ke sel. “Jangan macam-macam ya!”

BERSAMBUNG….. TO BE CONTINUED…..

“Eeeeeeeh ada Mbak Lyan toh?? Masuk masuk,” sambut seorang gadis berambut poni Selamat Datang.

“Lama nggak maen kesini, tumben benjuuudddh,” imbuh si gadis lain berambut panjang dengan centil.

“Iya neh, lagi tugas Nggar, Lia,” jawab Det. Lyan.

“Tau nggak si, kemaren tu cowok kurang asem nglempar tissue ke muka aku,” sambung si gadis poni bernama Enggar.

“Uuuuuppppssssss, aku juga kemaren ketemu gebetan malah sembunyi dibawah meja,” tambah Lia, si gadis berambut panjang.

“Duuuuuh, cowok itu emang rumpik deh, ga ngerti akan para wanita dan perasaannyah,” kata Enggar lalu menyibakkan rambut hingga mengenai Det. Lyan.

“Sudah neh curhatnya,” kata Det. Lyan pelan sambil mengusap wajahnya yang gatal.

“Hehehehehe, maap maap, ada perlu apa nih ciint? Mbak Citanya ga ada tuh,” sahut Lia.

“Boleh masuk ga?” tanya Det. Lyan.

“Yuuuuuk mariii, be te we, ayah tiri mana?” tanya Enggar sambil celingukan sementara mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

“Mas Dito? Lagi tugas barengan sama aku kok, sekarang langsung ke TKP,” jawab Det. Lyan sembari menuju ke ruang kerja Det. Cita.

“Duuuuh, ayah tiri itu rumpik deh nggak pernah kasi kabar zizt,” timpal Lia dengan centil.

“Nyari apaan be te we Mbak Lyan? Mbak Ci jarang pulang neeh, sekali pulang trus pergi lagi ga lama kemudian,” celetuk Enggar.

“Yah keperluan kerjaan Nggar, biasalah Detektip,” jawab Det. Lyan sambil cengar cengir.

Mata Det. Lyan menyapu (sekalian ngepel juga oke tuh Ly) seluruh ruangan kerja Det. Cita. Semuanya tampak biasa saja, dan kemudian menuruti picingan matanya yang memang saat itu lagi sedikit nggak kelihatan, Det. Lyan mendekati meja kerja. Disana tampak berserakan beberapa kertas file dan dengan menyesal karena melihat, Det. Lyan menemukan selembar kertas berwarna pink dengan tulisan yang cukup janggal. “Jauhi masalah, atau kamu bakal mati karena terlibat!”

Dengan segera, Det. Lyan mengangkat surat ini dan membacanya dengan seksama. Menurut mata batinnya, surat ini ditulis dengan menggunakan spidol warna hitam yang permanen, dengan posisi spidol berdiri tegak. Dari guratan tulisan itu, yang rapi diatur, Det. Lyan mengetahui kalau yang menulisnya adalah seorang perempuan. Dan itu bukan Det. Cita tentunya.

Secepat halilintar, Det. Lyan dengan bergaya menarik HP-nya dan memencet nomor dengan cekatan. Menunggu beberapa detik ditemani pandangan aneh dan takjub dari Enggar dan Lia, nada sambung pun terdengar.

sementara itu….

Sementara itu Det. Dito sedang melakukan penyelidikan langsung ke alamat yang diberikan Mak Tee. Dari jarak beberapa rumah, Detektif Geje dan sedikit budeg ini memakai teropong (bukan teropong bintang, bukan pula sedotan) untuk memantau keadaan. Dilihatnya lokasi tersebut cukup ramai dikunjungi para ABG Hore dan Ababil yang keluar masuk untuk aktivitas belajar mengajar disana. Sekilas tak ada yang aneh, hanya orang-orang biasa yang muncul.

Tapi beberapa jam kemudian, datanglah sebuah mobil hitam dan dari dalamnya keluar dua orang. Satu adalah seorang pria tinggi besar yang sedikit MeSos (Metrosexual) berpenampilan necis dan rapi. Satunya lagi seorang wanita berbodi kecil tapi semok dengan rambut bergelombang yang lumayan kalem dengan penampilan apa adanya dan sederhana. Dari tatapan mata batin Det. Dito yang dulu pernah merangkap jadi dukun dadakan, wanita itu membawa sebuah kotak yang isinya adalah…… Nasi Goreng (tau aja kalo lagi laper). Keduanya langsung masuk kedalam tempat les.

Masih menatap serius sampe pegal lehernya, Det. Dito dikejutkan dengan seseorang yang sedang berjongkok tepat disampingnya sambil menatap kosong ke arah yang sama dengannya. Seorang Ababil laki-laki yang berkulit putih dan berwajah rupawan.

“Ngapain jongkok disitu?” tanya Det. Dito penasaran.

“Kelihatannya?” jawab anak itu dengan gaya cool.

“Ehmmmm,” Det. Dito menggaruk kepalanya.

“Tanyakanlah pada angin berdesir yang menerbangkan kegalauanku,” kata anak itu lagi.

“He? Galau masih musim ya?” ujar Det. Dito.

“Kekasihku yang sudah meninggalkan ku berbahagia dengan orang lain,” kawab anak itu dengan penuh emosi tapi tanpa mbleyer.

“Apa sih? Eh kamu teh mo ngapain disono?” tanya Det. Dito sedikit kurang sabar.

“Menunggu kekasih yang lama tak muncul dari dalam sana, “anak itu kembali berpuisi.

“Pacarmu hilang disana?” tanya Det. Dito ikut-ikutan jongkok.

“Sudah seminggu dia tak kembali padaku,” jawab anak itu lagi.

“Hmmmm, apa benar ya kalau dia juga jadi korban penculikan?” gumam Det. Dito.

“Sementara dia sudah membawa sebelah hatiku bersamanya,” jawab anak itu sambil mengacung.

“Duh stop puisi deh, ga ngefek ma aku tau,” kata Det. Dito menggeleng. (lagi-lagi lebih ke arah ayan) “Nama kamu siapa?”

“Namaku adalah Inti Cinta…” anak itu langsung menatap Det. Dito.

“Kujitak nih!” Det. Dito menyeringai seram.

“Galih Asmoro,” jawab anak itu pelan.

Tiba-tiba HP Det. Dito berbunyi. Ternyata ada telepon dari Det. Lyan. Setelah berbicara dengan ruwet, panjang lebar kali tinggi dan menukar informasi tentang keadaan di tempat masing-masing, Det. Dito dan Det. Lyan sepakat untuk segera melakukan misi penyelamatan. Det. Lyan akan segera menuju TKP membawa bala bantuan sementara Det. Dito akan menunggu di posisi aman hingga dia tiba dengan batalionnya. (kebanyakan kali batalyon)

Hingga hampir tiga jam, Det. Dito dan Galih berada pada krik krik krik moment dimana mereka hanya jongkok diam lalu berdiri sebentar dan jongkok lagi dalam irama bergiliran. Merasa bosan Det. Dito membuka HP-nya lagi dan mulai mendengarkan MP3 hingga Galih menjawilnya.

“Upu?” tanya Det. Dito.

“Menunggu bala tentara baladewa bala-pan kuda mu itu bakalan lama, gimana kalo kita masuk kedalam?” kata Galih.

“Ga ada hubungannya sama tuh bala bala, emang kamu punya rencana apa Lih?” tanya Det. Dito tertarik menyimak.

“Begini…” Galih membisikkan sesuatu di telinga Det. Dito dan beberapa kali cekikikan karena entah geli, atau lucu. Intinya adalah, mereka akan menyelinap masuk ke dalam dan mencari keberadaan orang-orang itu.

“Okelah kalau begitu, sambil menunggu Lyan datang, kita lakukan sebisa kita,” jawab Det. Dito semangat.

