Teriknya hari ini begitu membuatku kering.
Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Kutinggalkan semua kemewahan, kesenangan, kekuatan.
aku hanya bergantung pada kakiku.
Mengejarnya, menyusulnya.
Pengorbanan terbesar selama hidupku.
Keegoisan, kedigdayaan, kesombongan runtuh.
Hanya karena satu tatapan matanya. Mata biru cemerlang yang terus menghinaku.
Menghina semua sifat jumawaku.
Aku tak tahu bagaimana aku bisa tunduk olehnya.
“Kalau kau memang menginginkanku, kau harus jadi manusia. Seutuhnya.” ujarnya hanya dalam tatapan tajam.
Kulakukan apapun untuknya. Aku terus berjalan untuk mengejarnya. Pakaian seadanya, sudah basah, sekarang kering di badan. Tapi aku tak tahu seberapa lama lagi aku bertahan. Tak ada air, tak ada makanan, hanya dia yang menghias relung kalbuku.
Aku roboh, aku kalah. Aku menatap nanar. Aku pun terbaring diantara panasnya padang tandus dan lentera perkasa di angkasa, menutup mata.
****
Sejuk sekali. Kesejukan yang sangat kuidam-idamkan. Dimanakah aku?
Kubuka mataku dan kutatap dia. Mata biru yang kurindukan itu. Sekarang bukan tatapan kejam dingin menusuk. Tapi tatapan teduh menenangkan hati.
“Aku sudah manusia, seperti yang kau mau,” dengan sisa tenaga aku berbisik.
“Sudah siap meninggalkan semua ini? Sudah bisa mengikhlaskan duniamu yang fana?”
Aku mengangguk pelan dan sang mata biru mendekatiku. Kurasakan pelukannya yang hangat dan nyaman. Kututup pandanganku dan aku tenang. Aku terbebas dari semua beban.


