“Eeeeeeeh ada Mbak Lyan toh?? Masuk masuk,” sambut seorang gadis berambut poni Selamat Datang.
“Lama nggak maen kesini, tumben benjuuudddh,” imbuh si gadis lain berambut panjang dengan centil.
“Iya neh, lagi tugas Nggar, Lia,” jawab Det. Lyan.
“Tau nggak si, kemaren tu cowok kurang asem nglempar tissue ke muka aku,” sambung si gadis poni bernama Enggar.
“Uuuuuppppssssss, aku juga kemaren ketemu gebetan malah sembunyi dibawah meja,” tambah Lia, si gadis berambut panjang.
“Duuuuuh, cowok itu emang rumpik deh, ga ngerti akan para wanita dan perasaannyah,” kata Enggar lalu menyibakkan rambut hingga mengenai Det. Lyan.
“Sudah neh curhatnya,” kata Det. Lyan pelan sambil mengusap wajahnya yang gatal.
“Hehehehehe, maap maap, ada perlu apa nih ciint? Mbak Citanya ga ada tuh,” sahut Lia.
“Boleh masuk ga?” tanya Det. Lyan.
“Yuuuuuk mariii, be te we, ayah tiri mana?” tanya Enggar sambil celingukan sementara mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
“Mas Dito? Lagi tugas barengan sama aku kok, sekarang langsung ke TKP,” jawab Det. Lyan sembari menuju ke ruang kerja Det. Cita.
“Duuuuh, ayah tiri itu rumpik deh nggak pernah kasi kabar zizt,” timpal Lia dengan centil.
“Nyari apaan be te we Mbak Lyan? Mbak Ci jarang pulang neeh, sekali pulang trus pergi lagi ga lama kemudian,” celetuk Enggar.
“Yah keperluan kerjaan Nggar, biasalah Detektip,” jawab Det. Lyan sambil cengar cengir.
Mata Det. Lyan menyapu (sekalian ngepel juga oke tuh Ly) seluruh ruangan kerja Det. Cita. Semuanya tampak biasa saja, dan kemudian menuruti picingan matanya yang memang saat itu lagi sedikit nggak kelihatan, Det. Lyan mendekati meja kerja. Disana tampak berserakan beberapa kertas file dan dengan menyesal karena melihat, Det. Lyan menemukan selembar kertas berwarna pink dengan tulisan yang cukup janggal. “Jauhi masalah, atau kamu bakal mati karena terlibat!”
Dengan segera, Det. Lyan mengangkat surat ini dan membacanya dengan seksama. Menurut mata batinnya, surat ini ditulis dengan menggunakan spidol warna hitam yang permanen, dengan posisi spidol berdiri tegak. Dari guratan tulisan itu, yang rapi diatur, Det. Lyan mengetahui kalau yang menulisnya adalah seorang perempuan. Dan itu bukan Det. Cita tentunya.
Secepat halilintar, Det. Lyan dengan bergaya menarik HP-nya dan memencet nomor dengan cekatan. Menunggu beberapa detik ditemani pandangan aneh dan takjub dari Enggar dan Lia, nada sambung pun terdengar.
sementara itu….
Sementara itu Det. Dito sedang melakukan penyelidikan langsung ke alamat yang diberikan Mak Tee. Dari jarak beberapa rumah, Detektif Geje dan sedikit budeg ini memakai teropong (bukan teropong bintang, bukan pula sedotan) untuk memantau keadaan. Dilihatnya lokasi tersebut cukup ramai dikunjungi para ABG Hore dan Ababil yang keluar masuk untuk aktivitas belajar mengajar disana. Sekilas tak ada yang aneh, hanya orang-orang biasa yang muncul.
Tapi beberapa jam kemudian, datanglah sebuah mobil hitam dan dari dalamnya keluar dua orang. Satu adalah seorang pria tinggi besar yang sedikit MeSos (Metrosexual) berpenampilan necis dan rapi. Satunya lagi seorang wanita berbodi kecil tapi semok dengan rambut bergelombang yang lumayan kalem dengan penampilan apa adanya dan sederhana. Dari tatapan mata batin Det. Dito yang dulu pernah merangkap jadi dukun dadakan, wanita itu membawa sebuah kotak yang isinya adalah…… Nasi Goreng (tau aja kalo lagi laper). Keduanya langsung masuk kedalam tempat les.
Masih menatap serius sampe pegal lehernya, Det. Dito dikejutkan dengan seseorang yang sedang berjongkok tepat disampingnya sambil menatap kosong ke arah yang sama dengannya. Seorang Ababil laki-laki yang berkulit putih dan berwajah rupawan.
“Ngapain jongkok disitu?” tanya Det. Dito penasaran.
“Kelihatannya?” jawab anak itu dengan gaya cool.
“Ehmmmm,” Det. Dito menggaruk kepalanya.
“Tanyakanlah pada angin berdesir yang menerbangkan kegalauanku,” kata anak itu lagi.
“He? Galau masih musim ya?” ujar Det. Dito.
“Kekasihku yang sudah meninggalkan ku berbahagia dengan orang lain,” kawab anak itu dengan penuh emosi tapi tanpa mbleyer.
“Apa sih? Eh kamu teh mo ngapain disono?” tanya Det. Dito sedikit kurang sabar.
“Menunggu kekasih yang lama tak muncul dari dalam sana, “anak itu kembali berpuisi.
“Pacarmu hilang disana?” tanya Det. Dito ikut-ikutan jongkok.
“Sudah seminggu dia tak kembali padaku,” jawab anak itu lagi.
“Hmmmm, apa benar ya kalau dia juga jadi korban penculikan?” gumam Det. Dito.
“Sementara dia sudah membawa sebelah hatiku bersamanya,” jawab anak itu sambil mengacung.
“Duh stop puisi deh, ga ngefek ma aku tau,” kata Det. Dito menggeleng. (lagi-lagi lebih ke arah ayan) “Nama kamu siapa?”
“Namaku adalah Inti Cinta…” anak itu langsung menatap Det. Dito.
“Kujitak nih!” Det. Dito menyeringai seram.
“Galih Asmoro,” jawab anak itu pelan.
Tiba-tiba HP Det. Dito berbunyi. Ternyata ada telepon dari Det. Lyan. Setelah berbicara dengan ruwet, panjang lebar kali tinggi dan menukar informasi tentang keadaan di tempat masing-masing, Det. Dito dan Det. Lyan sepakat untuk segera melakukan misi penyelamatan. Det. Lyan akan segera menuju TKP membawa bala bantuan sementara Det. Dito akan menunggu di posisi aman hingga dia tiba dengan batalionnya. (kebanyakan kali batalyon)
Hingga hampir tiga jam, Det. Dito dan Galih berada pada krik krik krik moment dimana mereka hanya jongkok diam lalu berdiri sebentar dan jongkok lagi dalam irama bergiliran. Merasa bosan Det. Dito membuka HP-nya lagi dan mulai mendengarkan MP3 hingga Galih menjawilnya.
“Upu?” tanya Det. Dito.
“Menunggu bala tentara baladewa bala-pan kuda mu itu bakalan lama, gimana kalo kita masuk kedalam?” kata Galih.
“Ga ada hubungannya sama tuh bala bala, emang kamu punya rencana apa Lih?” tanya Det. Dito tertarik menyimak.
“Begini…” Galih membisikkan sesuatu di telinga Det. Dito dan beberapa kali cekikikan karena entah geli, atau lucu. Intinya adalah, mereka akan menyelinap masuk ke dalam dan mencari keberadaan orang-orang itu.
“Okelah kalau begitu, sambil menunggu Lyan datang, kita lakukan sebisa kita,” jawab Det. Dito semangat.
“Baiklah, demi cinta dan keadilan, kita harus menegakkan kebenaran di muka bumi ini!” ujar Galih dengan semangat membara sambil mengacungkan tangannya ke udara.
Krik krik krik krik…..
Bersambung, to be continued……..



