“I’m your biggest fans, I’ll follow you until you love me, papa… paparazzi” penggalan lagu Paparazzi yang sedang kudengarkan saat ini. Lagu tahun 2009 dimana dinyanyikan oleh the Mother Monster Lady Gaga. Lagu lama memang, tapi versi yang saya dengar saat ini adalah versi live di MTV VMA 2009. Lagu biasa itu digubah sedemikian rupa dengan penambahan unsur orchestra dan performancenya yang sangat menarik bahkan menyindir. Lady Gaga is the best.
Berbicara tentang paparazzi sendiri. Yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar kata itu mungkin adalah sekelompok orang yang memegang kamera dan dengan gilanya mengambil foto dari orang penting, artis, tokoh politik dan lainnya. Dan dari situ, kebanyakan memang benar. Banyak orang yang merasa hidupnya sangat tidak nyaman dengan keberadaan kumpulan orang ini. Mengganggu sekali seperti kumpulan nyamuk. Filosofi dari paparazzi sendiri diambil dari nama tokoh di sebuah cerita yang bernama Paparazzo yang kebetulan adalah nama fotografer berita. Dari sini, masyarakat menggunakan paparazzi sebagai simbol fotografer.
Seorang paparazzi adalah mereka yang bekerja secara independen. Yang paling mendapat nama buruk adalah paparazzi khusus selebriti, dimana mereka memburu banyak foto pribadi, kehidupan sehari-hari dari seorang artis, dan menjualnya pada pihak infotainment atau majalah gosip artis. Dari situ mereka mendapatkan uang yang tak ternilai harganya. Tetapi demi itu, banyak masalah yang mereka timbulkan sendiri. Selain harus rela mengejar kemanapun, menghilangkan kehidupan pribadi, mereka juga harus berurusan dengan sang empunya foto jika mereka tidak terima atas perbuatan si paparazzi. Yang lebih parah malah bisa menghilangkan nyawa si orang penting itu sendiri.
Mereka sebenarnya bukan hanya mengganggu kalau kata saya, banyak juga orang yang berkawan dengan paparazzi, membiarkan diri mereka terekspos. Entah karena mereka ikhlas atau hanya sekedar mengangkat popularitasnya saja. Jika dianggap musuh, malah lebih parah. Ada banak sekali kasus dimana si artis A atau B melakukan kekerasan pada paparazzi. Melukai hingga mereka kapok atau berusaha melakukan pembunuhan karena saking bencinya. Di beberapa kasus yang juga pernah saya baca dan dengar, beberapa artis sampai mengurus surat yang membebaskan mereka dari kejaran paparazzi.
Semua itu kembali lagi pada pola pikir tiap orang. Paparazzi juga manusia biasa, seyogyanya harus bisa sama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Mengejar berita boleh saja, tapi harus tahu batas, dan para “korban” juga harus bisa menjaga dirinya, bukan membuka semua untuk diekspos walaupun bukan kemauan mereka. Paparazzi tidak akan muncul begitu saja jika si “korban” tidak membuat ulah, atau membuat sesuatu yang menurut paparazzi mendekati mereka.
Tentunya, ini adalah pendapat saja, jika ingin ditentang, ditambahkan, atau dihina, dengan senang hati akan diterima
link untuk video Lady Gaga MTV VMA 2009: http://www.youtube.com/watch?v=YTPB4Sz7DyQ
‘DITO’





























