Archive for January 18, 2012


“Eeeeeeeh ada Mbak Lyan toh?? Masuk masuk,” sambut seorang gadis berambut poni Selamat Datang.

“Lama nggak maen kesini, tumben benjuuudddh,” imbuh si gadis lain berambut panjang dengan centil.

“Iya neh, lagi tugas Nggar, Lia,” jawab Det. Lyan.

“Tau nggak si, kemaren tu cowok kurang asem nglempar tissue ke muka aku,” sambung si gadis poni bernama Enggar.

“Uuuuuppppssssss, aku juga kemaren ketemu gebetan malah sembunyi dibawah meja,” tambah Lia, si gadis berambut panjang.

“Duuuuuh, cowok itu emang rumpik deh, ga ngerti akan para wanita dan perasaannyah,” kata Enggar lalu menyibakkan rambut hingga mengenai Det. Lyan.

“Sudah neh curhatnya,” kata Det. Lyan pelan sambil mengusap wajahnya yang gatal.

“Hehehehehe, maap maap, ada perlu apa nih ciint? Mbak Citanya ga ada tuh,” sahut Lia.

“Boleh masuk ga?” tanya Det. Lyan.

“Yuuuuuk mariii, be te we, ayah tiri mana?” tanya Enggar sambil celingukan sementara mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

“Mas Dito? Lagi tugas barengan sama aku kok, sekarang langsung ke TKP,” jawab Det. Lyan sembari menuju ke ruang kerja Det. Cita.

“Duuuuh, ayah tiri itu rumpik deh nggak pernah kasi kabar zizt,” timpal Lia dengan centil.

“Nyari apaan be te we Mbak Lyan? Mbak Ci jarang pulang neeh, sekali pulang trus pergi lagi ga lama kemudian,” celetuk Enggar.

“Yah keperluan kerjaan Nggar, biasalah Detektip,” jawab Det. Lyan sambil cengar cengir.

Mata Det. Lyan menyapu (sekalian ngepel juga oke tuh Ly) seluruh ruangan kerja Det. Cita. Semuanya tampak biasa saja, dan kemudian menuruti picingan matanya yang memang saat itu lagi sedikit nggak kelihatan, Det. Lyan mendekati meja kerja. Disana tampak berserakan beberapa kertas file dan dengan menyesal karena melihat, Det. Lyan menemukan selembar kertas berwarna pink dengan tulisan yang cukup janggal. “Jauhi masalah, atau kamu bakal mati karena terlibat!”

Dengan segera, Det. Lyan mengangkat surat ini dan membacanya dengan seksama. Menurut mata batinnya, surat ini ditulis dengan menggunakan spidol warna hitam yang permanen, dengan posisi spidol berdiri tegak. Dari guratan tulisan itu, yang rapi diatur, Det. Lyan mengetahui kalau yang menulisnya adalah seorang perempuan. Dan itu bukan Det. Cita tentunya.

Secepat halilintar, Det. Lyan dengan bergaya menarik HP-nya dan memencet nomor dengan cekatan. Menunggu beberapa detik ditemani pandangan aneh dan takjub dari Enggar dan Lia, nada sambung pun terdengar.

sementara itu….

Sementara itu Det. Dito sedang melakukan penyelidikan langsung ke alamat yang diberikan Mak Tee. Dari jarak beberapa rumah, Detektif Geje dan sedikit budeg ini memakai teropong (bukan teropong bintang, bukan pula sedotan) untuk memantau keadaan. Dilihatnya lokasi tersebut cukup ramai dikunjungi para ABG Hore dan Ababil yang keluar masuk untuk aktivitas belajar mengajar disana. Sekilas tak ada yang aneh, hanya orang-orang biasa yang muncul.

Tapi beberapa jam kemudian, datanglah sebuah mobil hitam dan dari dalamnya keluar dua orang. Satu adalah seorang pria tinggi besar yang sedikit MeSos (Metrosexual) berpenampilan necis dan rapi. Satunya lagi seorang wanita berbodi kecil tapi semok dengan rambut bergelombang yang lumayan kalem dengan penampilan apa adanya dan sederhana. Dari tatapan mata batin Det. Dito yang dulu pernah merangkap jadi dukun dadakan, wanita itu membawa sebuah kotak yang isinya adalah…… Nasi Goreng (tau aja kalo lagi laper). Keduanya langsung masuk kedalam tempat les.

Masih menatap serius sampe pegal lehernya, Det. Dito dikejutkan dengan seseorang yang sedang berjongkok tepat disampingnya sambil menatap kosong ke arah yang sama dengannya. Seorang Ababil laki-laki yang berkulit putih dan berwajah rupawan.

“Ngapain jongkok disitu?” tanya Det. Dito penasaran.

“Kelihatannya?” jawab anak itu dengan gaya cool.

“Ehmmmm,” Det. Dito menggaruk kepalanya.

“Tanyakanlah pada angin berdesir yang menerbangkan kegalauanku,” kata anak itu lagi.

“He? Galau masih musim ya?” ujar Det. Dito.

“Kekasihku yang sudah meninggalkan ku berbahagia dengan orang lain,” kawab anak itu dengan penuh emosi tapi tanpa mbleyer.

“Apa sih? Eh kamu teh mo ngapain disono?” tanya Det. Dito sedikit kurang sabar.

“Menunggu kekasih yang lama tak muncul dari dalam sana, “anak itu kembali berpuisi.

“Pacarmu hilang disana?” tanya Det. Dito ikut-ikutan jongkok.

“Sudah seminggu dia tak kembali padaku,” jawab anak itu lagi.

“Hmmmm, apa benar ya kalau dia juga jadi korban penculikan?” gumam Det. Dito.

“Sementara dia sudah membawa sebelah hatiku bersamanya,” jawab anak itu sambil mengacung.

“Duh stop puisi deh, ga ngefek ma aku tau,” kata Det. Dito menggeleng. (lagi-lagi lebih ke arah ayan) “Nama kamu siapa?”

“Namaku adalah Inti Cinta…” anak itu langsung menatap Det. Dito.

“Kujitak nih!” Det. Dito menyeringai seram.

“Galih Asmoro,” jawab anak itu pelan.

Tiba-tiba HP Det. Dito berbunyi. Ternyata ada telepon dari Det. Lyan. Setelah berbicara dengan ruwet, panjang lebar kali tinggi dan menukar informasi tentang keadaan di tempat masing-masing, Det. Dito dan Det. Lyan sepakat untuk segera melakukan misi penyelamatan. Det. Lyan akan segera menuju TKP membawa bala bantuan sementara Det. Dito akan menunggu di posisi aman hingga dia tiba dengan batalionnya. (kebanyakan kali batalyon)

Hingga hampir tiga jam, Det. Dito dan Galih berada pada krik krik krik moment dimana mereka hanya jongkok diam lalu berdiri sebentar dan jongkok lagi dalam irama bergiliran. Merasa bosan Det. Dito membuka HP-nya lagi dan mulai mendengarkan MP3 hingga Galih menjawilnya.

“Upu?” tanya Det. Dito.

“Menunggu bala tentara baladewa bala-pan kuda mu itu bakalan lama, gimana kalo kita masuk kedalam?” kata Galih.

“Ga ada hubungannya sama tuh bala bala, emang kamu punya rencana apa Lih?” tanya Det. Dito tertarik menyimak.

“Begini…” Galih membisikkan sesuatu di telinga Det. Dito dan beberapa kali cekikikan karena entah geli, atau lucu. Intinya adalah, mereka akan menyelinap masuk ke dalam dan mencari keberadaan orang-orang itu.

“Okelah kalau begitu, sambil menunggu Lyan datang, kita lakukan sebisa kita,” jawab Det. Dito semangat.

“Baiklah, demi cinta dan keadilan, kita harus menegakkan kebenaran di muka bumi ini!” ujar Galih dengan semangat membara sambil mengacungkan tangannya ke udara.

Krik krik krik krik…..

Bersambung, to be continued……..

Cangkrukan 2 – “The Hang Out 2″

Malam berikutnya, masih di lokasi yang sama, Pak Brengos dan Pak Minthi kembali cangkrukan di warungnya Bu Sul. Menu kopi yang sama, kumpulan gorengan yang sama, bahkan di meja yang sama. Tak jauh dari mereka, Surti dan Warni juga ada, menunggu pesanan kopi untuk bapak mereka sambil bercakap-cakap. Pak Brengos dan Pak Minthi menangkap pembicaraan mereka dengan jelas.

“Sur, iki statusku di comment Angga,” kata Warni menunjukkan HPnya.

“Yang mana?” tanya Surti. “Ealah War, statusmu modus ngono to?”

Modus opo to Sur?” kata Warni menarik HPnya.

“Kata-katamu ku loh alay, ‘I lophe yuu somwan, emuch emuch emuch, krasa gag sich’” kata Surti mengolok.

“Secara umurku kan yo masih enom to Sur, la iku fotomu Sur, halah halah,” kilah Warni lalu membalas mengolok.

La lapo? Imut-imut gini,” kata Surti lalu menyembunyikan HPnya di dompet.

“Hahahahaha, kisinan, Bu kopinya sudah belum?” kata Warni tertawa lebar.

“Sudah, iki ndang dibawa pulang,” kata Bu Sul lalu kedua gadis itu meninggalkan warung sambil terus berceloteh.

Arek-arek iku mainan opo toh Thi?” tanya Pak Brengos.

Emboh, kok kaya’e seru, pake status-statusan segala,” jawab Pak Minthi.

Iku dulinan Facebook bapak-bapak,” celetuk Bu Sul dari dalam.

Opo?? pisbuk? Opo iku?” tanya Pak Brengos menggaruk kepalanya.

“Ooooo Pesbug a? Iyo iyowah Bu Sul yo punya tah?” kata Pak Minthi.

” Facebook pak, walah ket kemaren yo salah-salah terus, belajar bahasa Inggris kono loh.Yo punya tah pak, lumayan buat promosi warung,” kat Bu Sul lagi.

Eh iku opo sih?” tanya Pak Brengos.

“Facebook iku kayak situs pertemanan ngono,” jawab Pak Minthi

“Pertemanan opo?” tanya Pak Brengos lagi.

Owalah Ngos koe iki ndeso!!” jawab Pak Minthi sambil tertawa yang membuat perutnya naik turun.

“Nek ga tau iku yo ojo diguyu ta, diterangkan biar ngerti,” sahut Pak Brengos sambil mengelus kumisnya yang sangar.

Yo wes, dadi Facebook iku nama situs internet yang gunanya sebagai jejaring sosial. Bisa buat nyari-nyari temen baru,” terang Pak Minthi

Nek sama temen tukar an nomer HP kan ya iso tah Thi,” kata pak Brengos.

Yo ga podo ta Ngos, iki gak cuma tukar-tukaran nomer HP, jadi bisa lihat siapa ae temennya, kegiatannya sekarang ini, terus kita ya bisa ngobrol langsung sama orangnya andaikan sama-sama onlen. Punya anakku iku malah buat jadi reunian sama temen-temen sekolahe. Pernah cekikikan dhewe terus katanya lagi ngobrol sama temen dulu pas sekolah,” kata Pak Minthi panjang lebar.

“Wah asyik yo,” kata Pak Brengos mengelus kumisnya lagi.

“Makanya, buat anak jaman sekarang Facebook iku sudah jadi salah siji kebutuhan hidup.Wong yang tua-tua aja udah mulai punya,” kata Pak Minthi melirik Bu Sul yang ternyata sedang asyik main HP.

“Terus ono kegunaan lainnya ora?” Tanya Pak Brengos lagi.

Akeh tah Ngos, tapi bisa positif lan iso negatif. Contohe, bisa nyari kenalana baru, pacar, cari info lowongan kerja, kalo yang pinter bisa jadi sarana bisnis, kayak jualan lewat internet, trus iku si Bu Sul, promosi warung lewat Facebook juga. Tapi Facebook iku bisa disalahgunakan. Contohe yo, wes kasarane, pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, kemungkinan terjadie pemerkosaan, terus pembunuhan karena dendam, iri hati, bahkan yo Ngos, ono yang nggawe ajang jual diri disini,” kata Pak Minthi panjang lebar dalam dua tarikan nafas.

Wuik kok sangar men toh yo, edan yang melakukan hal ngono iku,” imbuh Pak Brengos.

La iyo Ngos, pinter-pintere penggunae nek wes ngono iku,” sahut Pak Minthi.

“Terus nek kate mainan fisbuk iku neng endi?” tanya pak Brengos.

“Ya pake komputer to, nek saiki jaman wes canggih, Internet iso diakses lewat HP, jadinek mau buka Facebook iso kapanpun kita pingin,” kata Pak Minthi menyeruput kopinya.

Owalah, enak yo. Disamping iso buat memudahkan, ternyata yo ada sisi jelek e. Yo diambil yang bagus-bagusnya aja nek ngono,” kata Pak Brengos.

“Ah saiki ngono, tapi gak munafik loh yo Ngos, yang jelek-jelek iku malah yang lebih menarik perhatian. Yang bagus cuman buat iklan tokWes akeh nek contohe ae Ngos, koyok yang biasa kita liat nok koran lan TV,” kata Pak Minthi.

Yo wes aku ta nyuruh anakku nggawekno iku Facebook,” kata Pak Brengos sambil meringis.

Halah gayamu Ngos, gawe opo terusan?” Pak Minthi kembali terkikik.

“Pingin gaul tahmosok kalah karo anak muda?” Kata Pak Brengos ikut terkikik.

Eling umur Ngos, eling. Anak wes dewasa ngono, kita iki cukup tahu ae wes, ra usahmelu-melu ngono ikuwes tuwek, hahahahahaha,” kata Pak Minthi lalu tertawa dan (lagi) perutnya naik turun.

“Hahahahaha, iyo iyo. Eh ngomong-ngomong koe kok tahu yang beginian ini toh Thi? Tumben,” kata Pak Brengos mengolok.

“Baca koran tah Ngos, ojo nonton sinetron ae, hahahahaha,” sahut Pak Minthi balas mengolok yang disambut lirikan Pak Brengos.

“Eh Bapak-Bapak, iki pertandingane wes mulai,” panggil Bu Sul.

Kedua bapak ini terlalu asyik mengobrol sehingga tidak memperhatikan kalau bapak-bapak yang lain sedang seru menonton pertandingan bola di TV. Segera keduanya bergabung dan ikut bersorak hingga pagi menjelang.

Cangkrukan – “The Hang Out”

Malam itu seperti biasanya, bapak-bapak lagi ngumpul di warung kopi Bu Sul yang terkenal karena racikan kopinya yang pas. Ini adalah aktivitas rutin sebagai pelepas penat setelah seharian bekerja. Tak terkecuali dua orang bapak yang sudah berteman sejak kecil, Pak Brengos dan Pak Minthi. Pak Brengos, dipanggil begitu karena punya kumis tebal dan rapi yang membuatnya tampak sangar, sedangkan Pak Minthi dipanggil begitu karena perutnya yang besar yang dalam bahasa Jawa biasa disebut minthi-minthi. Setelah kopi favorit mereka pesan, mereka pun memulai percakapan.

Piye anakmu Thi? Wes kerja belum?” tanya Pak Brengos.

Durung Ngos, disuruh kerja kantoran yo ora gelem,” jawab Pak Minthi sambil menyeruput kopi Lanangnya.

“Anakku yo ngono e, malah senang kerja di jalanan, padahal yo sarjana,” kata pak Brengos sambil menggeleng.

Halah yo wes ben ae Ngos, anak sekarang punya cara pikir dhewe.” tambah Pak Minthi.

Iyo Thi, yang penting mereka senang, asal tau tanggung jawab,” kata Pak Brengos.

Tak lama kemudian, muncul dua orang anak perempuan Surti dan Warni. Mereka memesan kopi bungkus pada Bu Sul untuk dibawa pulang. Mendadak keduanya heboh sendiri saat melihat ke arah televisi.

“Sur!!! Coba liat itu, sinetronnya wes mulai,” pekik Warni.

“Iya War, ya ampun ganteng banget tuh artis, jadi pacarnya enak kali ya.” kata Surti sambil memandang terpesona.

Ngunu o ae Sur, kalo jadi pacar kamu ya modus terus tiap hari,” kata Warni sambil tertawa.

“Ya iyalah War, kesempatan kok. Apalagi kalo dilamar,” kata Surti semakin terpesona.

“Ah GeJe kamu Sur, udah ayo pulang aja, langsung nonton,” kata Warni. Dan kedua gadis ini meninggalkan warung sambil bercerita.

Pak Brengos mengelus kumisnya, dan Pak Minthi mengelus perutnya. Keduanya sedikit tertarik akan perbincangan kedua gadis tadi lalu menatap ke arah televisi.

Owalah yo, begitu aja ya heboh, cuma sinetron aja kok,” kata Pak Brengos.

“Aku yo heran, bojoku juga seneng banget, padahal ya isinya begitu itu,” tambah Pak Minthi.

“Nggak tau iki kualitas acara tivi kita ini belakangan, kalo nggak sinetron ya acara opo iku jenenge? Reliti Soo?” kata Pak Brengos.

Halah, ketauan bloon e kamu itu Ngos, Realiti Su,” kata Pak Minthi.

“He pak, itu jenenge Reality Show, podho salahe ngono,” komentar Bu Sul dari balik meja yang disambut gelak tawa kedua bapak ini.

Yo iku wes, kalo acara itu kok ya buka-buka aibnya orang,” kata Pak Brengos.

“Ujung-ujungnya apa? Ya tukaran maneh, opo yo ora malu, diliat semua orang,” tambah Pak Minthi.

“Justru acara kayak gitu yang lagi booming pak,” celetuk Bu Sul.

“Apalagi yang namanya sinetron. Isinya ya cuman ngono iku, kalo nggak rebutan harta, yang rebutan lanangan, isi kok nggak mendidik,” imbuh Pak Brengos lagi.

“Apalagi kalo wes masalah status. Mana wong sugih, mana wong kere digedhe-gedhe’no,” kata Pak Minthi.

“Apa bener yo orang Indonesia pikirannya koyok ngono? Diluar negeri aja negara kita ini dikenal ramah, mosok ke sesamanya koyok ngono?” kata Pak Brengos sambil menyeruput kopi Luwaknya.

Ngajari kok ya ngono, mana itu lagi, wes wayahe habis yo masih mekso, kalo nggak nambah orang jahate, yo nambah penderitaaneowalah ora omes aku,” kata Pak Minthi. “Oh iyo, iku maneh. Ada juga sinetron yang ceritane anak kecil-kecil, kelas SMP ngono lahtapi wes iso pacaran koyok wong tuwekNek e cinta yo ora ngono toh, biasa ae. Orasampek nyelakain orang.”