“Baiklah, demi cinta dan keadilan, kita harus menegakkan kebenaran di muka bumi ini!” ujar Galih dengan semangat membara sambil mengacungkan tangannya ke udara.

Krik krik krik krik…..

Bersambung, to be continued……..

the GEJE Rescue Team Part 1

Siang itu, seperti biasanya, Detektif Dito dan Detektif Lyan sedang duduk leyeh leyeh sambil mendengarkan MP3. Karena tidak adanya kasus untuk dipecahkan, mereka hanya Dugem (duduk gemetar? Duduk gembira? Dukun Gembul? ambigu) saja di kantornya. Sementara itu, sebenarnya masih ada satu Detektif lagi yang mana sedang dalam tugas jadi tidak berada di kantor itu, namanya adalah Detektif Cita. Tapi Detektif Cita yang biasanya terkenal karena jika mendapat kasus langsung “Sehari Selesai” sudah hampir seminggu belum kembali ke kantornya. Membuat kedua partnernya bertanya-tanya.

“Ngemeng-ngemeng ya Ly, Det. Cita sodariku paling bohai itu tugas kemana sih?” tanya Det. Dito

“Auk tuh, kayaknya dikirim ke Arab deh,” jawab Det. Lyan malas-malas an.

“Beugh, kesampean juga impiannya,” timbal Det. Dito lagi.

Tiba-tiba dari interkom di pojok ruangan, terdengar sebuah jingle aneh bin ajaib yang menandakan bahwa bos para Detektif Geje sedang memanggil.

“Ehm ehm, testing satu dua tiga empat lima….. seratus, duh capek ya ngitung. Panggilan ditujukan pada Det. Dito dan Det. Lyan untuk menghadap kesini, ga pake lama! Liat nih udah di CAPS LOCK, jadi buruan ye, sibuk benjuuudhh” kata sang pemilik suara dengan ethes dan panjang lebar.

“Kaya’nya pak bos ini harus ganti jingle deh,” kata Det. Lyan sambil berdiri.

“Auk nih, krik krik krik melulu dari dulu, by the way ada apaan ya?” tanya Det. Dito ikutan berdiri.

“Kita tanyakan pada rumput yang bergoyang,” jawab Det. Lyan sambil berpose di depan kipas angin.

“Geje,” jawab Det. Dito sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Dan mereka berjalan menuju ruangan pak bos mereka. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, mereka melihat pemandangan yang sedikit ganjil. Pak Bos mereka yang bernama Det. Tommy sedang leyeh-leyeh santai sambil dangdutan ditemani asistennya yang sedang goyang menggunakan kertas tissue yang melilit-lilit ala balerina getooh. Lagi-lagi kedua anggota Detektif geje itu mengalami “krik krik krik” moment sesaat. Lalu secepat kilat dan tanpa dikira, keadaan kantor kembali normal dimana Det. Tommy sedang membaca sebuah file dengan serius.

“Masuk coy,” kata Det. Tommy santai.

“Oke bos,” kata Det. Dito dan Lyan bersamaan lalu duduk di depan meja bosnya.

“Tolong baca ini,” kata Det. Tommy menyerahkan selembar kertas warna-warni.

“……….. waaaaah, beneran nih bos?” sahut Det. Lyan gembira.

“Apaan?”  tanya Det. Tommy sambil menoleh.

“Ini beneran ada diskonan di supermarket sebelah?” kata Det. Lyan lagi.

“Diskoan?” tanya Det. Dito yang agak ngantuk.

“DISKON!” teriak Det. Lyan di telinga Det. Dito.

“Sapa yang kasi lembaran diskon Ly??” sahut Det. Tommy.

“Nah ini apaan?” jawab Det. Lyan mengacungkan lembaran barusan.

“Woy maap, salah kasih, ini buat pacar saya, hehehehehe, ini nih,” kata Det. Tommy buru-buru mengambil kertas itu dan menggantinya dengan  lembaran lain.

“Hadeh bos ini lagi lembaran sablon gratis,” celetuk Det. Dito setelah melirik sebentar.

“SALON MAS DITO, SALON!” teriak Det. Lyan lagi.

Lalu tanpa diduga, ketiganya tertawa membahana sekali hingga ruangan bergetar. (Heran ye, ni orang tiga ketawa pada pake loud speaker ato apaan yah?)

“Jadi begini kawan-kawan,” kata Det. Tommy berbisik. Suasana semakin dramatis hingga lampu ruangan itu redup. “Jadi begini.”

“Begini apa bos?” tanya Det. Dito.

“Jadi ini, duh lampunya mo mati lagi, Ijaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah beliin lampu baru di bedag* sebelah!” teriak Det. Tommy mendadak membuat kedua anak buahnya kaget. “Ehm ehm, maap. Jadi ini ya, Det. Cita yang sedang bertugas tiba-tiba menghilang. Semua kontak dengannya mendadak putus. Entah ada apa.” (*bedag=warung kecil)

“APAH??” seru kedua detektif bersamaan. (Efek kamera keduanya berpandangan, lalu zoom in zoom out ke bos mereka)

“Santai santai,” kata Det. Tommy menggerakkan kedua tangannya menenangkan kedua anak buahnya.

“Sodariku memang tugas kemana bos?” tanya Det. Dito panik.

“Det. Cita sedang menyelidiki kasus penculikan remaja. Dia menawarkan dirinya untuk menginvestigasi, sementara saya sebenarnya sudah akan menurunkan Det. Lyan karena lebih muda dan labil,” kata Det. Tommy melirik Det. Lyan yang shock.

“Pandangan apaan tuh, sesuatu benjuudh,” sahut Det. Lyan kesal.

“Hadeeeh dasar sodariku, denger remaja ajah langsung berangkat,” Det. Dito menggeleng pelan. (aslinya malah mirip orang ayan)

“Jadi sudah jelas ya, tugas kalian untuk mencari dan menyelamatkan Det. Cita. Ini saya kasih alamat untuk didatangi. Silahkan langsung di usut tuntas tas tas,” kata Det. Tommy dengan centil.

“Siap bos!” kata kedua Detektif lalu beranjak berdiri.

Keduanya membuka pintu kantor dengan gaya cool disertai efek angin dari kipas angin, dan mereka memakai kacamat hitam sambil berpose sekeren mungkin. Beberapa orang yang lewat langsung berhenti dan memandang keduanya dengan tatapan antara aneh, bingung, kaget, terpesona (nggak banget deh). Setelah sekitar satu menit bergaya begitu, mereka langsung berjalan beriringan menuju kantor dimana Det. Dito tiba-tiba belok kanan.

“HEEE KALIAN BERDUA! BALIKIN KACAMATA GUEEEE!!!!” teriak Det. Tommy dari dalam kantornya sementara…

“HEEE MAS DITO, ITU MAU KE KANTORNYA IJAH, DISINI KANTOR KITA OOOI,” teriak Det. Lyan menyeret tengkuk kemeja Det. Dito. “Gila ye, mau tugas masih sempet aja modus!”

Setelah bersiap-siap dengan peralatan, dan senjata masing-masing, kedua detektif geje langsung berangkat ke TKP. Sebuah alamat yang diberikan oleh Det. Tommy letaknya cukup jauh dari kota dan dengan vespa favoritnya, Det. Lyan memimpin perjalanan, sementara Det. Dito mengikuti dengan motor otomatisnya dari belakang. (penyakit satu nih ga bisa hilang, ga tau jalan…… krik krik) Dengan berbekal insting dan pengetahuan tentang rambu-rambu lalu lintas, Det. Lyan bisa menemukan rumah di alamat yang ditulis itu dengan mudah. Tapi sesuatu membuatnya shock dan tertawa terharu. Rumah yang dimaksud ternyata berwarna pink.

“Apaan sih Ly, ayo buruan masuk deh,” kata Det. Dito dari pagar.

“Haduuuh Mas Dito, apaan nih, masa rumahnya pink begini??” kata Det. Lyan terharu.

“Emang apa salahnya??” tanya Det. Dito heran.

“Apa ya? Meriah benjuudh,” kata Det. Lyan pelan dan masih terharu.

“Lah, pink kan juga merah toh,” kata Det. Dito lugu.

” MERIAH MAS DITO, TAK TIMPUK NEEH!!” teriak Det. Lyan mengangkat helmnya.

“Ampuuuuunn,” kata Det. Dito sambil tertawa membahana.

Tiba-tiba dari dalam rumah muncullah seorang laki-laki berkulit gelap. Dengan tampang sangarnya dia menyambut kedua detektif. Sambil bersendakep dan berdiri tegak, laki-laki ini memandang kedua detektif dengan tatapan memeriksa (menganalisa). Lalu mulai berbicara dengan logat Jawanya yang kental.

“Nyari sopo?” katanya menggelegar. (nyari siapa?)

“Eh, maap, ini benar alamatnya Mak Tee?” kata Det. Dito sambil memeriksa kertas alamat.

“Ate lapo nyari bojoku sing paling ayu dewe?” jawabnya masih dalam nada yang sama. (Mau apa nyari istriku yang paling cantik?)

“Anu, kita teh mau nyari informasi wae, bisa ketemu sama Mak Tee nya?” kata Det. Dito yang mendadak sok sunda.

“Tunggu sedhiluk yo,” kata laki-laki itu lalu masuk ke dalam. (Tunggu sebentar ya)

“Heee Mas Dito, belajar sunda dimana?” tanya Det. Lyan penasaran.

“He itu mah asal asalan aja kali, saya teh urang Jawa tuli,” jawab Det. Dito pelan.

“Tuli? TULEN KALEEE, HADEEH NI ORANG SATU!!” kata Det. Lyan kembali heboh.

Tak berapa lama kemudian, muncul seorang wanita yang memakai baju pink dan menatap dengan tatapan judes. Diikuti oleh laki-laki yang tadi menyambut kedua detektif itu. Wanita itu menatap kedua detektif bergantian lalu mulai tersenyum mencairkan suasana.

“Ada yang bisa dibantu, saya Mak Tee, kenalin ini suami saya Cak Imin,” kata wanita bernama Mak Tee itu memperkenalkan laki-laki dibelakangnya. Si suami bernama Cak Imin tersenyum juga. “Maaf suami saya ini agak sangar memang tapi aslinya buaeeeeek banget.” Mak Tee memandang suaminya dengan penuh cinta dan sang suami tersipu malu.

Kedua detektif geje mengalami krik  krik krik moment selama beberapa saat untuk kesekian kalinya.

“Haduh sampe lupa disuruh masuk, come in please!” kata Mak Tee sopan dengan logat Britishnya yang sangat kental. “Ada keperluan apa nih nyari saya?”

“Ini Mak Tee, kita kesini untuk menyelidiki hilangnya salah satu partner kami,” kata Det. Dito setelah mereka masuk ke dalam rumah.

“Partner siapa ya?” tanya Mak Tee.

“Seorang detektif cewek yang bohai dan sangat mengagumkan serta membawa tas punggung besar,” kata Det. Dito.

“Oh Mbak Cita ya? Dia sudah kesini tiga hari yang lalu, katanya menyelidiki kasus hilangnya beberapa brondong belakangan ini,” jawab Mak Tee yang sudah tahu kemana arah pembicaraan.

“Jadi Mbak Ci sudah kesini ya? Kok bisa ke Mak Tee?” tanya Det. Lyan.

“Saya mantan penculik, dan Det. Cita langsung mendatangi saya,” jawab Mak Tee sementara suaminya cekikikan.

“Hah, serius nih?” tanya Det. Dito.

“Ya elah Mas Dito, ya nggak mungkin lah, mana ada penculik yang ketemu detektif keren macam kita ini yang senyum-senyum,” sahut Det. Lyan.

“He? Nggak ya?” kata Det. Dito bergantian ke Mak Tee, Cak Imin, dan Det. Lyan dengan begonya.

” Hai ini bercanda kok, cuma saya kenal sama orang yang dicurigai sebagai penculik itu,” kata Mak Tee dan suaminya langsung tertawa membahana.

“Ini kasus penting kok malah guyon ya?” tanya Det. Dito masih dalam ekspresi oon.

“Aduh ga penting deh, biarin aja Mak Tee. Lanjut gimana ceritanya,” kata Det. Lyan.

“Jadi nih, saya punya teman, namanya Jayanto yang biasa dipanggil Jay. Dia tuh punya usah les-les an gitu, les bahasa Inggris. Tapi, banyak tersiar kabar yang tumpang tindih kalau dia melakukan penculikan pada para remaja murid les nya untuk dikirim ke Arab jadi TKI dan TKW muda berkualitas gitu. Saya aslinya nggak percaya, tapi hampir semua bukti mengatakan kalau Jay emang melakukan penculikan itu. Nah, Detektif Cita mucul dan menanyakan pada saya bagaimana dia bisa ketemu dengan Jay. Ya saya kasih alamat tempat les nya Jay, lalu Det. Cita capcus kesana deh,” kata Mak Tee panjang lebar.

“Terus, dia bilang punya rencana apa?” tanya Det. Dito.

“Dia nggak bilang apa-apa tuh,” jawab Mak Tee.

” Hmmmm, Mas Dito, kita perlu meeting nih. Informasi dari Mak Tee udah cukup,” kata Det. Lyan memicing.

“Cukup piye? Cuma segitu masa cukup, kita kerumahnya Cita dulu aja, nyari sesuatu yang mungkin bisa membantu,” kata Det. Dito.

“Udah percaya aja deh, yuuuuuk mari,” kata Det. Lyan.

“Oke deh Mak Tee, terima kasih infonya, oh iya, boleh minta alamatnya Jay?” tanya Det. Dito.

“Oh silahkan, ini kartu namanya,” kata Mak Tee menyerahkan kartu nama berwarna hitam ke Det. Dito.

Setelah berpamitan, kedua detektif langsung melesat menuju kota kembali. Mereka mampir ke sebuah warung makan dipinggir jalan yang tempatnya nyaman, dan makanannya lengkap. Segera Det. Dito memesan semangkuk cah kangkung sementara Det. Lyan memesan nasi goreng lezat. Sebenarnya mereka mau mengadakan secret meeting dimana mereka bisa berdiskusi tentang kasus ini, tapi ini malah mampir ke warung dulu, dan mereka juga langsung berdiskusi dan tak sengaja ditonton costumer lain. Dari diskusi panjang dan lama dan nambah menu makanan lagi, mereka berdua sepakat membagi tugas untuk investigasi selanjutnya. Det. Dito langsung menuju tempat les Jay dan Det. Lyan mencari informasi lanjutan ke rumah Det. Cita.

Dengan berbekal pengetahuan lebih soal lampu lalu lintas, Det. Lyan berangkat menuju rumah Det. Cita dengan vespa kesayangannya. Karena letaknya lagi-lagi diluar kota dan agak terpelosok, menempuh 20 menit perjalanan akhirnya Det. Lyan tiba di rumah Det. Cita yang sepi.

“SMOOLEEEKOOOOOOM,” seru Det. Lyan dari luar.

Lama menunggu tak ada jawaban, tiba-tiba ada suara seperti paduan suara menjawab dari dalam.

“WLEEKOOMSAAALAAAAAM,” seru dua suara.

“Hadeeeeeh, duo Rumpik masih exist aja neeh,” ujar Det. Lyan dalam hati.

BERSAMBUNG, TO BE CONTINUED…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers