Archive for February, 2012


Hmmmm kayanya lagi ada ide buat bikin cerita baru tapi diawali dari mana ya? Hmmmm dari puisi dulu deh…

Dita PoV

Kamu…
Mungkin buatku, kau yang terindah
Pertemuan tak terduga
Kau menyebalkan
Kau dengan ketidak pedulianmu
Kau yang hitam tapi manis
Bulan hijau dan matahari merah terlukis pada bahumu

Entah aku kadang benci
Tapi aku selalu merindukanmu
Aku kadang sebal
Tapi rasa itu yang membuatku senang

Aku menginginkanmu
Lebih dari sekedar teman
Aku menyayangimu
Tapi bukan sebagai saudara

Entah kau tahu apa yang kurasa
Entah kau menyadari apa yang kuinginkan
Entah kau mengerti arti tatapan yang kuberikan

Aku menyayangimu…. selalu, walau kau tak pernah tahu

Posted from WordPress for Android

Paparazzi…

“I’m your biggest fans, I’ll follow you until you love me, papa… paparazzi” penggalan lagu Paparazzi yang sedang kudengarkan saat ini. Lagu tahun 2009 dimana dinyanyikan oleh the Mother Monster Lady Gaga. Lagu lama memang, tapi versi yang saya dengar saat ini adalah versi live di MTV VMA 2009. Lagu biasa itu digubah sedemikian rupa dengan penambahan unsur orchestra dan performancenya yang sangat menarik bahkan menyindir. Lady Gaga is the best.

Berbicara tentang paparazzi sendiri. Yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar kata itu mungkin adalah sekelompok orang yang memegang kamera dan dengan gilanya mengambil foto dari orang penting, artis, tokoh politik dan lainnya. Dan dari situ, kebanyakan memang benar. Banyak orang yang merasa hidupnya sangat tidak nyaman dengan keberadaan kumpulan orang ini. Mengganggu sekali seperti kumpulan nyamuk. Filosofi dari paparazzi sendiri diambil dari nama tokoh di sebuah cerita yang bernama Paparazzo yang kebetulan adalah nama fotografer berita. Dari sini, masyarakat menggunakan paparazzi sebagai simbol fotografer.

Seorang paparazzi adalah mereka yang bekerja secara independen. Yang paling mendapat nama buruk adalah paparazzi khusus selebriti, dimana mereka memburu banyak foto pribadi, kehidupan sehari-hari dari seorang artis, dan menjualnya pada pihak infotainment atau majalah gosip artis. Dari situ mereka mendapatkan uang yang tak ternilai harganya. Tetapi demi itu, banyak masalah yang mereka timbulkan sendiri. Selain harus rela mengejar kemanapun, menghilangkan kehidupan pribadi, mereka juga harus berurusan dengan sang empunya foto jika mereka tidak terima atas perbuatan si paparazzi. Yang lebih parah malah bisa menghilangkan nyawa si orang penting itu sendiri.

Mereka sebenarnya bukan hanya mengganggu kalau kata saya, banyak juga orang yang berkawan dengan paparazzi, membiarkan diri mereka terekspos. Entah karena mereka ikhlas atau hanya sekedar mengangkat popularitasnya saja. Jika dianggap musuh, malah lebih parah. Ada banak sekali kasus dimana si artis A atau B melakukan kekerasan pada paparazzi. Melukai hingga mereka kapok atau berusaha melakukan pembunuhan karena saking bencinya. Di beberapa kasus yang juga pernah saya baca dan dengar, beberapa artis sampai mengurus surat yang membebaskan mereka dari kejaran paparazzi.

Semua itu kembali lagi pada pola pikir tiap orang. Paparazzi juga manusia biasa, seyogyanya harus bisa sama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Mengejar berita boleh saja, tapi harus tahu batas, dan para “korban” juga harus bisa menjaga dirinya, bukan membuka semua untuk diekspos walaupun bukan kemauan mereka. Paparazzi tidak akan muncul begitu saja jika si “korban” tidak membuat ulah, atau membuat sesuatu yang menurut paparazzi mendekati mereka.

Tentunya, ini adalah pendapat saja, jika ingin ditentang, ditambahkan, atau dihina, dengan senang hati akan diterima

link untuk video Lady Gaga MTV VMA 2009: http://www.youtube.com/watch?v=YTPB4Sz7DyQ

‘DITO’

Quotation 9

(Ars longa, vita brevis.) Art is long, life is short. A picture can become for us a highway between a particular thing and a universal feeling.

 

Lawren Harris

I marry the nights

“Hai kawan apa kabar?” Aku memandang orang itu lekat-lekat.

“Lama sekali tak dengar kabar darimu.”

“Sudah hampir dua tahun kurasa.”

“Kau bahagia?”

“Tapi kau membuatku menderita.” Air mataku jatuh tak tertahankan lagi.

“Kau tak ada disaat aku membutuhkanmu!”

“Kau tak disana saat aku ingin melihatmu!”

“Kau tak ada saat aku ingin membagi kebahagianku!”

“Kau hanya terdiam saat aku menceritakan kesedihanku.”

“Aku menyayangimu, memujamu, bahkan rela mati untukmu! Kenapa bukan aku yang meregang nyawa saat itu? Kenapa begitu tega mengambilmu?”

Aku menjatuhkan diri dihadapan pigura besar itu. Tempat dimana dia hanya menatapku dalam diam dan tanpa ekspresi. Kursi rodaku terdorong jauh.

“Seandainya kaki ini bisa menebusnya, akan kuserahkan semua. Jika butuh yang lain, aku akan memberikan semuanya. Hanya untukmu!”

Aku merambat naik meraih pigura itu dan merampasnya hingga terjatuh. Pecah. Menyebarkan serpihan kaca yang langsung melukai tanganku. Kupandang wajah itu lagi.

Wajah bersahaja seseorang yang selalu menemani hari-hariku. Ada kapanpun aku membutuhkannya.

Hingga kejadian naas menimpa kami. Tuhan memisahkan kami. Dia mengambil nyawanya sementara Dia hanya mengambil kakiku.

Tapi, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya disini. Diselimuti kegelapan ini, ingin terus merasakan kehadirannya.

Aku menikahi malam-malam yang telah kulalui.

Akhirnya aku sadar kalau aku hanya terpaku padanya. Masa lalu yang seharusnya sudah kulewatkan. Melangkah kedepan menatap jalan yang masih panjang, karena aku masih diberi kesempatan.

Tapi aku masih disini. Memilih mengurung diri dalam memori masa lalu.

“Lanjutkan hidupmu, aku akan selalu bersamamu. Entah di mana tapi kau adalah tempatku pulang.”

Aku tersenyum. Senyum pertama setelah aku memutuskan untuk menikahi kegelapan ini. Senyum bak secercah cahaya.

Posted from WordPress for Android

Bidadari

Teriknya hari ini begitu membuatku kering.

Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Kutinggalkan semua kemewahan, kesenangan, kekuatan.

aku hanya bergantung pada kakiku.

Mengejarnya, menyusulnya.

Pengorbanan terbesar selama hidupku.

Keegoisan, kedigdayaan, kesombongan runtuh.

Hanya karena satu tatapan matanya. Mata biru cemerlang yang terus menghinaku.

Menghina semua sifat jumawaku.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa tunduk olehnya.

“Kalau kau memang menginginkanku, kau harus jadi manusia. Seutuhnya.” ujarnya hanya dalam tatapan tajam.

Kulakukan apapun untuknya. Aku terus berjalan untuk mengejarnya. Pakaian seadanya, sudah basah, sekarang kering di badan. Tapi aku tak tahu seberapa lama lagi aku bertahan. Tak ada air, tak ada makanan, hanya dia yang menghias relung kalbuku.

Aku roboh, aku kalah. Aku menatap nanar. Aku pun terbaring diantara panasnya padang tandus dan lentera perkasa di angkasa, menutup mata.

****

Sejuk sekali. Kesejukan yang sangat kuidam-idamkan. Dimanakah aku?

Kubuka mataku dan kutatap dia. Mata biru yang kurindukan itu. Sekarang bukan tatapan kejam dingin menusuk. Tapi tatapan teduh menenangkan hati.

“Aku sudah manusia, seperti yang kau mau,” dengan sisa tenaga aku berbisik.

“Sudah siap meninggalkan semua ini? Sudah bisa mengikhlaskan duniamu yang fana?”

Aku mengangguk pelan dan sang mata biru mendekatiku. Kurasakan pelukannya yang hangat dan nyaman. Kututup pandanganku dan aku tenang. Aku terbebas dari semua beban.

PROLOGUE

THE DAY OF REBIRTH

Sebuah planet, dimana terletak di salah satu galaksi terbesar alam semesta sedang dalam kondisi memprihatinkan. Selain kekeringan abadi, di dalamnya hampir semua makhluk hidup mulai punah. Tinggal menunggu waktu hingga planet ini menghilang dari peredaran orbit. Suatu malam, sesuatu yang keras, besar, dan bercahaya melaju dengan kencang menuju planet. Sebuah meteor yang sangat besar menabrak permukaan planet dan mendarat di tengah lautan dengan suara memekakkan telinga. Kedatangannya mengundang perhatian dari sisa penghuni yang ada dan mereka berbondong-bondong mendekati benda asing tersebut. Tak ada reaksi, hingga beberapa saat kemudian benda itu mulai bergemuruh. Dari dalamnya muncul berbagai macam makhluk hidup. Di masa ini hingga seterusnya, mereka lah penghuni planet hingga akhir zaman. Selama tujuh hari kejadian ini berlangsung hingga benda itu mengecil dan tenggelam ke dalam lautan. Dalam kurun waktu hingga sepuluh ribu tahun planet ini kembali hijau dan mendapatkan kembali keindahannya. Semua makhluk yang hidup di dalamnya hidup dalam kedamaian dan senantiasa menjaga kelangsungan hidup rumah baru mereka itu. Hal ini dicatat sejarah dalam sebuah prasasti yang diberi nama berdasarkan nama yang diberikan pada benda asing itu, Diat Crede atau dalam bahasa kita disebut Cradle of Life.

THE WARS INSIDE

Disamping segala kenyamanan hidup yang sudah terjalin hingga saat ini, di dalam planet mulai muncul konflik-konflik. Bagaimana beberapa ras merasa superior, merasa paling hebat, menginginkan dirinya menjadi yang berkuasa atas alam semesta, saling menghancurkan, memberi teror dan memperebutkan kekuasaan. Perang. Itu adalah kata kuncinya. Dari semua perang yang tercatat dalam sejarah, mungkin perang antara ras spiritual GeneHva dengan Elven adalah perang terbesar dan menguras energi. GeneHva adalah ras yang bisa dikatakan nyaris sempurna, karena bisa hidup hingga jutaan tahun, dan tetap hidup walaupun tubuh fananya mati. Mereka arogan, sombong dan merendahkan ras yang lain. Tapi tidak semua GeneHva berpikir sama. Masih ada yang berpikir bahwa porsi mereka setara dengan ras lain di planet. Mereka juga punya keterbatasan. Adalah salah satu GeneHva bernama Odine mencetuskan ide untuk membuka diri dan berkomunikasi. Pada awalnya, yang menangkap sinyal komunikasi mereka adalah ras Elven dan hal itu disambut dengan baik. Usaha Odine ini ditentang oleh sekelompok GeneHva lain yang dipimpin oleh seorang bernama Haedus. Dia masih menganggap bahwa tidak sepatutnya ras “dewa” seperti GeneHva berkomunikasi dengan ras lain. Berbagai cara dilakukan untuk meyakinkan Haedus bahwa pemikirannya salah. Tapi dia tetap menentang dan mengancam akan memulai perang. Suatu masa, lahir empat orang manusia yang akhirnya diangkat sebagai perwakilan ras sempurna yang diharapkan menjadi jembatan perdamaian dunia. Manhya Edenoa, Naza Rheynox, Surien Dragnte, dan Elfaang Nagare adalah nama mereka dan mendapatkan julukan the Great Four Magician. Bersama mereka menghentikan semua peperangan di planet, dengan bantuan dari ras Elven dan GeneHva dibawah pimpinan Odine. Semua peperangan yang terjadi membuat planet dalam keadaan kritis. Banyaknya darah yang tumpah, korban yang bergelimpangan membuat planet serasa menangis. Kondisinya melemah, dan menginfeksi penghuninya. The Great Four Magician mencari sisa dari Diat Crede dan  mereka membuat sebuah Relic yang akan menopang kehidupan Planet, dengan harapan bahwa usaha terakhir mereka dengan menggunakan batu kehidupan itu bisa membantu. Mereka menamainya Nine Lives. Hasilnya, dengan keberadaan Relic itu, planet berangsur-angsur normal kembali.

Rupanya kehebatan Relic ini didengar oleh Haedus. Secara terang-terangan dia meminta Relic itu. Bahkan tak segan dia mengancam akan merebutnya dengan paksa. Tentu saja hal ini ditolak oleh semua pihak. Dan terjadilah, perang terbesar dalam sejarah untuk mempertahankan Nine Lives di sebuah daratan yang nantinya disebut daratan Maddickia. Dalam perang ini korban dari kedua belah pihak sangat banyak berjatuhan. Dan sebagai puncaknya Odine membuat sebuah segel dan mengurung Haedus di dalamnya. Sebelum tersedot masuk, Haedus bersumpah bahwa dia akan kembali lagi melalui ras sempurna dan akan menulis ulang sejarah. Odine melemparkan segel tersebut ke dunia bawah dan menguncinya.

THE CORE OF HISTORY

Kedamaian kembali terjalin. Sebagai pengingat atas semua peperangan yang terjadi dibangunlah sebuah kota besar di tempat jatuhnya Diat Crede. Kota itu berwujud gugusan batu besar yang dikelilingi delapan gugusan batu yang merupakan bagian dari kota utama. Dan di puncak kota utama ditanam sebuah pohon dari negeri Elven yang sangat besar dan mengalirkan energi positif kedalamnya.

Tempat ini juga merupakan tempat dimana Relic buatan the Great Four Magician disimpan. Oleh mereka, Relic ini ditempatkan di sebuah tempat dimana tidak ada orang atau satu makhlukpun yang bisa membukanya. Oleh Manhya, dia membuat pengecualian dimana menurut ramalannya hanya ada tiga orang yang bisa membukanya. Tiga orang yang penuh dengan cahaya. Semua berjalan lancar hingga beratus tahun dan kota itu semakin berkembang dengan pesatnya.

Di dalam penjaranya di dunia bawah, Haedus mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam dan meyusun tentara yang sangat banyak. Hingga suatu saat ada orang yang penasaran dan tidak sengaja membuka segel penjaranya setelah tidak sengaja menemukannya. Melalui tipu dayanya, Haedus berhasil keluar dari penjaranya dan berdiam didalam tubuh  orang itu. Sedikit demi sedikit dia mencari informasi keberadaan Nine lives dan terus berdiam untuk menanti saat yang tepat untuk keluar.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers