Malam itu seperti biasanya, bapak-bapak lagi ngumpul di warung kopi Bu Sul yang terkenal karena racikan kopinya yang pas. Ini adalah aktivitas rutin sebagai pelepas penat setelah seharian bekerja. Tak terkecuali dua orang bapak yang sudah berteman sejak kecil, Pak Brengos dan Pak Minthi. Pak Brengos, dipanggil begitu karena punya kumis tebal dan rapi yang membuatnya tampak sangar, sedangkan Pak Minthi dipanggil begitu karena perutnya yang besar yang dalam bahasa Jawa biasa disebut minthi-minthi. Setelah kopi favorit mereka pesan, mereka pun memulai percakapan.
“Piye anakmu Thi? Wes kerja belum?” tanya Pak Brengos.
“Durung Ngos, disuruh kerja kantoran yo ora gelem,” jawab Pak Minthi sambil menyeruput kopi Lanangnya.
“Anakku yo ngono e, malah senang kerja di jalanan, padahal yo sarjana,” kata pak Brengos sambil menggeleng.
“Halah yo wes ben ae Ngos, anak sekarang punya cara pikir dhewe.” tambah Pak Minthi.
“Iyo Thi, yang penting mereka senang, asal tau tanggung jawab,” kata Pak Brengos.
Tak lama kemudian, muncul dua orang anak perempuan Surti dan Warni. Mereka memesan kopi bungkus pada Bu Sul untuk dibawa pulang. Mendadak keduanya heboh sendiri saat melihat ke arah televisi.
“Sur!!! Coba liat itu, sinetronnya wes mulai,” pekik Warni.
“Iya War, ya ampun ganteng banget tuh artis, jadi pacarnya enak kali ya.” kata Surti sambil memandang terpesona.
“Ngunu o ae Sur, kalo jadi pacar kamu ya modus terus tiap hari,” kata Warni sambil tertawa.
“Ya iyalah War, kesempatan kok. Apalagi kalo dilamar,” kata Surti semakin terpesona.
“Ah GeJe kamu Sur, udah ayo pulang aja, langsung nonton,” kata Warni. Dan kedua gadis ini meninggalkan warung sambil bercerita.
Pak Brengos mengelus kumisnya, dan Pak Minthi mengelus perutnya. Keduanya sedikit tertarik akan perbincangan kedua gadis tadi lalu menatap ke arah televisi.
“Owalah yo, begitu aja ya heboh, cuma sinetron aja kok,” kata Pak Brengos.
“Aku yo heran, bojoku juga seneng banget, padahal ya isinya begitu itu,” tambah Pak Minthi.
“Nggak tau iki kualitas acara tivi kita ini belakangan, kalo nggak sinetron ya acara opo iku jenenge? Reliti Soo?” kata Pak Brengos.
“Halah, ketauan bloon e kamu itu Ngos, Realiti Su,” kata Pak Minthi.
“He pak, itu jenenge Reality Show, podho salahe ngono,” komentar Bu Sul dari balik meja yang disambut gelak tawa kedua bapak ini.
“Yo iku wes, kalo acara itu kok ya buka-buka aibnya orang,” kata Pak Brengos.
“Ujung-ujungnya apa? Ya tukaran maneh, opo yo ora malu, diliat semua orang,” tambah Pak Minthi.
“Justru acara kayak gitu yang lagi booming pak,” celetuk Bu Sul.
“Apalagi yang namanya sinetron. Isinya ya cuman ngono iku, kalo nggak rebutan harta, yang rebutan lanangan, isi kok nggak mendidik,” imbuh Pak Brengos lagi.
“Apalagi kalo wes masalah status. Mana wong sugih, mana wong kere digedhe-gedhe’no,” kata Pak Minthi.
“Apa bener yo orang Indonesia pikirannya koyok ngono? Diluar negeri aja negara kita ini dikenal ramah, mosok ke sesamanya koyok ngono?” kata Pak Brengos sambil menyeruput kopi Luwaknya.
“Ngajari kok ya ngono, mana itu lagi, wes wayahe habis yo masih mekso, kalo nggak nambah orang jahate, yo nambah penderitaane, owalah ora omes aku,” kata Pak Minthi. “Oh iyo, iku maneh. Ada juga sinetron yang ceritane anak kecil-kecil, kelas SMP ngono lahtapi wes iso pacaran koyok wong tuwek. Nek e cinta yo ora ngono toh, biasa ae. Orasampek nyelakain orang.”
“Oh temenan iku, anakku yang wadon tak larang kalo mau nonton, mendingan acara laine ae,” tambah Pak Brengos mendadak semangat. “Apalagi itu ada sinetron yang berbau mistis, owalah yo pantes ae kalo pikirane kita ini ora maju-maju, percoyo sama ngono-ngono iku secara berlebihan.”
“Jaman kita ndhisek, eling ga Thi, ada acara boneka-boneka tangan, terus acara soal pengenalan kebudayaane Indonesia,” kata Pak Brengos mengingat-ingat.
“Coba sekarang masih ada, yo pastine anak bangsae kene iki bakalan lebih mengenal soalnegarae dewe, lebih menghargai kekayaan yang kita punyai. Wong kita ini loh punyasegalae,” kata Pak Minthi.
“Coba o aku boleh ngomong sama yang mbuat acara tivi, ojok terpaku rating lah, bikinenacara yang tampilane menarik tapi tetep membawa kebudayaan kita yang apa adanya, nggak niru-niru luar negeri yang sembarange serba bebas. Di negara e dhewe iki masih adatoto kromo e,” kata Pak Brengos panjang lebar.
“Iyo Ngos, tapi yoopo maneh? Kita kan cuma sebagian orang yang pikirane ngono, tapingene iki yo kritikan, nek diterimo yo sukur, nek ora yo masalahmu, ya toh?” tambah Pak Minthi.
“Yo wes diliat ae kedepane koyok opo Thi, mau tambah bagus opo tambah kacau,” kata Pak Brengos.
“Ayo muleh Ngos, ada acara wayangan di rumah Pak RT, nonton ora?” kata Pak Minthi lalu beranjak berdiri.
“Yo mesti tah Thi, mumpung lakone lagi bagus,” kata Pak Brengos ikut berdiri.
Setelah membayar kopi pada Bu Sul, mereka meninggalkan warung dan menuju ke rumah Pak RT untuk nonton pegelaran wayang sampai pagi menjelang.



Wah pakai dialog Malang an ya ini?
Hehehehe, saya suka, mengalir begitu saja, dan lagi isinya satir banget.. Nice story..
Salam kenal…
Dialog Malangan ala warung kopi, thanks commentnya yaaa salam kenal juga…