“Sudah bangun?” Det. Cita berjongkok disamping Det. Dito yang mulai membuka matanya. Kepalanya pusing sekali.
“Loooh? Kok aku bisa disini?”
“Kamu sih, dibilangin buruan pergi malah ngotot.”
“Mumpung disini, jadi sekalian aja.” Det. Dito memandang sekelilingnya lalu menatap Det. Cita sodarinya paling bohai itu. “Dirimu kok bisa ada disini sih?”
Det. Cita menghela nafas panjang. “Aku kan dapet kasus tuh, nah setelah ditelusuri aku menyamar jadi guru disini, tapi aku ketahuan.” Dia menghentak-hentakkan kaca bedaknya pelan. “Sejauh ini ada beberapa bukti yang aku temukan.”
“Dan?”
“Para brondong itu disembunyikan di gudang bawah tanah dibawah tempat ini.”
“Terus?”
“Mereka dilatih untuk bekerja, dan ada juga yang lebih parah, mereka otaknya di laundry.”
Det. Dito mendengus menahan tawa. Disaat seperti ini masih saja bisa bercanda. “Cuci otak kalee Mbak Ci.”
“Oooooh, salah ya?” Det. Cita terkikik.
“Lalu, bagaimana bisa tak ada yang curiga? Masa orang tua mereka tidak khawatir?”
“Itulah, hasil laundry otak itu ditransferkan ke boneka yang dibuat 100% mirip sama yang aslinya, lalu mereka dikirim ke rumah masing-masing.”
“Dan kira-kira apa yang akan mereka lakukan pada korban disini? Apa benar akan dikirim ke Arab untuk jadi TKI atau TKW?”
Mendengar kata Arab, Det. Cita langsung antusias tiada tara. “Ya nee laaaaah, aku aja deh yang dikirim kesana, mau aku, beneran deh.” Dia langsung terkikik lagi. “Aku belum sampai ke arah sana penyelidikannya.”
“Owalah Mbak Ci, ta kira lak sudah sampe jauh.” Det. Dito menepuk kepalanya tapi menghasilkan bunyi prang prang!!!
Det. Cita mengangkat bahu, sekarang dia tampak sangat putus asa. Det. Dito bisa merasakan kesedihan mendalam itu (alay jaya). Dia menepuk-nepuk bahu Det Cita yang balas memberinya senyuman lemah. Keduanya sekarang bingung apa yang akan mereka lakukan. Harapan mereka adalah Det. Lyan akan muncul dengan batalyon bantuannya. Mendadak, dari arah pintu mereka mendengar seseorang.
“Ho ho ho ho, kedua Detektif handal sedang diskusi ya?” Sophie berjalan mendekat sambil tertawa lebar. “Maaf ciiiin, nggak ada jalan keluar dari sini.” Dia menggoyang-goyangkan jarinya.
“Apa mau mu?” Det. Cita setengah berteriak.
“Oooooh, santai santai! Marah-marah tidak akan membawa kebebasan.”
“Santai Kuta ada di Bali ya?” celetuk Det. Dito.
“Itu pantai, bapak!!!”
“Pantai itu ini kan?” Det. Dito menunjuk pantatnya.
“Itu pantat!!! Nama bus deh itu.”
“Itu Patas bu!!” Det. Dito berdiri dan mendekati jeruji selnya. Sophie juga melakukan hal yang sama. Mereka saling bertatapan dan dari tatapan itu muncul kilatan-kilatan petir. “Nantangin ya?”
“Siapa takut??”
“Takut petis.”
“Tahu pak, yang dipasang dibadan itu.”
“Tattoo bu, tattoo telor.”
“Halah balik lagi, kreatif dikit kek.”
“kudikit rabies ntar ya!”
“Gigit itu. Gigit taringku siap mengoyak!”
“Gigi ciiin. Gigi itu kan….”
Det. Cita mendadak maju melangkah hingga berada diantara Det. Dito dan jeruji sel dan Sophie. Dengan tangan mengacung ke arah keduanya, dia menghela nafas panjang dan sedikit berteriak. “HEEEE INI NGGAK PENTING BANGET BERDUA! INI BUKAN WAKTUNYA MAIN PELO-PELO AN*.” (pelo-pelo an: permainan pelesetan kata)
“Ih ganggu aja nih sodariku, lagi seru nih!”
Lagi-lagi, mendadak mereka dikejutkan sebuah suara. “Jangan ada yang bergerak!” Kedua Detektif Geje dan Sophie menoleh ke arah suara. Teryata ada seorang wanita yang berpakaian serba hitam dan mengacungkan dua pistol ke arah mereka. Perlahan-lahan wanita itu semakin mendekat hingga wajahnya tampak oleh kamera (baca: lampu).
“Dina Craft!!!” pekik Det. Dito dan Det. Cita bersamaan.
“Heya kawan-kawan, apah kabarh?” wanita bernama Dina Craft itu menatap mereka dengan tatapan seksi tapi mengintimidasi dan menggoda sambil tersenyum. “Koreksi sedikit, panggil aku Dee, biar keren.”
Sophie sontak mengangkat kedua tangannya. “Bagaimana kau bisa masuk kemari?”
Dee, dengan tatapan yang sama menoleh pada Sophie dan mengacungkan salah satu pistolnya ke arah wanita centil itu. “Mana kucinya? Buruan lepasin mereka.” Dee memberi kode dengan pistolnya.
“Aku nggak punya kuncinya ciin, kalau mau buka tanya sama Jay.”
“Oh, begitu. Ya sudahlah.” DOR!! Dee menembak gembok di sel yang membuat Det. Cita dan Det. Dito terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Walhasil pintu sel terbuka. Begitu sadar, kedua Detektif segera keluar.
“Ini, perlengkapan kalian.” Dee menyerahkan sebuah tas yang tadi disandangnya ke Det. Cita.
“Thanks Dee, you are lifesaver.”
“Wah pisauku ada disini. Galaxy Mini ku juga ada. Wow, ngomong-ngomong gimana bisa masuk Dee?”
“Aku dapat telepon dari Det. Lyan, langsung aku menuju kesini.”
“Barang-barang ini?”
“Si resepsionis jangkung memberikannya padaku secara cuma-cuma.” Dee mengelus pistolnya.
“Trus, dirimu ada ngliat anak laki-laki yang bergaya cool nggak?”
“Oh anak itu? Dia masih berdebat sama si resepsionis tentang Korea VS Jepang gitu.”
“Oh, syukur deh dia selamat. Tapi masih aja berdebat soal yang tadi, hadeeeh.”
“Tenang saja, aku sudah menyuruh anak itu mencari tempat persembunyian yang aman.”
“Bagus deh.” Det. Dito menghela nafas lega.
“Be te we, Sophie mana tadi?” Perhatian ketiganya sempat teralihkan dan tak sadar kalau Sophie berjingkat pelan dan kabur.
“Ini akses masuk ke ruang bawah tanah, buruan kalian kesana dan selamatkan para brondong itu, aku akan mengejar Sophie.” Dee menyerahkan sebuah ID card lalu segera melesat menyusul Sophie sementara Det. Dito menelpon Det. Lyan memberi kabar. Det. Cita sedang memasang perlengkapannya lalu keduanya bergegas menuju ruang bawah tanah yang tak jauh dari situ.
Sementara itu, Dee yang berhasil mengejar Sophie sedang adu tembak dengan anak buah Jay yang lainnya. Dengan kemampuannya menembak dengan anggun, ditunjang dengan kelincahannya berakrobat, Dee berhasil melumpuhkan semua lawannya. Dan dia berhasil memojokkan Sophie di sudut paling tinggi di gedung utama.
“Hei kamu seseorang! Beraninya cuma pake senjata!” teriak Sophie terus mundur sambil mengacungkan sebuah pistol pada Dee.
Dee menatap sinis dan sedikit mengintimidasi lalu mengacungkan kedua pistolnya lagi. “Kamu juga tuh bawa pistol.”
“Iya memang, buat jaga diri.”
“Lalu apa gunanya kalau kau sudah terpojok begitu?” Dee semakin maju.
Sophie melemparkan pistolnya ke lantai dan membuka jaketnya dengan gaya lalu melemparkannya ke kanan jauh. “Oh baiklah, aku tidak memerlukan semua ini. Kau boleh tembak aku, lakukan apa saja terserah deh.”
Dee tampak ragu-ragu sesaat, lalu dengan segenap keteguhan hati dan keyakinan jika A+B=C Dee mulai mengeluarkan segala senjata yang dimilikinya. Mulai dua pistol kesayangannya hingga kehabisan peluru, lalu shotgun, assault rifle, senapan laras panjang, sniper, hingga bazooka, lalu melemparkan granat, bom nuklir miniatur, kapak, palu, paku payung, hingga menebaskan katana sepanjang 2 meter. Tapi rupanya semua itu tidak ada efeknya. ” maap ciin, ga kerasa apa-apa tuuh, hoooaaaayyyaaaaaammm, geli benjuudh.” Sophie hanya tertawa membahana. Gila ya nih orang, bisa kebal senjata dimana-mana.
Lalu Dee terduduk kelelahan. Dia memberi tanda pause pada Sophie yang rupanya sedang sibuk tertawa lebar. Bluk! Tak disadarinya, sebuah benda terjatuh dari tas kecil yang disandang Sophie. Aha! Ceklak ceklik! Dee teringat akan sesuatu. Dari data yang diberikan Det. Tommy melalui Det. Lyan tentang profil Jay dan organisasinya, Dee menyadari kalau kelemahan Sophie ada pada benda yang barusan jatuh itu. Dengan semangat membara lagi, Dee berguling lalu meraih benda itu dan berguling kembali ke posisi semula.
“Hei Sophie!” wanita berambut bergelombang itu menghentikan tawanya.
“Apaan?”
“Aku tahu apa yang bisa membuatmu kalah.” Dee memberikan tatapan khas nya pada Sophie sambil meringis.
“Sudah tahu kan kalau aku tak bisa dilukai.”
“Oh maaf, sekarang bisa.”
Sophie mendadak pucat. Secara reflek dia langsung merogoh tas kecilnya dan mengobok-oboknya dengan panik. “Jangan bilang kalau…”
“Ha! Kena kau sekarang!” Dee mengacungkan benda yang terjatuh tadi.
“Haduuuuh ciiiin, balikin dong! Gimana aku bisa ngurusin orang bayar-bayar kreditan sama pulsa kalau itu nggak ada, buruan dong ciiiin!!!” Sophie menangis sejadi-jadinya sambil menghentakkan kakinya.
“Maaf, tapi kau harus melakukan sesuatu dulu agar benda ini kembali.”
“Apaan tuh ciin, aku bakal lakukan semua keinginanmu. Yang penting balikin.”
Dee kembali menyeringai dengan memasang tatapan khasnya. “Aku ingin kamu isiskan pulsaku 100.000 GRATIS TIS TIS tanpa syarat.”
“Haduuuuh ciiin, bisa rugi nih bandar pulsanya.” Sophie langsung merubah ekspresinya begitu melihat Dee mengancam benda kesayangannya itu dengan korek. “Oke deh ciiin, kali ini aja ya, aku males nombokin.”
“Tentu saja. Setelah ini cepat pergi dari sini. Kami akan memburu Jay si Mesos Cucok itu. Eh nunggu apa? Mau dibakar nih?”
“Iya iya ciiin, haduuuuh, rumpik deh. Berapa nomor HP-nya?” Dengan cepat Sophie mengeluarkan handphone nya dan memproses transfer pulsa pada Dee. DONE! Transaction Success.
“Awas kalau aku melihatmu lagi disini, sekarang cepat pergi!” Dee melemparkan benda itu yang ternyata sebuah buku warna pink yang mentereng. Isi dari buku itu sendiri ternyata adalah catatan kredit barang dan transaksi isi pulsa yang belum dibayar. Aneh juga nih orang, masa catatan beginian lebih penting dari yang lain. “Hadduuuh ciin, hilang uang lebih baik daripada hilang catatan ini.” Sophie membaca mimik muka Dee sebelum akhirnya kabur.
Melihat Sophie yang sudah semakin jauh pergi, Dee mengeluarkan HP-nya dan mengecek. “Haghaghag, lumayan pulsa gratis.” Untuk pertama kalinya Dee terkikik. Lalu dia menelpon seseorang. “Tinggal satu orang lagi yang perlu diburu sekarang. Cepetan datang kesini, karena keadaan sudah mulai menggila.” Di lantai bawah tempat peperangan sudah mulai ribut lagi. Muncul lebih banyak anak buah Jay yang datang. Det. Cita dan Det. Dito butuh bantuan. Dee pun bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju medan pertempuran.
SEMENTARA ITU….
Det. Cita dan Det. Dito, dua bersaudara beda orang tua dan beda kakek nenek, berhasil masuk ke dalam ruang bawah tanah. Mereka bekerja dengan sangat solid untuk mengintai sekitar dan sesekali terlibat baku tembak dan baku hantam dengan anak buah Jay yang berjaga. Hingga semakin dalam, mereka menemukan ruangan-ruangan tempat para brondong disekap, lengkap dengan tempat pe-laundryan otak, workshop untuk melatih bekerja (ya nyuci, ngepel, ngangkat jemuran, ngecat tembok, reparasi listrik, semua ada deh). Lagi-lagi mereka bekerja sama dalam baku tembak dan baku hantam demi menyelamatkan para remaja tidak berdosa itu. Dan puncaknya, seseorang sudah menunggu mereka. Ninja Alan yang sekarang erubah penampilan ala Neo Matrix berdiri di sebuah hall besar seorang diri. Det. Cita langsung cekikikan sendiri. “Cieh nih brondong, rapi ya sekarang.”
“Halah Mbak Ci, bukan waktunya.”
Alan membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedua tamu tak diundang itu. “Selamat datang, bertemu lagi denganku Alan di acara, Pembantaian Tamu tak Dikenal.”
“Geje, masih saja bisa ndagel* di saat seperti ini.” Det. Dito maju beberapa langkah dengan gagah hingga mereka saling berhadapan walaupun agak jauh. (ndagel= bercanda)
“Disini sejauh kalian bisa melangkah. Selanjutnya, kalian tidak akan melihat dunia luar.”
“Apa yang kau tawarkan?”
“Pertarungan eloh.” menunjuk Det. Dito. “Dan gueh.” menunjuk dirinya sendiri.
“Oke, akan kulayani!”
Alan memberi tanda untuk melihat ke arah kiri. “Pilih senjatamu disana.” Det. Dito melihat ke arah kiri dan mendekat. Wowzer!! Beragam tipe pedang ada disana. Mulai yang kecil, besar, berukir, polos, asli dari stainless steel, sampe sterofoam, semua lengkap. “Aku ambil ini saja.” Det. Dito mengambil sebuah katana berukuran sedang yang tampak mengkilat dan polos tanpa ukiran.
“Baiklah, kita akan buktikan siapa yang pantas mendapatkan Detektif Cita.” ucapan Alan membuat krik krik krik moment antara kedua Detektif bersaudara.
Det. Cita tersipu. “Aduh jangan rebutan aku dong, aku kan jadi malu.”
“Heh, kesempatan aja nih, buruan selametin tuh brondong-brondong!”
“Ya sudahlah, kamu hati-hati ya.” Det. Cita bergegas meninggalkan Det. Dito dan Alan yang sudah memasang kuda-kuda pertempuran.
“Baiklah, kita mulai pertarungan ini.”
