Malam berikutnya, masih di lokasi yang sama, Pak Brengos dan Pak Minthi kembali cangkrukan di warungnya Bu Sul. Menu kopi yang sama, kumpulan gorengan yang sama, bahkan di meja yang sama. Tak jauh dari mereka, Surti dan Warni juga ada, menunggu pesanan kopi untuk bapak mereka sambil bercakap-cakap. Pak Brengos dan Pak Minthi menangkap pembicaraan mereka dengan jelas.

“Sur, iki statusku di comment Angga,” kata Warni menunjukkan HPnya.

“Yang mana?” tanya Surti. “Ealah War, statusmu modus ngono to?”

Modus opo to Sur?” kata Warni menarik HPnya.

“Kata-katamu ku loh alay, ‘I lophe yuu somwan, emuch emuch emuch, krasa gag sich’” kata Surti mengolok.

“Secara umurku kan yo masih enom to Sur, la iku fotomu Sur, halah halah,” kilah Warni lalu membalas mengolok.

La lapo? Imut-imut gini,” kata Surti lalu menyembunyikan HPnya di dompet.

“Hahahahaha, kisinan, Bu kopinya sudah belum?” kata Warni tertawa lebar.

“Sudah, iki ndang dibawa pulang,” kata Bu Sul lalu kedua gadis itu meninggalkan warung sambil terus berceloteh.

Arek-arek iku mainan opo toh Thi?” tanya Pak Brengos.

Emboh, kok kaya’e seru, pake status-statusan segala,” jawab Pak Minthi.

Iku dulinan Facebook bapak-bapak,” celetuk Bu Sul dari dalam.

Opo?? pisbuk? Opo iku?” tanya Pak Brengos menggaruk kepalanya.

“Ooooo Pesbug a? Iyo iyowah Bu Sul yo punya tah?” kata Pak Minthi.

” Facebook pak, walah ket kemaren yo salah-salah terus, belajar bahasa Inggris kono loh.Yo punya tah pak, lumayan buat promosi warung,” kat Bu Sul lagi.

Eh iku opo sih?” tanya Pak Brengos.

“Facebook iku kayak situs pertemanan ngono,” jawab Pak Minthi

“Pertemanan opo?” tanya Pak Brengos lagi.

Owalah Ngos koe iki ndeso!!” jawab Pak Minthi sambil tertawa yang membuat perutnya naik turun.

“Nek ga tau iku yo ojo diguyu ta, diterangkan biar ngerti,” sahut Pak Brengos sambil mengelus kumisnya yang sangar.

Yo wes, dadi Facebook iku nama situs internet yang gunanya sebagai jejaring sosial. Bisa buat nyari-nyari temen baru,” terang Pak Minthi

Nek sama temen tukar an nomer HP kan ya iso tah Thi,” kata pak Brengos.

Yo ga podo ta Ngos, iki gak cuma tukar-tukaran nomer HP, jadi bisa lihat siapa ae temennya, kegiatannya sekarang ini, terus kita ya bisa ngobrol langsung sama orangnya andaikan sama-sama onlen. Punya anakku iku malah buat jadi reunian sama temen-temen sekolahe. Pernah cekikikan dhewe terus katanya lagi ngobrol sama temen dulu pas sekolah,” kata Pak Minthi panjang lebar.

“Wah asyik yo,” kata Pak Brengos mengelus kumisnya lagi.

“Makanya, buat anak jaman sekarang Facebook iku sudah jadi salah siji kebutuhan hidup.Wong yang tua-tua aja udah mulai punya,” kata Pak Minthi melirik Bu Sul yang ternyata sedang asyik main HP.

“Terus ono kegunaan lainnya ora?” Tanya Pak Brengos lagi.

Akeh tah Ngos, tapi bisa positif lan iso negatif. Contohe, bisa nyari kenalana baru, pacar, cari info lowongan kerja, kalo yang pinter bisa jadi sarana bisnis, kayak jualan lewat internet, trus iku si Bu Sul, promosi warung lewat Facebook juga. Tapi Facebook iku bisa disalahgunakan. Contohe yo, wes kasarane, pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, kemungkinan terjadie pemerkosaan, terus pembunuhan karena dendam, iri hati, bahkan yo Ngos, ono yang nggawe ajang jual diri disini,” kata Pak Minthi panjang lebar dalam dua tarikan nafas.

Wuik kok sangar men toh yo, edan yang melakukan hal ngono iku,” imbuh Pak Brengos.

La iyo Ngos, pinter-pintere penggunae nek wes ngono iku,” sahut Pak Minthi.

“Terus nek kate mainan fisbuk iku neng endi?” tanya pak Brengos.

“Ya pake komputer to, nek saiki jaman wes canggih, Internet iso diakses lewat HP, jadinek mau buka Facebook iso kapanpun kita pingin,” kata Pak Minthi menyeruput kopinya.

Owalah, enak yo. Disamping iso buat memudahkan, ternyata yo ada sisi jelek e. Yo diambil yang bagus-bagusnya aja nek ngono,” kata Pak Brengos.

“Ah saiki ngono, tapi gak munafik loh yo Ngos, yang jelek-jelek iku malah yang lebih menarik perhatian. Yang bagus cuman buat iklan tokWes akeh nek contohe ae Ngos, koyok yang biasa kita liat nok koran lan TV,” kata Pak Minthi.

Yo wes aku ta nyuruh anakku nggawekno iku Facebook,” kata Pak Brengos sambil meringis.

Halah gayamu Ngos, gawe opo terusan?” Pak Minthi kembali terkikik.

“Pingin gaul tahmosok kalah karo anak muda?” Kata Pak Brengos ikut terkikik.

Eling umur Ngos, eling. Anak wes dewasa ngono, kita iki cukup tahu ae wes, ra usahmelu-melu ngono ikuwes tuwek, hahahahahaha,” kata Pak Minthi lalu tertawa dan (lagi) perutnya naik turun.

“Hahahahaha, iyo iyo. Eh ngomong-ngomong koe kok tahu yang beginian ini toh Thi? Tumben,” kata Pak Brengos mengolok.

“Baca koran tah Ngos, ojo nonton sinetron ae, hahahahaha,” sahut Pak Minthi balas mengolok yang disambut lirikan Pak Brengos.

“Eh Bapak-Bapak, iki pertandingane wes mulai,” panggil Bu Sul.

Kedua bapak ini terlalu asyik mengobrol sehingga tidak memperhatikan kalau bapak-bapak yang lain sedang seru menonton pertandingan bola di TV. Segera keduanya bergabung dan ikut bersorak hingga pagi menjelang.