“Oh temenan iku, anakku yang wadon tak larang kalo mau nonton, mendingan acara laine ae,” tambah Pak Brengos mendadak semangat. “Apalagi itu ada sinetron yang berbau mistis, owalah yo pantes ae kalo pikirane kita ini ora maju-maju, percoyo sama ngono-ngono iku secara berlebihan.”

“Jaman kita ndhisek, eling ga Thi, ada acara boneka-boneka tangan, terus acara soal pengenalan kebudayaane Indonesia,” kata Pak Brengos mengingat-ingat.

“Coba sekarang masih ada, yo pastine anak bangsae kene iki bakalan lebih mengenal soalnegarae dewe, lebih menghargai kekayaan yang kita punyai. Wong kita ini loh punyasegalae,” kata Pak Minthi.

Coba o aku boleh ngomong sama yang mbuat acara tivi, ojok terpaku rating lah, bikinenacara yang tampilane menarik tapi tetep membawa kebudayaan kita yang apa adanya, nggak niru-niru luar negeri yang sembarange serba bebas. Di negara e dhewe iki masih adatoto kromo e,” kata Pak Brengos panjang lebar.

“Iyo Ngos, tapi yoopo maneh? Kita kan cuma sebagian orang yang pikirane ngono, tapingene iki yo kritikan, nek diterimo yo sukur, nek ora yo masalahmu, ya toh?” tambah Pak Minthi.

Yo wes diliat ae kedepane koyok opo Thi, mau tambah bagus opo tambah kacau,” kata Pak Brengos.

Ayo muleh Ngos, ada acara wayangan di rumah Pak RT, nonton ora?” kata Pak Minthi lalu beranjak berdiri.

Yo mesti tah Thi, mumpung lakone lagi bagus,” kata Pak Brengos ikut berdiri.

Setelah membayar kopi pada Bu Sul, mereka meninggalkan warung dan menuju ke rumah Pak RT untuk nonton pegelaran wayang sampai pagi menjelang.

the GEJE Rescue Team Part 1

Siang itu, seperti biasanya, Detektif Dito dan Detektif Lyan sedang duduk leyeh leyeh sambil mendengarkan MP3. Karena tidak adanya kasus untuk dipecahkan, mereka hanya Dugem (duduk gemetar? Duduk gembira? Dukun Gembul? ambigu) saja di kantornya. Sementara itu, sebenarnya masih ada satu Detektif lagi yang mana sedang dalam tugas jadi tidak berada di kantor itu, namanya adalah Detektif Cita. Tapi Detektif Cita yang biasanya terkenal karena jika mendapat kasus langsung “Sehari Selesai” sudah hampir seminggu belum kembali ke kantornya. Membuat kedua partnernya bertanya-tanya.

“Ngemeng-ngemeng ya Ly, Det. Cita sodariku paling bohai itu tugas kemana sih?” tanya Det. Dito

“Auk tuh, kayaknya dikirim ke Arab deh,” jawab Det. Lyan malas-malas an.

“Beugh, kesampean juga impiannya,” timbal Det. Dito lagi.

Tiba-tiba dari interkom di pojok ruangan, terdengar sebuah jingle aneh bin ajaib yang menandakan bahwa bos para Detektif Geje sedang memanggil.

“Ehm ehm, testing satu dua tiga empat lima….. seratus, duh capek ya ngitung. Panggilan ditujukan pada Det. Dito dan Det. Lyan untuk menghadap kesini, ga pake lama! Liat nih udah di CAPS LOCK, jadi buruan ye, sibuk benjuuudhh” kata sang pemilik suara dengan ethes dan panjang lebar.

“Kaya’nya pak bos ini harus ganti jingle deh,” kata Det. Lyan sambil berdiri.

“Auk nih, krik krik krik melulu dari dulu, by the way ada apaan ya?” tanya Det. Dito ikutan berdiri.

“Kita tanyakan pada rumput yang bergoyang,” jawab Det. Lyan sambil berpose di depan kipas angin.

“Geje,” jawab Det. Dito sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Dan mereka berjalan menuju ruangan pak bos mereka. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, mereka melihat pemandangan yang sedikit ganjil. Pak Bos mereka yang bernama Det. Tommy sedang leyeh-leyeh santai sambil dangdutan ditemani asistennya yang sedang goyang menggunakan kertas tissue yang melilit-lilit ala balerina getooh. Lagi-lagi kedua anggota Detektif geje itu mengalami “krik krik krik” moment sesaat. Lalu secepat kilat dan tanpa dikira, keadaan kantor kembali normal dimana Det. Tommy sedang membaca sebuah file dengan serius.

“Masuk coy,” kata Det. Tommy santai.

“Oke bos,” kata Det. Dito dan Lyan bersamaan lalu duduk di depan meja bosnya.

“Tolong baca ini,” kata Det. Tommy menyerahkan selembar kertas warna-warni.

“……….. waaaaah, beneran nih bos?” sahut Det. Lyan gembira.

“Apaan?”  tanya Det. Tommy sambil menoleh.

“Ini beneran ada diskonan di supermarket sebelah?” kata Det. Lyan lagi.

“Diskoan?” tanya Det. Dito yang agak ngantuk.

“DISKON!” teriak Det. Lyan di telinga Det. Dito.

“Sapa yang kasi lembaran diskon Ly??” sahut Det. Tommy.

“Nah ini apaan?” jawab Det. Lyan mengacungkan lembaran barusan.

“Woy maap, salah kasih, ini buat pacar saya, hehehehehe, ini nih,” kata Det. Tommy buru-buru mengambil kertas itu dan menggantinya dengan  lembaran lain.

“Hadeh bos ini lagi lembaran sablon gratis,” celetuk Det. Dito setelah melirik sebentar.

“SALON MAS DITO, SALON!” teriak Det. Lyan lagi.

Lalu tanpa diduga, ketiganya tertawa membahana sekali hingga ruangan bergetar. (Heran ye, ni orang tiga ketawa pada pake loud speaker ato apaan yah?)

“Jadi begini kawan-kawan,” kata Det. Tommy berbisik. Suasana semakin dramatis hingga lampu ruangan itu redup. “Jadi begini.”

“Begini apa bos?” tanya Det. Dito.