Alan dan Det. Dito sama-sama bergerak cepat mendekati satu sama lain dan mulai menebaskan senjata masing-masing. Mereka beradu pedang dan saling serang, tangkis, dan membuat gerakan menipu lawan untuk saling melukai. Det. Cita semakin menjauh hingga suara adu pedang kedua lelaki itu. Satu persatu Det. Cita membuka kunci ruangan tempat para brondong ditahan. Mereka bergegas lari dan meninggalkan gedung itu. Bersamaan dengan itu, Det. Lyan berlari mendekat ke arah Det. Cita yang sedang sibuk mengatur brondong-brondong keluar.
“Heeeeiiii, Mbak Cita!”
“Lyan! Dari mana aja sih?”
“Ngumpulin kawan-kawan, tapi ya haduuuuh, ini duo rumpik malah ngikut.”
Det. Cita melirik ke belakang Det. Lyan dan melihat dua adiknya yaitu Duo Rumpik Enggar dan Lia sedang bingung sendiri melihat banyak orang berlari dan sesekali berkomentar jika ada anak seumuran mereka yang cakep.
“Ngapain kamu bawa mereka kesini Ly?”
“Mereka maksa ikut Mbak Ci, mau menyelamatakan kakak rumpik katanya.” Det. Cita menepuk jidatnya sendiri.
Melihat Det. Cita, duo rumpik segera mendekat. “Eeeeeeh, Mbak Citaaaa…. Haduuuh kenapa ini???” Enggar langsung menyambut Det. Cita.
“Kalian juga ngapain disini?”
“Haduh kitaaah mo nyelametin eloooh!!”
“Malah tambah ribet, haduuuh.” Det. Cita berpikir keras sambil merengut. “Gini aja, kalian balik ke pintu depan sana, bantuin atur anak-anak itu keluar dari sini.”
“Tapi Mbak Ciii kita kan nyelametin eloooh.”
“Ini bagian dari misi, mau bantuin ga?”
Tanpa dikomando Duo Rumpik langsung melesat menuju luar dan langsung pergi. Det. Cita dan Det. Lyan menggeleng bersamaan disertai wajah lega. Tapi ternyata kelegaan mereka hanya berlangsung sebentar karena mereka melihat Galih sedang berjalan pelan mendekat. Anehnya wajah anak ini begitu tenang.
“Kamu siapa?”
“Aku mencari pencuri hatiku.”
Krik krik krik…
“Aku mencari Detektif aneh yang masuk kesini beberapa jam yang lalu.”
Det. Lyan dan Det. Cita berpandangan.
“Dito? Dia masih ada urusan. Memang ada apa?”
“Oh, cuma bertanya saja, kukira dia kena masalah apa gitu nggak keluar-keluar. Ya sudah aku keluar lagi saja.” Galih ngeloyor pergi dengan gaya cool nya menuju ke pintu depan tempat les. Tentu saja hal ini semakin membuat kedua detektif wanita itu bertanya-tanya sendiri.
Lalu tersadar dari lamunannya, kedua detektif wanita itu mengecek sekali lagi seluruh ruangan disana sebelum memutuskan kembali untuk melihat keadaan Det. Dito. Rupanya, Det. Dito dan Alan masih bertempur sengit. Sabetan pedang keduanya begitu hebat bahkan bayangan mereka pun bertarung sendiri. Nasib baik masih berpihak pada Det. Dito, satu sabetan pedangnya berhasil menggores kulit coklat eksotik Alan. Alan membalas serangan itu tapi Det. Dito berhasil menghindar dan menyabetkan pedangnya beberapa kali lagi. Alan mengalami luka parah.
“Kamu… memang hebat… aku mengakuinya… tapi… aku…. bakal… kembali.”
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Alan menggunakan jurus menghilang disertai suara mirip kentut (?) dan Det. Dito hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya roboh. Beruntung Det. Cita dan Det. Lyan segera datang. Bahu membahu mereka menggotong Det. Dito yang terluka parah itu. Tepat di lapangan teras mereka melihat Jay sedang berdiri disana bersama anak buahnya yang cukup banyak. Rupanya para korban sudah berhasil diselamatkan semua karena tak ada satupun lagi disitu. Disitu juga ada Dee yang mengacungkan kedua pistolnya dengan waspada.
“Bravo… bravo… hebat sekali.” Jay dan anak buahnya dengan anehnya tepuk tangan bersama. “Lihatlah ini, semua musuhku sudah berkumpul disini.”
“Apa maumu sebenarnya Jay?” Det. Dito akhirnya bersuara dengan sisa tenaganya.
“Sebenarnya ini semua hanya kedok.”
Dee menatap dengan tatapan khasnya. “Kedok apa? Kedok ngorek?”
“Itu kodok!!!! Inilah yang kubenci dari kalian!!!”
“Memang kau mengenal kami?” seru Det. Lyan.
Jay tertawa terbahak-bahak. Dia memberikan satu lagi tatapan sinis.
“Jadi kalian benar-benar lupa padaku ya. BAIKLAH! AKAN KUBUAT KALIAN INGAT!”
Ketiga detektif dan Dee memasang sikap waspada dengan apa yang akan dilakukan Jay. Sementara Jay memberi kode agar semua anak buahnya menjauh. Mereka membuat formasi melingkar rapat yang didalamnya ada Jay dan ketiga detektif serta Dee Craft.
“Kalian ingat apa yang kalian lakukan pada seorang anak bernama Desinta beberapa tahun yang lalu?”
Ketiga detektif dan Dee terpekik mendengar nama itu “Desinta?”
Teringat di benak mereka kejadian empat tahun silam dimana ketiga detektif dan Dee belum jadi seperti sekarang ini. Mereka semua, Dito, Cita, Lyan, Dee, dan seorang laki-laki tembem bernama Mie Mun sedang menertawai seorang gadis dengan wajah sedikit mengintimidasi alias misuh-misuh* (Misuh-misuh=badmouth). Sesekali menggoda si gadis yang kebetulan juga latah, lalu mereka mencoba membuat si gadis itu tertawa terbahak-bahak karena kalau tertawa dia tak pernah lupa menutup mulutnya rapat-rapat dengan harapan jika dia membuka mulutnya, kelima sahabat ini bakal habis-habisan mengerjainya.
Setelah mereka puas mengerjai, mereka meninggalkan gadis bernama Desinta itu dalam keadaan masih tertawa-tawa sendiri, tapi karena kelelahan, dia jatuh ke tanah dan pingsan. Disitulah terakhir kali kelima sahabat melihatnya.
Jay memandang mereka semua dengan kebencian yang sangat. “Kalian tahu apa yang terjadi padanya setelah kalian mengganggunya seperti itu? Bukan sekali tapi berulang kali.”
Keempat orang itu menggeleng bersamaan.
“DASAR ORANG-ORANG PARAH!!!!” Jay berteriak sebegitu hebatnya. “ADIKKU ITU DIKIRA ORANG GILA KARENA TERTAWA DAN LATAH SENDIRI TAU!!!!”
“Oooooooooo.” Seru ketiga detektif dan Dee seperti paduan suara koor.
“Buleeeeeeeeeeeeet!!!!” Mereka semua dikejutkan suara keras yang berasal dari atas. Dan saat mereka melihat, turun sepasukan tentara bersenjata yang langsung menembak dengan ganas dan membuat anak buah Jay jadi kocar kacir sementara ketiga detektif dan Dee menyelamatkan diri. Diantara para tentara yang mulai sibuk menangkapi anak buah Jay turun seorang anggota SWAT yang cara turunnya begitu dramatis. Bahkan helikopter yang mengangkutnya sedikit oleng karena keberatan. “Haloooo Men… dol!!”
“Mie Mun??” ketiga detektif dan Dee berseru bersamaan.
Sementara dari interkomnya, laki-laki misterius bernama Mie Mun itu diteriaki oleh seseorang. “HE TALINYA LEPASIN DONG KALO SUDAH TURUN! BERAT BANGET NIH!”
Mie Mun terkikik geli. “Maap maap, aku lupa.” katanya lalu melepas tali yang bertengger di tengkuknya (?).
“Mun! Lama amat sih?” Seru Det. Dito sambil melempar batu kecil.
Mie Mun membuka helmnya. Tampaklah wajahnya yang bulat karena pipinya besar dan membuat orang ingin menamparnya karena lucu. Dia memberikan senyuman sepuluh jari (wuik berarti lebar banget ya) dan mengangkat jempolnya. “Santai santai, serahkan semua padaku.”
“Jadi Jay, rupanya selama ini kau sudah salah paham.”
“Apa maksudmu Mun?”
“Desinta memang pingsan waktu itu, bahkan setelah kau bawa dia ke UKS. Tapi kemudian dia mengirim pesan padaku.”
“Apa yang kau katakan Mun? Dia dikirim ke Rumah Sakit Jiwa!!”
“Tidak seperti itu. Dia memang pergi ke rumah sakit untuk membetulkan giginya lalu ke salon untuk meluruskan rambutnya.”
“Tidak mungkin! Adikku tidak mungkin berbohong.”
“Itu karena dia tidak ingin kau menemuinya saat-saat itu, karena malu. Jadi dia memutuskan bersembunyi sementara. Hingga saat ini setelah kuliahnya lulus, dia baru berani menemuimu.”
Jay terduduk di tanah dengan tatapan tidak percaya. Dia menunduk dan terdiam lama sekali.
Mie Mun berjalan mendekati Jay dan berjongkok di hadapannya. “Desinta merasa berterima kasih karena kami selalu menghinanya, itulah motivasi dia untuk merubah penampilannya agar lebih pede dan tidak malu karena jadi adikmu.” katanya pelan.
Jay langsung menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya di rumput. Setelah pertarungan panjang ini, masalah berhasil terselesaikan. Akhirnya Jay bersedia untuk ditangkap atas kejahatan yang dilakukannya. Ketiga Detektif dan Dee serta Mie Mun merasa lega.
2 bulan kemudian…..
Ketiga detektif, Dee, Mie Mun, Duo Rumpik, serta Galih menjalani liburan panjang. Kesempatan itu dipergunakan mereka untuk berplesier. Baik ke pantai, ke gunung, pokoknya keliling pulau Jawa. Dengan satu catatan kalau Det. Tommy menginginkan beragam oleh-oleh dari berbagai daerah. Sembari itu, kelima sahabat mereview apa yang pernah mereka lakukan semasa sekolah dulu. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, kelaparan bersama, tapi tidak mandi bersama (bahaya kaleeee). Mereka akan selalu mengingat hal itu hingga akhir hayat mereka.
THE END
CAST
(IN ORDER OF APPEARANCE)
DETEKTIF LYAN – LYAN CHRISTIE
DETEKTIF DITO – ADITYA DITO
DETEKTIF TOMMY – MBAH TOMMI
CAK IMIN – ROCHIM EKA SAPUTRA
MAK TEE – TIA MEOW
ENGGAR DUO RUMPIK – ENGGAR JUNIA HIDAYAT
LIA DUO RUMPIK – LIA EMOCHUCKZSMART
GALIH – GALIH ASMORO
ALEJANDRO – FIKRI ZOEL
JAY – EKO JAYANTO
SOPHIE – SOFIE NOCH SCHOEN
DETEKTIF CITA – CITA CITAN
NINJA ALAN – ALANS ACHMAD
DINA CRAFT/ DEE – DINA HOLMES
MIE MUN – SLAMET JERMAN
DESINTA – HERSELF
SEE YOU AGAIN DENGAN CERITA GEJE LAIN, PLEASE JANGAN MERASA OFFENDED KARENA INI HANYA FIKSI
BEST REGARDS, PENULIS
-7.287243
112.739048