“Jadi ini, duh lampunya mo mati lagi, Ijaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah beliin lampu baru di bedag* sebelah!” teriak Det. Tommy mendadak membuat kedua anak buahnya kaget. “Ehm ehm, maap. Jadi ini ya, Det. Cita yang sedang bertugas tiba-tiba menghilang. Semua kontak dengannya mendadak putus. Entah ada apa.” (*bedag=warung kecil)

“APAH??” seru kedua detektif bersamaan. (Efek kamera keduanya berpandangan, lalu zoom in zoom out ke bos mereka)

“Santai santai,” kata Det. Tommy menggerakkan kedua tangannya menenangkan kedua anak buahnya.

“Sodariku memang tugas kemana bos?” tanya Det. Dito panik.

“Det. Cita sedang menyelidiki kasus penculikan remaja. Dia menawarkan dirinya untuk menginvestigasi, sementara saya sebenarnya sudah akan menurunkan Det. Lyan karena lebih muda dan labil,” kata Det. Tommy melirik Det. Lyan yang shock.

“Pandangan apaan tuh, sesuatu benjuudh,” sahut Det. Lyan kesal.

“Hadeeeh dasar sodariku, denger remaja ajah langsung berangkat,” Det. Dito menggeleng pelan. (aslinya malah mirip orang ayan)

“Jadi sudah jelas ya, tugas kalian untuk mencari dan menyelamatkan Det. Cita. Ini saya kasih alamat untuk didatangi. Silahkan langsung di usut tuntas tas tas,” kata Det. Tommy dengan centil.

“Siap bos!” kata kedua Detektif lalu beranjak berdiri.

Keduanya membuka pintu kantor dengan gaya cool disertai efek angin dari kipas angin, dan mereka memakai kacamat hitam sambil berpose sekeren mungkin. Beberapa orang yang lewat langsung berhenti dan memandang keduanya dengan tatapan antara aneh, bingung, kaget, terpesona (nggak banget deh). Setelah sekitar satu menit bergaya begitu, mereka langsung berjalan beriringan menuju kantor dimana Det. Dito tiba-tiba belok kanan.

“HEEE KALIAN BERDUA! BALIKIN KACAMATA GUEEEE!!!!” teriak Det. Tommy dari dalam kantornya sementara…

“HEEE MAS DITO, ITU MAU KE KANTORNYA IJAH, DISINI KANTOR KITA OOOI,” teriak Det. Lyan menyeret tengkuk kemeja Det. Dito. “Gila ye, mau tugas masih sempet aja modus!”

Setelah bersiap-siap dengan peralatan, dan senjata masing-masing, kedua detektif geje langsung berangkat ke TKP. Sebuah alamat yang diberikan oleh Det. Tommy letaknya cukup jauh dari kota dan dengan vespa favoritnya, Det. Lyan memimpin perjalanan, sementara Det. Dito mengikuti dengan motor otomatisnya dari belakang. (penyakit satu nih ga bisa hilang, ga tau jalan…… krik krik) Dengan berbekal insting dan pengetahuan tentang rambu-rambu lalu lintas, Det. Lyan bisa menemukan rumah di alamat yang ditulis itu dengan mudah. Tapi sesuatu membuatnya shock dan tertawa terharu. Rumah yang dimaksud ternyata berwarna pink.

“Apaan sih Ly, ayo buruan masuk deh,” kata Det. Dito dari pagar.

“Haduuuh Mas Dito, apaan nih, masa rumahnya pink begini??” kata Det. Lyan terharu.

“Emang apa salahnya??” tanya Det. Dito heran.

“Apa ya? Meriah benjuudh,” kata Det. Lyan pelan dan masih terharu.

“Lah, pink kan juga merah toh,” kata Det. Dito lugu.

” MERIAH MAS DITO, TAK TIMPUK NEEH!!” teriak Det. Lyan mengangkat helmnya.

“Ampuuuuunn,” kata Det. Dito sambil tertawa membahana.

Tiba-tiba dari dalam rumah muncullah seorang laki-laki berkulit gelap. Dengan tampang sangarnya dia menyambut kedua detektif. Sambil bersendakep dan berdiri tegak, laki-laki ini memandang kedua detektif dengan tatapan memeriksa (menganalisa). Lalu mulai berbicara dengan logat Jawanya yang kental.

“Nyari sopo?” katanya menggelegar. (nyari siapa?)

“Eh, maap, ini benar alamatnya Mak Tee?” kata Det. Dito sambil memeriksa kertas alamat.

“Ate lapo nyari bojoku sing paling ayu dewe?” jawabnya masih dalam nada yang sama. (Mau apa nyari istriku yang paling cantik?)

“Anu, kita teh mau nyari informasi wae, bisa ketemu sama Mak Tee nya?” kata Det. Dito yang mendadak sok sunda.

“Tunggu sedhiluk yo,” kata laki-laki itu lalu masuk ke dalam. (Tunggu sebentar ya)

“Heee Mas Dito, belajar sunda dimana?” tanya Det. Lyan penasaran.

“He itu mah asal asalan aja kali, saya teh urang Jawa tuli,” jawab Det. Dito pelan.

“Tuli? TULEN KALEEE, HADEEH NI ORANG SATU!!” kata Det. Lyan kembali heboh.

Tak berapa lama kemudian, muncul seorang wanita yang memakai baju pink dan menatap dengan tatapan judes. Diikuti oleh laki-laki yang tadi menyambut kedua detektif itu. Wanita itu menatap kedua detektif bergantian lalu mulai tersenyum mencairkan suasana.

“Ada yang bisa dibantu, saya Mak Tee, kenalin ini suami saya Cak Imin,” kata wanita bernama Mak Tee itu memperkenalkan laki-laki dibelakangnya. Si suami bernama Cak Imin tersenyum juga. “Maaf suami saya ini agak sangar memang tapi aslinya buaeeeeek banget.” Mak Tee memandang suaminya dengan penuh cinta dan sang suami tersipu malu.

Kedua detektif geje mengalami krik  krik krik moment selama beberapa saat untuk kesekian kalinya.

“Haduh sampe lupa disuruh masuk, come in please!” kata Mak Tee sopan dengan logat Britishnya yang sangat kental. “Ada keperluan apa nih nyari saya?”

“Ini Mak Tee, kita kesini untuk menyelidiki hilangnya salah satu partner kami,” kata Det. Dito setelah mereka masuk ke dalam rumah.

“Partner siapa ya?” tanya Mak Tee.

“Seorang detektif cewek yang bohai dan sangat mengagumkan serta membawa tas punggung besar,” kata Det. Dito.

“Oh Mbak Cita ya? Dia sudah kesini tiga hari yang lalu, katanya menyelidiki kasus hilangnya beberapa brondong belakangan ini,” jawab Mak Tee yang sudah tahu kemana arah pembicaraan.

“Jadi Mbak Ci sudah kesini ya? Kok bisa ke Mak Tee?” tanya Det. Lyan.

“Saya mantan penculik, dan Det. Cita langsung mendatangi saya,” jawab Mak Tee sementara suaminya cekikikan.

“Hah, serius nih?” tanya Det. Dito.

“Ya elah Mas Dito, ya nggak mungkin lah, mana ada penculik yang ketemu detektif keren macam kita ini yang senyum-senyum,” sahut Det. Lyan.

“He? Nggak ya?” kata Det. Dito bergantian ke Mak Tee, Cak Imin, dan Det. Lyan dengan begonya.

” Hai ini bercanda kok, cuma saya kenal sama orang yang dicurigai sebagai penculik itu,” kata Mak Tee dan suaminya langsung tertawa membahana.

“Ini kasus penting kok malah guyon ya?” tanya Det. Dito masih dalam ekspresi oon.

“Aduh ga penting deh, biarin aja Mak Tee. Lanjut gimana ceritanya,” kata Det. Lyan.

“Jadi nih, saya punya teman, namanya Jayanto yang biasa dipanggil Jay. Dia tuh punya usah les-les an gitu, les bahasa Inggris. Tapi, banyak tersiar kabar yang tumpang tindih kalau dia melakukan penculikan pada para remaja murid les nya untuk dikirim ke Arab jadi TKI dan TKW muda berkualitas gitu. Saya aslinya nggak percaya, tapi hampir semua bukti mengatakan kalau Jay emang melakukan penculikan itu. Nah, Detektif Cita mucul dan menanyakan pada saya bagaimana dia bisa ketemu dengan Jay. Ya saya kasih alamat tempat les nya Jay, lalu Det. Cita capcus kesana deh,” kata Mak Tee panjang lebar.

“Terus, dia bilang punya rencana apa?” tanya Det. Dito.

“Dia nggak bilang apa-apa tuh,” jawab Mak Tee.

” Hmmmm, Mas Dito, kita perlu meeting nih. Informasi dari Mak Tee udah cukup,” kata Det. Lyan memicing.

“Cukup piye? Cuma segitu masa cukup, kita kerumahnya Cita dulu aja, nyari sesuatu yang mungkin bisa membantu,” kata Det. Dito.

“Udah percaya aja deh, yuuuuuk mari,” kata Det. Lyan.

“Oke deh Mak Tee, terima kasih infonya, oh iya, boleh minta alamatnya Jay?” tanya Det. Dito.

“Oh silahkan, ini kartu namanya,” kata Mak Tee menyerahkan kartu nama berwarna hitam ke Det. Dito.

Setelah berpamitan, kedua detektif langsung melesat menuju kota kembali. Mereka mampir ke sebuah warung makan dipinggir jalan yang tempatnya nyaman, dan makanannya lengkap. Segera Det. Dito memesan semangkuk cah kangkung sementara Det. Lyan memesan nasi goreng lezat. Sebenarnya mereka mau mengadakan secret meeting dimana mereka bisa berdiskusi tentang kasus ini, tapi ini malah mampir ke warung dulu, dan mereka juga langsung berdiskusi dan tak sengaja ditonton costumer lain. Dari diskusi panjang dan lama dan nambah menu makanan lagi, mereka berdua sepakat membagi tugas untuk investigasi selanjutnya. Det. Dito langsung menuju tempat les Jay dan Det. Lyan mencari informasi lanjutan ke rumah Det. Cita.

Dengan berbekal pengetahuan lebih soal lampu lalu lintas, Det. Lyan berangkat menuju rumah Det. Cita dengan vespa kesayangannya. Karena letaknya lagi-lagi diluar kota dan agak terpelosok, menempuh 20 menit perjalanan akhirnya Det. Lyan tiba di rumah Det. Cita yang sepi.

“SMOOLEEEKOOOOOOM,” seru Det. Lyan dari luar.

Lama menunggu tak ada jawaban, tiba-tiba ada suara seperti paduan suara menjawab dari dalam.

“WLEEKOOMSAAALAAAAAM,” seru dua suara.

“Hadeeeeeh, duo Rumpik masih exist aja neeh,” ujar Det. Lyan dalam hati.

BERSAMBUNG, TO BE CONTINUED…

Ali Ali

PART 1

Aku. Bentukku indah dan menarik perhatian. Aku dibuat dari bahan terpilih yang sangat mahal harganya. Banyak orang yang melihatku menginginkanku tapi pembuatku tak mengijinkan siapapun mengambilku, karena aku dibuat secara khusus. Laki-laki paruh baya berwajah keras tapi sabar itu menyelesaikan pembuatanku dalam waktu tiga hari saja. Walaupun sudah sempurna menurutnya tapi beliau sering memperhatikan detail yang diberikannya pada sentuhan terakhir “Maya”.

3 April 2009, pagi itu aku mendengar suara ribut-ribut yang membangunkanku dari tidurku bersama teman-temanku. Saat kubuka mataku, tampaklah dua orang pria dan wanita sedang berbincang dengan pembuatku. Mereka sangat akrab dan tak jarang melempar candaan.

Sang pria, berusia 25 tahun dengan perawakan kurus, muka pucat dan kulit coklat gelap. Matanya menatap tajam dan tak ada sedikitpun senyum dari bibirnya. Sementara sang wanita merupakan pandangan kontras. Berusia kira-kira 24 tahun, berkulit putih mulus, bermata biru cemerlang dan rambut merah panjang. Dia sangat cantik, apalagi bila tersenyum.

“Jadi pesanannya sudah ada pak?” tanya si pria.

 

“Iya pak, kami ingin lihat bagaimana jadinya,” tambah si wanita.

 

“Sesuai pesanan kan pak?” tanya si pria lagi penuh selidik.

 

“Jangan khawatir, saya jamin adik berdua tidak bakal kecewa,” kata pembuatku lalu mengangkat tubuhku dan disodorkan pada si pria.

 

Keduanya memandangku dengan penuh perhatian. Mata si pria menusuk hingga setiap inci kulitku. Dia mencari cacat yang bisa saja tampak, namun tak berhasil menemukannya. Sementara si wanita memandangku dengan hangat dan tak jarang mengelusku, membuatku agak sedikit geli.

 

“Lihat sayang, yang ini malah jauh lebih indah dari yang kita inginkan,” kata si wanita.

 

“Hasil karya yang sempurna pak,” kata si pria. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum tulus.

 

Pembuatku tersenyum pada kedua tamunya. Bukan main senang hatinya melihat hasil karyanya dijunjung tinggi, diberikan pujian bahkan penghargaan. Tapi sesungguhnya, beliau tak memikirkan hal itu. Yang dilakukannya selama ini adalah hidupnya, jadi tak akan pernah terpisahkan darinya. Setidaknya itulah yang kurasakan sebagai salah satu kreasi terbaiknya.

PART 2

 

Dalam kegelapan tubuhku terguncang. Suara mesin dan berbagai teriakan, celotehan, tawa terbahak begitu memekakkan telingaku. Pembuatku membawaku pergi, jauh dari teman-temanku. Di dalam peti kecil yang gelap beliau memasukkan tubuhku dan menyimpan peti itu di tempat yang aman.

Tak lama suara bising itu menghilang, sebagai gantinya alunan musik Jawa yang indah nan syahdu menggelitik telingaku. Semakin lama semakin kurasakan bahwa kami memasuki alunan musik tersebut. Dan lagi lagi, mulai kudengar celotehan orang-orang. Dan ku kenali juga dua suara yang tiga bulan lalu pernah singgah.

 

“Bapak!! Sungguh senang bapak datang tepat waktu,” kata si wanita.

 

“Ini acara adik berdua, dan pasti sangat penting, saya tidak ingin terlambat. Adik tampak cantik sekali hari ini, tentu adik Radhu juga tampan,” jawab pembuatku.

 

“Bapak adalah tamu kehormatan kami di acara ini,” kata si pria.

 

“Baiklah, ini sesuai yang dijanjikan,” pembuatku mengangkat peti kecilku dan memberikannya pada si pria. “Tolong dijaga baik-baik.”

 

Lalu tabir kegelapan yang menutupiku selama ini terbuka. Sungguh menyilaukan mata. Semuanya tampak begitu terang. Kutatap kedua orang di hadapanku, mereka bak pangeran dan putri dari negeri dongeng. Pakaian putih, dekorasi tempat seluruhnya putih, terasa bersih, indah dan syahdu.

Dan si pria, Radhu, memasangkanku pada si wanita, Maya. Aura kebahagian dan rasa cinta yang mendalam antara keduanya mengalir pada diriku. Aku merasakannya. Hidup baruku akan segera dimulai.

PART 3

“Oooooooo, caught in a Bad Romance…” Itulah sepenggal lagu yang selalu Radhu dan Maya dengarkan setiap pagi hari. Hari ini, tepat dua tahun sudah aku hidup bersama pemilik baruku. Pasangan serasi yang romantis tapi gila. Gila dalam artian yang positif karena keduanya tak berhenti bercanda hingga sakit perut akibat terlalu banyak tertawa. Aku senang, aku turut tertawa, walaupun hanya aku yang bisa mendengar suaraku sendiri.

Hari-hari dalam kehidupan bersama mereka di warnai dengan berbagai cerita. Baik cerita indah maupun cerita sedih penuh amarah.

Aku teringat saat mereka pindah ke rumah barunya yang walaupun sederhana tapi sangat nyaman. Mereka begitu ceria saat mendekor rumah itu. Radhu, menginginkan warna merah dalam rumah itu, sementara Maya, mau kalau rumahnya di cat biru langit. Berdebat dan berdebat, mereka setuju untuk membagi warna rumah mereka sesuai keinginan.

Lalu saat mendengar bahwa Radhu di promosikan di pekerjaan utamanya, keduanya melewatkan malam dengan makan malam romantis di rumah sederhana mereka, dan hanya aku yang menjadi tamu-tak -diundang-yang-sudah-datang. Mereka berdua juga tak mempermasalahkan itu, karena keduanya sayang padaku. Radhu, sering dia meminjamku dari Maya dan membawaku kemanapun dia pergi. Dibalik kedinginan hatinya, dia adalah orang yang lembut tapi rapuh.

Tapi itu hanya segelintir cerita indah, selama aku tinggal bersama mereka, tak jarang terjadi adu mulut, pertengkaran, saling lempar dan banting. Aku, tubuhku pun tak jarang merasa kesakitan yang amat sangat. Beberapa luka juga sudah kumiliki, luka cacat yang mungkin tidak akan bisa sembuh. Tapi aku tidak marah, tidak bisa marah, dan tidak sanggup untuk marah.

Hingga pertengahan tahun ketiga, kehidupan mereka mendapat cobaan lagi. Maya menuntut Radhu meninggalkannya dengan alasan bahwa Radhu terlalu sibuk hingga melupakan kehadiran Maya. Radhu memohon maaf tapi Maya berlalu darinya. Sebelum meninggalkan rumah mereka, Maya mencabutku dan melemparkanku tepat ke wajah Radhu.

Radhu terdiam, lalu dengan tangan bergetar dia mengambilku dan berbisik pelan di telingaku.

 

“Ikutlah bersamaku kawan, hiburlah sakit hatiku ini,” katanya pelan.

 

Aku mengikutinya pergi. Dia membawaku ke sebuah tempat yang sangat indah. Gugusan gunung melingkar yang di dalamnya terdapat dua gunung berbeda warna dan bentuk dan di bawahnya terbentang lautan pasir yang sangat menantang untuk dijelajahi. Di belakang gugusan gunung tersebut tampak gunung tertinggi yang terus mengeluarkan asap, seakan berisyarat, dia bisa bangun kapan saja. Di sisi lain, di puncaknya yang tertinggi dari gugusan pegunungan ini, jika kita datang pada saat yang tepat, maka kita bisa melihat sebatas garis merah di langit yang akan terus naik ke atas dan memancarakan cahayanya yang hangat.

 

 

Bukan pertama kalinya aku dibawa kesini. Hampir setiap perjalanan aku selalu menemaninya. Tapi kali ini, suasana yang menyelimutinya sedang gelap. Radhu membawaku duduk di bukit dimana aku bisa memandang seluruh pemandangan memikat ini. Aku menyukainya, aku memujanya, aku bersyukur pada Pencipta Alam Semesta akan keindahan ini. Tapi Radhu tak berpikiran sama, wajahnya sedih.

PART 4

 

Dimana aku? Tempat ini begitu asing. Semuanya terang. Orang berpakaian serba putih baik laki-laki maupun perempuan berlalu lalang melihatku. Apa yang terjadi? Kenapa mereka begitu sibuk? Aku tak bisa mencerna semua ini, apa karena aku tak berotak? Atau karena bentukku tak serumit manusia? Yang kutahu adalah aku masih bersama pemilikku saat ini. Tapi ada apa dengan Radhu? Kenapa tubuhnya penuh luka? Kenapa dia terbaring tak berdaya?

Sekelebat peristiwa yang telah lalu muncul di hadapanku. Radhu yang berwajah sedih duduk bersila dan mengatakan sesuatu padaku.

 

“Katakan padaku kawan, apa yang harus kulakukan agar dia memaafkanku,” bisik Radhu.

 

“Mintalah maaf sekali lagi dari hatimu yang paling dalam, jangan diam,” sahutku.

 

“Dia tak menerima semua alasanku, aku tak tahu harus bagaimana,” bisik Radhu lagi.

 

“Kalau dia sayang pasti dia akan mengerti, kalian sudah bersama lama, hal ini tidak akan menghentikan apapun,” kataku.

 

“Haruskah aku melukai diriku agar dia percaya, atau… haruskah aku mati?” bisik Radhu lagi.

 

“Jangan bodoh Radhu, itu pikiran yang sempit!” sergahku.

 

“Kami memang terlalu muda, terlalu cepat mengambil keputusan, tapi tak ada gunanya menyesali hal itu kurasa,” bisik Radhu. “I want your love and I want your Revenge, you and me could write a Bad Romance, I want your love and now your love want’s Revenge, you and me could write a Bad Romance.”

Lalu Radhu berdiri. Senyumnya terkembang. Dengan mantap dia melangkahkan kakinya pergi. Aku tak bisa membaca apa yang dipikirkannya (lagi, karena keterbatasanku). Tapi aku tahu, Radhu akan menyelesaikan masalahnya. Dia harus menyelesaikannya. Dan semuanya terjadi begitu cepat. Radhu kehilangan kendali kendaraannya, jatuh ke dalam landaian jurang terjal, menabrak pohon terbesar, dan menggores ujung kulitku dengan kasar. Aku tak tahu sudah berapa lama hingga akhirnya aku disini, di dalam ruangan ini.

 

“Radhu, maafkan aku,” kudengar suara seseorang berbisik. Maya.

 

“Tolong lupakan kesalahannya Maya,” kataku.

 

“Maya… Maafkan salahku, aku tak bermaksud,” jawab Radhu dengan suara lemah. Walau matanya terpejam, dia masih mendengar.

 

“Ini semua karena keegoisanku, aku yang salah,” kata Maya. Dia menangis.

 

“Aku yang salah, aku tak pernah ada untukmu saat kau membutuhkanku,” sahut Radhu.

 

“Berhentilah saling menyalahkan, kalian semua tidak salah, hanya keadaan saja yang belum berpihak. Kembalilah seperti dulu,” ujarku.

 

Mereka berdua terdiam lama dan saling memandang. Lalu keduanya tersenyum dan kemudian tertawa. Mereka saling memegang tangan. Radhu dan Maya menatapku bersamaan. Sungguh malang nasibku. Bentukku sudah tak seindah dulu, warnaku juga sudah kelihatan usang. Walaupun aku dibuat dari material mahal tapi kedua orang ini menyiksaku, merusakku, melemparku kemana-mana, dengan diakhiri bahwa mereka selalu kebingungan mencariku saat aku memutuskan bersembunyi.

 

“Sayang, kurasa sudah waktunya kita membawa teman kita ini untuk di perbaiki,” kata Maya.

 

“Apa mungkin? Memang bisa?” tanya Radhu tak yakin.

 

“Aku percaya beliau sanggup, bagaimanapun, dia lahir dari tangan beliau,” kata Maya ceria.

 

“Kita coba saja ya,” kata Radhu penuh sayang. “Sekarang, maukah kau menyanyi bersamaku?”

 

“Tentu saja, lagu favorit kita bukan?” kata Maya.

 

Dan mereka berdua menyanyikannya. Lagu itu, lagu yang selalu mereka dendangkan kapanpun. Lagu yang juga mulai kusukai. Kadang kupikir betapa hebat penciptanya, lagu ini tak lekang oleh waktu. Lagu ini terus didengar dan diingat oleh keduanya.

Tiga minggu kemudian, dengan kondisinya yang sudah mulai pulih, ditemani Maya, Radhu membawaku ke tempat dimana aku dilahirkan. Aku rindu pada pembuatku, sebagaimana aku senang melihatnya saat beliau menyambut kami dari pintu rumahnya. Radhu menyerahkanku padanya. Beliau menatap dengan sedih tentang kondisiku, tapi berjanji akan mengembalikanku dalam kondisi yang lebih baik. Dan aku menjalani semuanya. Pembuatku dengan sepenuh hati mengobati semua lukaku, membuatku seperti baru lagi.

Ternyata pembuatku membuat kejutan. Sesosok yang mirip diriku dibuatnya. “Radhu” tulisan yang terdapat pada detail akhir. Beliau memberikan pasangan padaku. Aku senang sekali karena aku punya pendamping. Dan pada hari yang dijanjikan akhirnya Radhu dan Maya menjemputku. Mereka terkejut sekaligus senang karena mendapatkanku lagi, nilai lebih karena sekarang ada dua.

 

“Ini saya berikan sekalian karena yang dulu saya belum menemukan bahan yang sama,” kata pembuatku.

 

“Bapak, kami tak tahu bagaimana kami bisa berterima kasih,” kata Maya.

 

“Cuma satu saja yang saya minta,” kata pembuatku. “Jaga dan rawat kedua Cincin ini sebagai bagian dari diri kalian, karena mereka  yang meyatukan kalian. Mereka adalah pengingat kalau kalian terikat pada sebuah hubungan. Mereka adalah cerminan kehidupan bersama kalian, jadi, rawatlah baik-baik.”

 

“Kami berjanji pak,” kata Radhu dan Maya bersamaan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers